Badan Nasional Penanggulangan Bencana: Perbedaan revisi

Rescuing 1 sources and tagging 0 as dead.) #IABot (v2.0.8
(Rescuing 1 sources and tagging 0 as dead.) #IABot (v2.0.8)
(Rescuing 1 sources and tagging 0 as dead.) #IABot (v2.0.8)
Tragedi gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya pada tahun 2004 telah mendorong perhatian serius Pemerintah Indonesia dan dunia internasional dalam manajemen penanggulangan bencana. Menindaklanjuti situasi saat iu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas PB). Badan ini memiliki fungsi koordinasi yang didukung oleh pelaksana harian sebagai unsur pelaksana penanggulanagn bencana. Sejalan dengan itu, pendekatan paradigma pengurangan resiko bencana menjadi perhatian utama.
 
Dalam merespon sistem penanggulangan bencana saat itu, Pemerintah Indonesia sangat serius membangun legalisasi, lembaga, maupun budgeting. Setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB terdiri atas kepala, unsur pengarah penanggulangan bencana, dan unsur pelaksana penanggulangan bencana. BNPB memiliki fungsi pengkoordinasian pelaksanaan kegiataan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh.<ref>[https://bnpb.go.id//home/Sejarah {{Webarchive|url=https://web.archive.org/web/20200303101150/https://bnpb.go.id//home/sejarah |date=2020-03-03 }}</ref>
[https://bnpb.go.id//home/Sejarah</ref>
 
== Tugas dan fungsi ==