Orang bunian: Perbedaan revisi

4 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-terkadang +kadang-kadang)
k (Bot: perubahan kosmetika)
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-terkadang +kadang-kadang))
 
== Latar belakang ==
Istilah ini dikenal di wilayah Istilah [[orang bunian]] juga terkadangkadang-kadang dikaitkan dengan istilah [[dewa]] di Minangkabau, pengertian "[[dewa]]" dalam hal ini sedikit berbeda dengan pengertian dewa dalam ajaran [[Hindu]] maupun [[Buddha]]. "Dewa" dalam istilah [[Minangkabau]] berarti sebangsa makhluk halus yang tinggal di wilayah [[hutan]], di [[rimba]], di pinggir [[bukit]], atau di dekat [[kuburan|pekuburan]]. Biasanya bila hari menjelang [[matahari terbenam]] di pinggir bukit akan tercium sebuah aroma yang biasa dikenal dengan nama "[[masakan]] [[dewa]]" atau "[[samba]] dewa". Aroma tersebut mirip bau [[kentang]] [[goreng]]. Hal ini dapat berbeda-beda namun mirip, berdasarkan kepercayaan lokal masyarakat Minangkabau di daerah berbeda. "Dewa" dalam kepercayaan Minangkabau lebih diasosiasikan sebagai ber[[gender]] [[perempuan]], yang [[cantik]] rupawan, bukan [[laki-laki]] seperti persepsi yang umum di kepercayaan lain.
 
Selain itu, masyarakat Minangkabau juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang disembunyikan dewa / orang bunian. Ada juga istilah "orang dipelihara dewa", yang saat [[bayi]] telah dilarikan oleh dewa. Mitos ini masih dipercaya banyak masyarakat Minangkabau sampai sekarang.
692.563

suntingan