Muhammad Daud Syah dari Aceh: Perbedaan revisi

529 bita ditambahkan ,  9 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Tag: suntingan perangkat seluler suntingan web seluler
Sejarawan berbeda pendapat dalam hal kapan Perang Aceh berakhir. Beberapa menyatakan pada tahun 1903, ketika Sultan Daud menyerah kepada Belanda. Tetapi sejarawan lainnya menyatakan bahwa perang tersebut tidak benar-benar berhenti pada tahun 1903, karena Belanda tetap menghadapi perang gerilya yang meningkat walaupun semenjak menyerahnya sultan.<ref name="history">{{en}}[http://www.aceh.net/acehinindonesiahistory.html ''History of Aceh'' by Ibrahim Alfian]</ref>
 
Sultan Muhammad Daud sendiri memimpin perang gerilya dari Kutaraja, sekarang Banda Aceh, pada tahun 1907. Walaupun usaha ini gagal dan ia ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Ambon kemudian Batavia, perlawanannya ini kemudian menginspirasi pejuang gerilya. BelandaHingga mendapatkanakhir perlawananhayatnya kuatSultan diMuhammad Pidie,Daudsyah Acehtidak Tengah,pernah Acehmenyatakan Barattunduk dan menyerahkan kedaulatan Aceh Tenggara.kepada Belanda, berhasilhal mengambilinilah kendaliyang sebagianmembuat besarBelanda berang dan mengasingkan Sultan ke Luar Aceh. Meskipun Sultan Telah ditangkap pada tahun1904, 1912.namun Tetapibeliau sejumlahmasih sejarawanmenyusun lainnyastrategi menyatakanperlawanan bahwadari perangtahanan rumah di Banda Aceh, tidakhal benar-benarini berhentidiketahui sampaipihak Belanda menyerahmelalui surat yang diberikan kepada JepangPejuang padadalam 1942sebuah penyerangan terhadap pertahanan Belanda.<ref name="history"/>
Belanda pun masih mendapatkan perlawanan kuat di Pidie, Aceh Tengah, Aceh Barat dan Aceh Tenggara. Hingga Sultan terpakasa di asingkan keluar Aceh pada 1907. Belanda berhasil mengambil kendali sebagian besar Aceh pada tahun 1912. Tetapi sejumlah sejarawan lainnya menyatakan bahwa perang Aceh tidak benar-benar berhenti sampai Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942.
<ref name="history"/>
 
The surrender of Sultan Muhammad Daud Syah marked the fall of Aceh Darussalam. It also marked the end of the sultanate system in Aceh, which was abolished by the Dutch, making Muhammad Daud Syah the last sultan of Aceh. The Dutch appointed a governor to rule Aceh and installed district chiefs, locally known as uleebalang. The recruitment of uleebalang by the Dutch East Indies deepened the division and conflict with the ulema, who considered the Dutch administration kaphee, the unbeliever according to Islamic teaching.<ref name="history"/> -->
Pengguna anonim