Globalisasi: Perbedaan revisi

1 bita dihapus ,  10 bulan yang lalu
(Rescuing 36 sources and tagging 1 as dead.) #IABot (v2.0.8)
==== Budaya ====
{{Main|Globalisasi budaya}}
 
[[Globalisasi budaya]] telah meningkatkan kontak lintas budaya namun diiringi dengan berkurangnya keunikan komunitas yang dulunya terisolasi. Misalnya, [[sushi]] dapat ditemukan di Jerman dan Jepang, tetapi di sisi lain popularitas Euro-Disney melampaui popularitas kota Paris sehingga bisa saja mengurangi permintaan roti Prancis yang autentik.<ref>{{cite journal|url=http://www.cato.org/pubs/policy_report/v25n3/globalization.pdf |title=Globalization and Culture |last1=Cowen |first1=Tyler |last2=Barber |first2=Benjamin |journal=Cato Policy Report |date=May–June 2003 |accessdate=November 2011|ref=harv}}</ref><ref>Nadeem, S (2009) [http://nadeem.commons.gc.cuny.edu/files/2010/04/CS_Nadeem.pdf Macaulay's (Cyber) Children: The Cultural Politics of Outsourcing in India]. Cultural Sociology</ref><ref>Hacker, Violaine (2011), "Building Medias Industry while promoting a community of values in the globalization: from quixotic choices to pragmatic boon for EU Citizens", Politické Védy-Journal of Political Science, Slowakia</ref> Kontribusi globalisasi pada pengasingan seseorang dari tradisinya masih tergolong rendah daripada dampak modernitas itu sendiri seperti yang dikatakan [[eksistensialis]] [[Jean-Paul Sartre]] dan [[Albert Camus]]. Globalisasi telah memperluas kesempatan memperoleh rekreasi melalui penyebaran budaya pop lewat Internet dan televisi satelit.
 
[[Berkas:Coca-Cola does Chinese New Year.jpg|jmpl|250px|ka|Gerai [[Coca-Cola]] di luar pusat perbelanjaan [[Grand Gateway Shanghai|Grand Gateway 66]] di [[Xujiahui]], [[Shanghai]]]]
 
Musik juga tersebar keluar dari dunia Barat. Musik pop Anglo-Amerika menyebar ke seluruh dunia melalui [[MTV]]. Teori dependensi menjelaskan bawhabahwa dunia adalah sistem internasional yang terpadu. Dari sudut pandang musik, ini berarti kehilangan identitas musik daerah.<ref>Wallerstein, Immanuel. 2004. World-Systems Analysis. An Introduction. London: Duke University Press, pp. 23–59.</ref>
 
Bourdieu mengatakan bahwa persepsi konsumsi bisa dipandang sebagai identifikasi diri dan pembentukan identitas. Dari sisi musik, ini artinya setiap manusia memiliki identitas musiknya sendiri berdasarkan kesukaan dan selera. Kesukaan dan selera ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan karena kebudayaan adalah fakto paling mendasar yang membentuk keinginan dan perilaku seseorang. Konsep kebudayaan lokal sekarang berubah akibat globalisasi. Selain itu, globalisasi turut meningkatkan interdependensi faktor pribadi, politik, budaya, dan ekonomi.<ref>Beard, David and Keneth Gloag. 2005. Musicology: The Key Concepts. London and New York: Routledge.</ref>