Gereja Katolik di Indonesia: Perbedaan revisi

305 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
k
Kardinal pertama di Indonesia adalah [[Justinus Kardinal Darmojuwono]] diangkat pada tanggal [[29 Juni]] [[1967]]. Gereja Katolik Indonesia aktif dalam kehidupan Gereja Katolik dunia.
 
=== Era KudetaOrde Baru ===
Banyak korban jiwa pada masa epilog pasca pemberontakan yang gagal dari [[Partai Komunis Indonesia]] pada 1965. Gereja Katolik dengan kerja keras berusaha mengerem kekejaman yang terjadi di mana-mana. Dengan semangat kasih ditegaskan bahwa yang hasrus dimusi adalah ideologi yang jahat, bukan orangnya. Sambil mengobati luka-luka batin umat Katolik didorong untuk ikut aktif dalam proses pembangunan negara dari situasi yang porak poranda. Kegagalan panen di mana-mana menyebabkan wabah kelaparan dan penyakit berjangkit. Gereja mengulurkan tangan dengan membagikan sumbangan pangan dan obat-obatan dari sesama umat Katolik luar negeri. Inflasi yang melejit tinggi nyaris melumpuhkan perekonomian. Gereja ikut serta mengembangkan koperasi dan menggalakkan semangat menabung.
Pada tahun 1965 setelah peristiwa [[G 30 S]] oleh [[Partai Komunis Indonesia]], pembersihan dilakukan antara komunis Indonesia dan yang diduga komunis, terutama di Jawa dan Bali. Ratusan ribu dan mungkin jutaan warga sipil tewas dalam kekacauan berikutnya oleh tentara dan warga.<ref>Di Jawa Tengah pembunuhan massal dilakukan oleh banyak tentara sementara di Jawa Timur pembunuhan massal juga dilakukan oleh orang asing. Robert Cribb (2000:170).</ref> Komunisme dikaitkan dengan ateisme dan sejak itu setiap warga negara Indonesia diharapkan untuk mengadopsi salah satu dari lima agama resmi yang didukung oleh negara.<ref name="Heuken-107">Adolf Heuken (2005:107)</ref>
 
Ungkapan kasih dan perhatian umat Katolik itu mendapat tanggapan positif dari rakyat kebanyakan. Banyak orang belajar agama Katolik dan memberikan diri dibaptis. Jumlah umat menjadi berlipat ganda.
 
Gereja Katolik serta agama-agama lain mengalami pertumbuhan yang sangat besar terutama di daerah yang dihuni oleh sejumlah besar suku Tionghoa dan etnis Jawa. Sebagai contoh pada tahun 2000 di Jakarta saja, ada 301.084 umat Katolik ketika tahun 1960, hanya ada 26.955. Ini merupakan peningkatan 11 faktor sementara seluruh penduduk hampir tiga kali lipat dari 2.800.000 ke 8.347.000.<ref name="Heuken-107"/>
251

suntingan