Penyebaran Islam di Nusantara: Perbedaan revisi

3 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
k
ibukota → ibu kota
k (ibukota → ibu kota)
Bukti yang lebih kuat mendokumentasikan transisi budaya yang berlanjut berasal dari dua batu nisan akhir abad ke-14 dari [[Minye Tujoh]] di [[Sumatra Utara]], masing-masing dengan tulisan Islam tetapi dengan jenis karakter India dan lainnya Arab. Berasal dari abad ke-14, batu nisan di [[Brunei]], [[Trengganu]] (timur laut [[Malaysia]]) dan [[Jawa Timur]] adalah bukti penyebaran Islam. Batu Trengganu memiliki dominasi [[bahasa Sansekerta]] atas kata-kata Arab, menunjukkan representasi pengenalan hukum Islam. Menurut ''Ying-yai Sheng-lan: survei umum pantai samudra'' (1433) yang ditulis oleh [[Ma Huan]], pencatat sejarah dan penerjemah [[Cheng Ho]]: "negara-negara utama di bagian utara [[Sumatra]] sudah merupakan [[Kesultanan]] [[Islam]]. Pada tahun [[1414]], ia (Cheng Ho) mengunjungi [[Kesultanan Malaka]], penguasanya [[Parameswara|Iskandar Shah]] adalah [[Muslim]] dan juga warganya, dan mereka percaya dengan sangat taat".
 
Di [[Kampong Pande]], [[Banda Aceh]] terdapat batu nisan Sultan [[Firman Syah]], cucu dari Sultan [[Johan Syah]], yang memiliki sebuah prasasti yang menyatakan bahwa Banda Aceh adalah ibukotaibu kota [[Kesultanan Aceh Darussalam]] dan bahwa kota itu didirikan pada hari Jumat, 1 Ramadhan ([[22 April]] [[1205]]) oleh Sultan Johan Syah setelah ia menaklukkan Kerajaan Hindu-Buddha [[Indra Purba]] yang beribukotaberibu kota di [[Bandar Lamuri]].
 
Pembentukan kerajaan-kerajaan Islam lebih lanjut di bagian Utara pulau Sumatra didokumentasikan oleh kuburan-kuburan akhir abad ke-15 dan ke-16 termasuk sultan pertama dan kedua [[Kesultanan Pedir]] (sekarang [[Pidie]]), [[Muzaffar Syah]], dimakamkan 902 H (1497 M) dan [[Ma'ruf Syah]], dimakamkan 917 H (1511 M). [[Kesultanan Aceh]] didirikan pada awal abad ke-16 dan kemudian akan menjadi negara yang paling kuat di utara Pulau Sumatra dan salah satu yang paling kuat di seluruh kepulauan Melayu. Sultan pertama Kesultanan Aceh adalah [[Ali Mughayat Syah]] yang nisannya bertanggal tahun 936 H (1530 M).
=== Jawa Tengah dan Jawa Timur ===
[[Berkas:Masjid demak.jpg|jmpl|200px|Masjid Agung [[Kesultanan Demak|Demak]], Kerajaan Islam pertama di Jawa.]]
Prasasti-prasasti dalam aksara [[Jawa Kuno]], bukan bahasa Arab, ditemukan pada banyak serangkaian batu nisan bertanggal sampai 1369 M di [[Jawa Timur]], menunjukkan bahwa mereka hampir pasti adalah [[Suku Jawa|Jawa]] pribumi, bukan Muslim asing. Karena dekorasi rumit dan kedekatan dengan lokasi bekas ibukotaibu kota kerajaan Hindu-Buddha [[Majapahit]], [[Louis-Charles Damais]] (peneliti dan sejarawan) menyimpulkan bahwa makam ini adalah makam orang-orang Jawa pribumi yang sangat terhormat, bahkan mungkin keluarga kerajaan.<ref>Damais, Louis-Charles, 'Études javanaises, I: Les tombes musulmanes datées de Trålåjå.' ''BEFEO'', vol. 54 (1968), pp. 567-604.</ref> Hal ini menunjukkan bahwa beberapa elit Kerajaan Majapahit di Jawa telah memeluk Islam pada saat Majapahit yang merupakan Kerajaan Hindu-Buddha berada di puncak kejayaannya.
 
Ricklefs (1991) berpendapat bahwa batu-batu nisan Jawa timur ini, berlokasi dan bertanggal di wilayah non-pesisir Majapahit, meragukan pandangan lama bahwa Islam di Jawa berasal dari pantai dan mewakili oposisi politik dan agama untuk kerajaan Majapahit. Sebagai sebuah kerajaan dengan kontak politik dan perdagangan yang luas, Majapahit hampir pasti telah melakukan kontak dengan para pedagang Muslim, namun kemungkinan adanya [[abdi dalem]] keraton yang berpengalaman untuk tertarik pada agama kasta [[pedagang]] masih sebatas dugaan. Sebaliknya, guru Sufi-Islam yang dipengaruhi mistisisme dan mungkin mengklaim mempunyai kekuatan gaib, lebih mungkin untuk diduga sebagai agen konversi agama para elit istana Jawa yang sudah lama akrab dengan aspek mistisisme Hindu dan Buddha.<ref name="RICKLEFS"/>{{rp|5}}
268.871

suntingan