Gereja Katolik di Indonesia: Perbedaan revisi

638 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
k
Seminari Tinggi Yogyakarta didirikan pada tahun 1939. [[Albertus Soegijapranata]] menjadi [[Vikaris Apostolik]] (Uskup di tanah misi) Indonesia yang pertama, ditahbiskan pada tahun [[1940]] untuk [[Vikariat Apostolik]] [[Semarang]].
 
Pada tahun 1942 Jepang menyerbu dan menguasai Indonesia sampai tahun 1945. Tenaga imam, burder, suster yang berkebangsaan Belanda ditangkap dan ditahan. Gereja dilayani oleh tenaga-tenaga pribumi yang jumlahnya sangat terbatas. Gereja Katolik tetap bertahan sebagai Gereja dalam diaspora.
Tanggal [[20 Desember]] [[1948]] [[Romo Sandjaja]] terbunuh bersama Frater Hermanus Bouwens, SJ di dusun Kembaran dekat Muntilan, ketika penyerangan pasukan Belanda ke Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta dalam [[Agresi Militer Belanda II]]. [[Romo]] Sandjaja dikenal sebagai martir pribumi dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.
 
Mgr. Soegijapranata [[(Semarang)]] bersama Uskup Willekens SJ [[(Jakarta)]] menghadap penguasa pendudukan pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus Jakarta dapat berjalan terus.
 
Banyak di antara pahlawan-pahlawan nasional yang beragama Katolik, seperti [[Adisucipto, Agustinus]] (1947), dan [[Slamet Riyadi|Ignatius Slamet Riyadi]] (1945).
 
Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tak lama setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Hal itu tidak disetujui Belanda yang berusaha keras untuk kembali menguasai bumi Nusantara. Terjadilah konflik mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda (dan Sekutu). Para misionaris berkebangsaan Belanda dibebaskan dan boleh bekerja kembali.
 
Tanggal [[20 Desember]] [[1948]] [[Romo Sandjaja]] terbunuh bersama Frater Hermanus Bouwens, SJ di dusun Kembaran dekat Muntilan, ketika penyerangan pasukan Belanda ke Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta dalam [[Agresi Militer Belanda II]]. [[Romo]] Sandjaja dikenal sebagai martir pribumi dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.
 
=== Era Kemerdekaan ===
251

suntingan