Buka menu utama

Perubahan

Tidak ada perubahan ukuran, 3 bulan yang lalu
k
ibukota → ibu kota
Suku [[Banjar]] pernah mempunyai pemerintahan bernama [[Kesultanan Banjar]] yang berdiri sejak tahun 1526 Masehi. Kesultanan ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang karena diawali dari masa yang jauh sebelum masuknya pengaruh Islam yang ditandai dengan berdirinya [[Candi Laras]] dan [[Candi Agung]] pada masa Hindu-Budha. [[Kesultanan Banjar]] merupakan babak akhir dari rangkaian riwayat sejumlah kerajaan di [[Kalimantan Selatan]] pada masa-masa sebelumnya. Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal [[Kesultanan Banjar]] adalah Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku [[Dayak Maanyan]] ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak [[Sungai Barito]] yang bermuara ke Laut Jawa.<ref name=" Ideham "/>
 
Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Kerajaan Nan Sarunai.<ref name=" Ideham "/> Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku [[Dayak Maanyan]], melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya.<ref name=" Ideham ">M. Suriansyah Ideham, eds., 2003. Sejarah Banjar. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan</ref> Versi yang satu ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Nan Serunai dan Kerajaan Tanjung puri berada dalam lingkup ruang dan waktu yang sama.<ref name=" Hudson "/> Kerajaan Nan Serunai berpusat di [[Amuntai]], sedangkan Kerajaan Tanjung puri beribukotaberibu kota di Tanjung.<ref name=" Hudson ">Hudson, Alfred. “The Paju Epat Maanyan in historical perspective", dalam Indonesia, 4 Oktober 1967. Cornell University~Ithaca, New York, hlm. 17</ref> Berdasarkan pembagian wilayah administratif Provinsi [[Kalimantan Selatan]] pada masa sekarang, kedua tempat itu tidak berada di kabupaten yang sama meskipun lokasi [[Amuntai]] dan Tanjung berdekatan dan sama-sama terletak di tepi Sungai Tabalong.<ref name=" Hudson "/> [[Amuntai]] termasuk dalam wilayah [[Kabupaten Hulu Utara]], sedangkan Tanjung berada di [[Kabupaten Tabalong]].<ref name=" Hudson "/>
 
Nama Sarunai sendiri dimaknai dengan arti “sangat termasyhur”.<ref name=" Ideham "/> Penamaan ini bisa jadi mengacu pada kemasyhuran Suku [[Dayak Maanyan]] pada masa silam, di mana mereka terkenal sebagai kaum pelaut yang tangguh, bahkan mampu berlayar hingga ke Madagaskar di [[Afrika]].<ref name=" Ideham "/> Selain itu, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama Sarunai berasal dari kata “serunai” yakni alat musik sejenis seruling yang mempunyai tujuh buah lubang.<ref name="Sutopo Ukip"/> Alat musik ini sering dimainkan orang-orang Suku [[Dayak Maanyan]] untuk mengiringi tari-tarian dan nyanyi-nyanyian.<ref name="Sutopo Ukip"/> Konon, Raja dan rakyat Kerajaan Nan Sarunai sangat gemar menari dan menyanyi.<ref name="Sutopo Ukip"/> Sebenarnya istilah lengkapnya adalah Nan Sarunai.<ref name="Sutopo Ukip"/> Kata "nan" diduga berasal dari bahasa Melayu yang kemudian dalam lidah orang Maanyan dilafalkan hanya dengan ucapan Sarunai saja.<ref name="Sutopo Ukip"/> Dengan demikian, nama "Nan Sarunai" berarti sebuah kerajaan di mana raja dan rakyatnya gemar bermain musik.<ref name="Sutopo Ukip"/>
268.871

suntingan