Front Persatuan Pertama: Perbedaan antara revisi

34 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
(rev)
kTidak ada ringkasan suntingan
 
Ketika [[Era Panglima Perang|era panglima perang]], [[Sun Yat-sen]] tetap bermimpi akan adanya republik Tiongkok yang bersatu. Tujuan akhir Sun adalah mendirikan pemerintahan tandingan di [[Guangzhou]], Tiongkok selatan, serta melancarkan pemberontakan dari situ ke Tiongkok utara di [[Beiyang]]. Ketika kembali dari pembuangan pada tahun 1917, Sun mendirikan kembali partai nasionalisnya yang dilarang, Partai Kuomintang, tapi kini dengan nama baru, yaitu Partai Kuomintang Tiongkok. Rencananya adalah bahwa setelah para panglima perang dikalahkan, partai ini akan mengantar Tiongkok hingga ambang demokrasi. Namun begitu, pemerintahan tandingan yang didirikan Sun ini tidak sebanding kekuatan militernya dengan pemerintahan panglima perang. Meskipun sudah berkali-kali meminta bantuan dari Barat, dukungan militer dan finansial tidak pernah datang. Pada tahun 1920, Kuomintang pada akhirnya mendapatkan dukungan dari sumber yang tidak terduga, yaitu para [[Bolshevik]] di Rusia. Dukungan materi dari Rusia cukup membantu bagi Sun. Ia sebelumnya juga menunjukkan fleksibilitas mengenai konsep republiknya. Ia tidak pernah simpatik terhadap konsep [[Marxisme]], dan tidak menganggap komunisme sebagai jawaban berbagai permasalahan di Tiongkok. Menurut Sun, Tiongkok bukanlah negara orang kaya dan miskin, melainkan negara orang miskin dan yang lebih miskin. Prinsip Kuomintang bergantung pada "[[Tiga Prinsip Rakyat]]" (三民主义) yang ia konsepkan sendiri: [[nasionalisme]], [[demokrasi]], serta penghidupan masyarakat ([[sosialisme]]).
 
Di bawah panduan Rusia, Kuomintang pada akhirnya menjadi partai yang kuat serta disiplin. Faktor penentunya adalah bantuan Bolshevik kepada Kuomintang ketika membentuk tentaranya sendiri, yaitu Tentara Revolusioner Nasional. [[Akademi Militer Republik Tiongkok|Akademi Militer Whampoa]] pun didirikan di dekat Guangzhou. Sun Yat-sen menentukan pendukungnya yang setia, Chiang Kai-shek, sebagai pimpinan akademi baru ini. Secara finansial, Akademi Militer Whampoa beroperasi dengan bantuan [[Uni Soviet]]. Kualitas pendidikan di akademi ini sering diinspeksi oleh pejabat tinggi Rusia. Banyak pimpinan Kuomintang serta PKT yang merupakan lulusan akademi ini. Lebih lanjut, pimpinan [[Tentara Pembebasan Rakyat]], [[Lin Biao]], juga merupakan lulusan Whampoa. [[Zhou Enlai]], yang kemudian menjadi Perdana Menteri Tiongkok, juga pernah bekerja di akademi ini.
 
== Bersama-sama melawan kaum panglima perang dan imperialis ==