Buka menu utama

Perubahan

371 bita dihapus ,  7 tahun yang lalu
 
== Sejarah ==
Nama "China Benteng" berasal dari kata "Benteng", nama lama kota Tangerang. Saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di kota Tangerang di pinggir sungai [[Cisadane]], difungsikan sebagai post pengamanan mencegah serangan dari Kesultanan Banten, benteng ini adalah salah satu benteng terpenting Belanda dan merupakan Benteng terdepan pertahanan Belanda di pulau Jawa. Masyarakat Cina Benteng telah beberapa generasi tinggal di Tangerang yang kini telah berkembang menjadi tiga kota/kabupaten yaitu, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.
 
Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), keberadaan komunitas China di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 NI. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Cina yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.
 
Namun, pada 1740 terjadi kerusuhan yang berbuntut pembantaian orang Tionghoa di Batavia. Tidak kurang 10 ribu orang Tionghoa dibantai dalam peristiwa kekerasan yang dikenal dengan Tragedi Berdarah Angke pada 9 Oktober 1740 itu. Kerusuhan itu disebabkan karena Gubernur Jenderal Valkenier menangkap orang Tionghoa untuk dijadikan pekerja di perkebunan-perkebunan VOC di luar Batavia. Dari mereka yang selamat, ada yang lari dan menetap di kawasan Benteng, Tangerang.
 
Warga Cina Benteng sempat terusirbersitegang olehdengan penduduk pribumi setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pada 23 Juni 1946, rumah-rumah etnis Tionghoa di Tangerang diobrak-abrik. KemarahanPenduduk pendudukyang pribumididukung dipicuoleh seorangkaum tentaraRepublik NICAmenjarah dari etnis Tionghoa menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda.Rosihan Anwar dalam harian Merdeka 13 Juni 1946 menulis pada saat itu hubunganrumah-rumah warga China Benteng dan pribumi mengalami kemunduran paling ekstrem. PribumiBahkan menuduhmeja Chinaabu, berpihakyang kemerupakan Belanda.bagian Terlebihdari setelahritual Pohpenghormatan Anleluhur Tuytionghoa, kelompokikut pemuda China Benteng pro-NICA, mengirim pasukan bersenjata dan mengungsikan masyarakat China Benteng yang selamat ke Bataviadicuri. Namun akhirnya kerusuhan pro-kemerdekaan itu berhasil diredam oleh koalisi antara tentara Poh An Thuy and tentara Kolonial Belanda.
Kemarahan penduduk pribumi dipicu seorang tentara NICA dari etnis Tionghoa menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda. Rosihan Anwar dalam harian Merdeka 13 Juni 1946 menulis pada saat itu hubungan warga China Benteng dan pribumi mengalami kemunduran paling ekstrem. Terlebih setelah Poh An Tuy, kelompok pemuda China Benteng pro-NICA, mengirim pasukan bersenjata dan mengungsikan masyarakat China Benteng yang selamat ke Batavia. Namun akhirnya kerusuhan pro-kemerdekaan itu berhasil diredam oleh koalisi antara tentara Poh An Thuy and tentara Kolonial Belanda.
 
Saat itu, semua etnis China Benteng nyaris terusir, dan ketika kembali, mereka tidak lagi mendapatkan tanah mereka dalam keadaan utuh. Tanah-tanah para tuan tanah diserobot pribumi. Atau, mereka mendapati rumah-rumah, yang mereka tinggalkan telah rata dengan tanah. Kini mereka kembali terancam kehilangan rumah mereka karena ambisi pemerintah kota. Kampung itu terletak di DAS Ciliwung, dan memang melanggar peraturan daerah. Namun, mereka telah ada di situ sebelum peraturan daerah itu dibuat.
Pengguna anonim