Pembela Tanah Air: Perbedaan revisi

1.882 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
menambah info
(menambah info)
{{kegunaanlain|Peta}}
{{Infobox Military Unit
|unit_name= Pembela Tanah Air
|image= [[Berkas:Bender_ PETA.png|120px]]
|caption= Bendera yang digunakan batalion PETA
|dates= [[3 Oktober]] [[1943]] - [[15 Agustus]] [[1945]]
|country= {{negara|Indonesia}} [[Indonesia]] (Pra-kemerdekaan)
|allegiance= [[Berkas:War flag of the Imperial Japanese Army.svg|25px]] [[Angkatan Darat Kekaisaran Jepang]]
|branch=
|type=[[Infanteri]]
|role=Membela [[Indonesia]] dari serangan [[Blok Sekutu]]
|size=66 Batalion di [[Jawa]]<br>3 Batalion di [[Bali]]<br>Sekitar 20,000 personil di [[Sumatera]]
|command_structure=
|current_commander=
|garrison=[[Bogor]], [[Jawa]]
|ceremonial_chief=
|colonel_of_the_regiment=
|nickname=PETA<br>''Kyōdo Bōei Giyûgun''
|patron=[[Berkas:War flag of the Imperial Japanese Army.svg|25px]] [[Angkatan Darat Kekaisaran Jepang]]
|motto= "''Indonesia Akan Merdeka''"
|colors= [[Ungu]], [[Hijau]], [[Merah]] & [[Putih]] {{color box|#6B3FA0}}{{color box|#004123}}{{color box|#FF0000}}{{color box|#FFFFFF}}
|colors_label= Colors
|identification_symbol=
|march=
|mascot=
|battles=
|Commanders=
|notable_commanders=
|anniversaries=[[3 Oktober]]
|decorations=
|battle_honours=
}}
 
[[Berkas:Peta_ri.jpg|right|thumb|Tentara PETA sedang latihan di Bogor pada tahun 1944]]
'''Sukarela Tentara Sukarela Pembela Tanah Air''' disingkat {{nihongo|'''PETA'''|郷土防衛義勇軍|kyōdo bōei giyûgun}} adalah kesatuan militer yang dibentuk [[Jepang]] dalam masa pendudukan Jepang di [[Indonesia]]. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal [[3 Oktober]] [[1943]] berdasarkan maklumat ''Osamu Seirei No 44'' yang diumumkan oleh Panglima Tentara KeenambelasKe-16, [[Letnan Jendral]] [[Kumakichi Harada]] sebagai [[Tentara Sukarela]]. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer [[Bogor]] yang diberi nama Jawa [[Gyu Gun|Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai]].
 
==Latar belakang==
Pembentukan Peta dianggap berawal dari surat [[Gatot Mangkupradja|Raden Gatot Mangkupradja]] kepada ''Gunseikan'' (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan Peta berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri.Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran "Asia Raya" pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama:
Pembentukan PETA dianggap berawal dari surat [[Gatot Mangkupradja|Raden Gatot Mangkupradja]] kepada ''[[Gunseikan]]'' (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Pada pembentukannya, banyak anggota ''[[Seinen Dojo]]'' yang kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri. Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran "Asia Raya" pada tanggal [[13 September]] [[1943]], yakni adanya usulan sepuluh ulama: K.H. [[Mas Mansyur]], KH. Adnan, Dr. [[Abdul Karim Amrullah]] (HAMKA), Guru H. [[Mansur]], Guru H. [[Cholid]]. K.H. [[Abdul Madjid]], Guru H. [[Jacob]], K.H. [[Djunaedi]], [[U. Mochtar]] dan H. [[Mohammad Sadri]], yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa <ref>Mansur Suryanegara: Pemberontakan Tentara PETA di Cileunca Pangalengan Bandung Selatan:1996</ref>. Hal ini menunjukkan telah adanya peran golongan agama dalam rangka pembentukan cikal bakal [[TNI]] ini. Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang berupa [[matahari terbit]] (lambang [[kekaisaran Jepang]]) dan lambang bulan sabit dan bintang yang merupakan simbol kepercayaan Islam.
K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Moh. Sadri,
yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa(Mansur Suryanegara: Pemberontakan Tentara PETA di Cileunca Pangalengan Bandung Selatan:1996). Dengan demikian, nampaklah peranan umat Islam Indonesia dalam rangka pembentukan cikal bakal TNI ini. Tujuan mereka bukan untuk menjadi sekedar antek Jepang, melainkan menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama, yakni ruhul jihad. Perhatikan panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang imperium Jepang) dan lambang bulan sabit yang merupakan simbol khilafah Islam di dunia.
Pada tanggal [[14 Februari]] [[1945]], pasukan Peta di Blitar di bawah pimpinan [[Supriadi]] melakukan pemberontakan yang dikenal dengan nama "Pemberontakan Peta Blitar". Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan Peta sendiri maupun [[Heiho]]. Pimpinan pasukan pemberontak, Supriadi, hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh KENPEITAI (PM), diadili dan dihukum mati di pantai Ancol pada tanggal 16 Mei 1945.
 
==Pemberontakan batalion PETA di Blitar==
Tanggal [[18 Agustus]] [[1945]], sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Jepang mengeluarkan perintah untuk membubarkan kesatuan-kesatuan Peta. Sehari kemudian, panglima terakhir Tentara Keenambelas di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro, mengucapkan pidato perpisahan.
{{utama|Pemberontakan PETA Blitar}}
Pada tanggal [[14 Februari]] [[1945]], pasukan PetaPETA di [[Blitar]] di bawah pimpinan [[Supriadi]] melakukan pemberontakan yang dikenal dengan nama "[[Pemberontakan PetaPETA Blitar]]". Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PetaPETA sendiri maupun [[Heiho]]. Pimpinan pasukan pemberontak, Supriadi, hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh KENPEITAI (PM), diadili dan dihukum mati di pantai Ancol pada tanggal 16 Mei 1945.
 
== Pembubaran PETA ==
Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam perjuangan melawan penjajahan Jepang demikian besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden [[Soeharto]] dan Jendral Besar [[Soedirman]]. Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan [[Tentara Nasional Indonesia]] (TNI) sejak Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI. Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor.
Tanggal [[18 Agustus]] [[1945]], sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Jepang mengeluarkan perintah untuk membubarkan kesatuan-kesatuan PetaPETA. Sehari kemudian, panglima terakhir Tentara KeenambelasKe-16 di Jawa, Letnan Jendral [[Nagano Yuichiro]], mengucapkan pidato perpisahan.
 
==Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia ==
[[File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Indonesische jongens tijdens hun soldatentraining door de Japanners TMnr 10001989.jpg|thumb|right|Pemuda Indonesia dalam pelatihan di ''[[Seinen Dojo]]'' yang kemudian menjadi anggota ''PETA'']]
Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam perjuangan melawan penjajahan Jepang demikian besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden [[Soeharto]] dan Jendral Besar [[Soedirman]]. Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan [[Tentara Nasional Indonesia]] (TNI) sejak Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI. Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal [[18 Desember]] [[1995]] diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor.
 
== Rujukan ==
* Ensiklopedia Nasional Indonesia (ed. 1989)
 
== Referensi ==
{{reflist}}
 
[[Kategori:Sejarah Indonesia]]
[[Kategori:Pendudukan Jepang di Indonesia]]
 
[[en:PETA (Indonesia)]]
7.548

suntingan