Kota Sawahlunto: Perbedaan revisi

14 bita dihapus ,  9 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Untuk memudahkan pengangkutan batu bara keluar dari kota Sawahlunto menuju [[kota Padang]], pemerintah Hindia-Belanda membangun jalur [[kereta api]] dengan biaya 17 juta [[Gulden]]. Sebelumnya pada tahun [[1888]], jalur kereta api beroperasi hanya sampai ke Muara Kalaban dan kemudian baru mencapai kota Sawahlunto pada tahun [[1894]].
 
Pada tahun [[1918]], kota Sawahlunto telah dikategorikan sebagai ''Gemeentelijk Ressort'' atau ''Gemeente'' dengan luas wilayah 778 Ha atas keberhasilan kegiatan pertambangannya. Adanya angkutan [[kereta api]] juga mendorong produksi pertambangan batu bara, dimana pada tahun [[1920]] produksi batu bara dari hanya puluhan ribu ton menjadi ratusan ribu ton per tahun. Sehingga sampai pada tahun [[1930]], kota ini telah berpenduduk sebanyak 43.576 jiwa, di antaranya 564 jiwa adalah orang [[Belanda]] ([[Eropa]]).
 
== Geografi ==
== Perekonomian ==
[[File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Een ingang van de Ombilin steenkoolmijnen TMnr 20018524.jpg|thumb|right|150px|Salah satu pintu masuk menuju lubang [[Pertambangan|tambang]] [[batu bara]] di kota Sawahlunto pada tahun [[1971]]]]
Berdasarkan data dari [[Badan Pusat Statistik]], Sawahlunto merupakan [[Kota (wilayah administratif)|kota]] dengan angka kemiskinan kedua terendah di [[Indonesia]], setelah [[kota Denpasar]], [[Bali]]. Sawahlunto termasuk [[Kota (wilayah administratif)|kota]] dengan pendapatan per kapita kedua tertinggi di [[Sumatera Barat]],<ref>{{cite book|last=Sjafrizal|first=|title=Ekonomi Regional|publisher=Niaga Swadaya|id=ISBN 978-979-17475-2-3}}</ref> dimana mata pencarian penduduk sebagian besar ditopang oleh sektor [[pertambangan]] dan jasa. Selain itu, sektor lain seperti [[pertanian]] dan [[peternakan]] juga masih diminati masyarakat. Bahkan beberapa kawasan sedang dikembangkan untuk menjadi daerah sentral industri kerajinan dan makanan kecil.
 
Selama seratus tahun lebih, [[batu bara]] telah dieksploitasi mencapai sekitar 30 juta ton, dan masih tersisa cadangan lebih dari 100 juta ton. Namun masa depan penambangan batu bara di kota Sawahlunto masih belum jelas, sebab cadangan yang tersisa hanya bisa dieksploitasi sebagai tambang dalam. Sedangkan dapat tidaknya eksploitasi tersebut sangat bergantung kepada penguasaan [[teknologi]] dan permintaan pasar. Selain itu, penyelenggaraan pertambangan batu bara juga sedang mengalami reorientsi oleh berkembangnya semangat [[desentralisasi]] atau tuntuntan [[otonomi daerah]] yang membangkitkan keinginan masyarakat setempat untuk melakukan penambangan sendiri.
 
== Perhubungan ==
[[Berkas:KA Padang Panjang (train).jpg|thumb|190px220px|left|[[Kereta api]] wisata Padang Panjang–Sawahlunto yang tengah melintasi [[Danau Singkarak]]]]
[[Berkas:Pusat Kebudayaan Sawahlunto.jpg|thumb|left|190px220px|[[Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto]]]]
 
Penemuan cadangan [[batu bara]] di kota Sawahlunto telah mendorong pemerintah [[Hindia Belanda]] membangun jalur [[kereta api]] menuju [[kota Padang]] dalam mendistribusikan batu bara. Pembangunan ini dimulai pada tahun [[1889]] dan selesai pada tahun [[1896]].<ref>{{cite book|last=Colombijn|first=Freek|title=Paco-Paco (Kota) Padang|pages=65}}</ref> Jalur kereta api ini selain menghubungkan kota Padang dengan kota Sawahlunto, juga mencapai kota-kota lain seperti [[kota Solok]], [[kota Pariaman]], [[kota Bukittinggi]], [[kota Padang Panjang]], dan [[kota Payakumbuh]]. Namun akibat menurunnya produksi batu bara sejak tahun [[2000]], aktivitas pengangkutan [[batu bara]] dengan [[kereta api]] berhenti total.
Kejayaan tambang [[batu bara]] di kota Sawahlunto masih tersisa dalam sejumlah bangunan lain seperti Silo. Silo berfungsi sebagai penimbun [[batu bara]] yang telah dibersihkan dan siap diangkut ke [[pelabuhan Teluk Bayur]]. Silo masih berdiri kokoh di tengah kota, kendati tidak berfungsi apa-apa. Selain itu, sirene pada Silo masih berbunyi setiap pukul 07.00, 13.00, dan 16.00 waktu setempat, dimana pada masa pemerintahan [[Hindia Belanda]], sirene di Silo ini menandakan jam kerja ''Orang Rantai'' atau narapidana yang dijadikan kuli pengambil [[batu bara]].<ref>www.kompas.com [http://nasional.kompas.com/read/2009/01/04/08023925/sawahlunto.kota.arang.yang.terjaga Sawahlunto, Kota Arang yang Terjaga]. Diakses pada 29 Januari 2012.</ref>
 
[[Berkas:Silo-sawahlunto.jpg|thumb|right|200px220px|Silo]]
[[Objek wisata]] unggulan yang ada di kota ini adalah atraksi wisata tambang, dimana pengunjung dapat melakukan napak tilas pada areal bekas penambangan yang dibangun pada masa pemerintahan [[Hindia Belanda]]. Objek wisata ini dinamai [[Lubang Suro]] yang diambil dari nama seorang mandor pekerja paksa, ''Mbah Suro''. Tidak jauh dari objek wisata Lubang Suro, didirikan ''Gedung Info Box'' yang menyediakan berbagai informasi dan dokumentasi tentang sejarah [[pertambangan]] [[batu bara]] di kota Sawahlunto.<ref>www.sawahlunto.go.id [http://www.sawahlunto.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=52&Itemid=129 Orang Rantai dari Tambang Batubara Sawahlunto]. Diakses pada 29 Juni 2010.</ref>
 
Kota ini juga memiliki [[objek wisata]] lain seperti [[kebun binatang]] yang memiliki luas sekitar 40 hektare<ref>www.sawahlunto.go.id [http://www.sawahlunto.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=84&Itemid=142 Kebun Binatang]. Diakses pada 11 Juli 2010.</ref> dan ''Resort Wisata Kandi'' dengan luas 393,4 hektare. Ada 3 [[danau]] yang terbentuk dari bekas galian penambangan [[batu bara]] di ''Resort Wisata Kandi'', yaitu Danau Kandi, Danau Tanah Hitam, dan Danau Tandikek. Selain itu, juga terdapat wahana rekreasi keluarga yang dikenal dengan nama ''Waterboom Sawahlunto''.<ref>www.kompas.com [http://travel.kompas.com/read/2011/06/11/17084247/Sawahlunto.Akan.Bangun.Skylift Sawahlunto Akan Bangun "Skylift"]. Diakses pada 29 Januari 2012.</ref>
Pengguna anonim