Irigasi: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
SATELITBM (bicara | kontrib)
k Menambah foto
Kudanilarilari (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
Baris 8:
{{pindah ke|Irigasi di Indonesia}}
=== Irigasi Mesir Kuno dan Tradisional Nusantara ===
Sejak [[Mesir Kuno]] telah dikenal dengan memanfaatkan [[Sungai Nil]]. Di Indonesia, irigasi tradisional telah juga berlangsung sejak nenek moyang kita. Hal ini dapat dilihat juga cara bercocok tanam pada masa kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Dengan membendung kali secara bergantian untuk dialirkan ke sawah. Cara lain adalah mencari sumber air pegunungan dan dialirkan dengan bambu yang bersambung. Ada juga dengan membawa dengan ember yang terbuat dari daun pinang atau menimba dari kali yang dilemparkan ke sawah dengan ember daun pinang juga.
 
=== Sistem Irigasi Zaman Hindia Belanda ===
Sistem irigasi adalah salah satu upaya Belanda dalam melaksanakan Tanam Paksa ([[Cultuurstelsel]]) pada tahun [[1830]]. Pemerintah [[Hindia Belanda]] dalam [[Tanam Paksa]] tersebut mengupayakan agar semua lahan yang dicetak untuk persawahan maupun perkebunan harus menghasilkan panen yang optimal dalam mengeksplotasi tanah jajahannya.
 
Sistem irigasi yang dulu telah mengenal ''saluran primer, sekunder, ataupun tersier''. Tetapi sumber air belum memakai sistem Waduk Serbaguna seperti TVA di [[Amerika Serikat]]. Air dalam irigasi lama disalurkan dari sumber kali yang disusun dalam sistem irigasi terpadu, untuk memenuhi pengairan persawahan, di mana para petani diharuskan membayar uang iuran sewa pemakaian air untuk sawahnya.
 
=== Waduk Jatiluhur 1955 di Jawa Barat dan Pengalaman TVA 1933 di Amerika Serikat ===
Baris 26:
=== Irigasi Permukaan ===
 
Irigasi Permukaan adalah pengaliran air di atas permukaan dengan ketinggian air sekitar 10 – 1510–15&nbsp;cm di atas permukaan tanah. Irigasi permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung di sungai melalui bangunan [[bendung]] maupun melalui bangunan pengambilan bebas (''free intake'') kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran primer, sekunder, dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan dengan pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan mendapat air lebih dulu.<gallery>
Berkas:Saluran Irigasi Kaligending Karang Sambung Kab.Kebumen.jpg|alt=Saluran Irigasi Primer|Saluran Irigasi Primer
</gallery>[[Berkas:Irigasi primer bila.JPG|jmpl|ka|Saluran primer sistem irigasi Bendung Bila, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan]]
Baris 74:
Pada setiap pemilik sawah terdapat tempat pembukaan air irigasi tersebut. Pembagian air ini bergilir berselang sehari, yang berarti sehari keluar, sehari tutup. Penggunaannya sesuai dengan kebutuhan sawah setempat yang dapat diatur menggunakan tuas yang dapat dibuka tutup secara manual.
Dari pintu pengeluaran air tersebut dialirkan ke sawahnya melalui pipa yang berada di bawah permukaan sawahnya. Kalau di tanah air kita pada umumnya air dialirkan melalui permukaan sawah.
Sedangkan untuk mengatur ketinggian air dilakukan dengan cara menaikanmenaikkan dan menurunkan penutup pintu pembuangan air secara manual.
Pembuangan air dari sawah masuk saluran irigasi yang terbuat dari beton sehingga air dengan mudah kembali ke sungai kecil, tanpa merembes terbuang ke bawah tanah. Pencegahan perembesan air dilakukan dengan sangat efisien.