Buka menu utama

Perubahan

10 bita dihapus ,  8 bulan yang lalu
parafrase "dimana"
====== Kamma ======
{{Main|kamma}}
Kamma atau karma (dalam bahasa Sanskerta) secara harfiah berarti perbuatan atau suatu aksi. Istilah ini merujuk fenomena dimanabahwa setiap aksi atau perbuatan pastilah membawa konsekuensi. Ajaran Buddha memberikan perhatian bahwa setiap perbuatan yang patut atau tidak patut dan kebiasaan yang bermanfaat atau merugikan akan membawa kita kepada suatu konsekuensi yang sesuai.<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/437204503|title=An Introduction to Buddhist Philosophy.|last=J.|first=Laumakis, Stephen|date=2008|publisher=Cambridge University Press|isbn=9780511385896|location=Leiden|oclc=437204503}} Hlm. 83. "Literally ‘‘action’’ or ‘‘deed,’’ this term refers to the fact that actions, intentions, volitions, and, in general, states of mind have or produce consequences. The basic Buddhist account of it is that appropriate and inappropriate, wholesome and unwholesome mental tendencies or habits lead to actions that ultimately produce fruits orconsequences. "
</ref> Kamma menempatkan individu sebagai penanggunnya. Suatu individu akan menerima baik-buruknya konsekuensi dari perbuatannya entah saat ini, di masa depan atau dikehidupan berikutnya.<ref>{{Cite web|url=https://www.thebuddhistsociety.org/page/kamma-actions-and-results|title=The Buddhist Society: Kamma - Actions and Results|website=www.thebuddhistsociety.org|language=en|access-date=2017-10-20}}</ref><ref>{{Cite web|url=https://www.accesstoinsight.org/lib/study/kamma.html#kamma|title=Kamma: A Study Guide|website=www.accesstoinsight.org|language=en|access-date=2017-10-20}}</ref>
 
Sementara ajaran Mahayana sering dikaitkan dengan ontologi idealis.<ref name=":12" /><ref name=":13">Emmanuel M. Steven (2013). [https://books.google.co.id/books/about/A_Companion_to_Buddhist_Philosophy.html?id=P_lmCgAAQBAJ&redir_esc=y ''A Companion to Buddhist Philosophy''. Willey-Blackwell]. hlm 129-222</ref> [[Ontologi]] [[Idealisme|idealistis]] menyatakan objek dalam realita merupakan produk kesadaran. Sehingga dapat dikatakan objek-objek di dunia ini merupakan objek semu karena bergantung pada kesadaran terhadap setiap individu atau subjek pemikir.<ref>{{Cite book|url=https://plato.stanford.edu/archives/fall2015/entries/idealism/|title=The Stanford Encyclopedia of Philosophy|last=Guyer|first=Paul|last2=Horstmann|first2=Rolf-Peter|date=2015|publisher=Metaphysics Research Lab, Stanford University|editor-last=Zalta|editor-first=Edward N.|edition=Fall 2015}}</ref> Dalam kajiannya secara umum, ajaran Buddha Mahayana memiliki dua perguruan yakni : [[Madhyamaka]] dan [[Yogacara]].
 
Pemikir awal dan sering juga disebut sebagai pencetus dari perguruan Madhyamaka adalah [[Nagarjuna]]. Nagarjuna menulis banyak risalah tentang kajian filsafat dalam ajaran Buddha. Salah satunya adalah ''Mula-madhyamaka-karika'' yang merupakan literatur kunci dari bahasan Madhyamaka.<ref name=":13" /> Pokok dari bahasan filsafat ajaran Madhyamaka adalah gagasan dalam ajaran Buddha dimanabahwa, setiap individu dan kejadian yang terjadi di dunia ini sejatinya tanpa esensi ''(svabaha'' dan ''sunyata'').<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/57245990|title=The center of the sunlit sky : Madhyamaka in the Kagyü tradition : including a translation of Pawo Rinpoche's commentary on the knowledge section of Śāntideva's The entrance to the Bodhisattva's way of life (Bodhicaryāvatāra)|last=Karl.|first=Brunnhölzl,|date=2004|publisher=Snow Lion Publications|isbn=9781559392181|location=Ithaca, N.Y.|oclc=57245990}} Hlm. 590 "To the contrary, it is precisely the fact of their emptiness—their lack of solid and independent existence—that allows for the unimpeded and dynamic flow of the dependent origination of conditioned phenomena. As Nagarjuna says....."</ref> Nagarjuna menggambarkan pemikirannya sebagai jalan tengah diantara dua kajian ekstrim. Nagarjuna menolak pandangan eternalisme yakni pandangan yang menyatakan bahwasannya suatu realitas yang tidak bergantung waktu ; masa lalu masih ada dan masih berjalan, masa kini sedang berjalan, masa depan telah ada dan telah berjalan.<ref name=":13" /><ref>{{Cite book|url=https://plato.stanford.edu/archives/fall2016/entriesime/|title=The Stanford Encyclopedia of Philosophy|last=Markosian|first=Ned|last2=Sullivan|first2=Meghan|last3=Emery|first3=Nina|date=2016|publisher=Metaphysics Research Lab, Stanford University|editor-last=Zalta|editor-first=Edward N.|edition=Fall 2016}}</ref> Nagarjuna juga menolak gagasan [[nihilisme]] berkaitan dengan kekosongan (''sunyata'') mutlak dimanabahwa setiap fenomena yang terjadi didunia tidak memiliki inti dan merupakan sesuatu yang semu. Menurut Nagarjuna kesemua entitas dan fenomena yang ada dan terjadi di dunia ini nyata namun bersifat sementara. Pandangan inilah kemudian disebut sebagai jalan tengah.<ref name=":13" /><ref>{{Cite book|url=https://books.google.co.id/books/about/Nagarjuna_s_Philosophy.html?id=h-Mslj917EsC&redir_esc=y|title=Nagarjuna's Philosophy: As Presented in the Maha-Prajnaparamita-Sastra|last=Ramanan|first=K. Venkata|date=1987|publisher=Motilal Banarsidass Publ.|isbn=9788120802148|language=en}} Hlm 60.</ref> Sementara pandangan Yogacara menolak gagasan realisme dari Theravada dan kesementaraan fenomena-objek yang ditawarkan Mahayana.<ref name=":14">{{Cite news|url=https://www.britannica.com/topic/Yogachara|title=Yogachara {{!}} Buddhist school|newspaper=Encyclopedia Britannica|language=en|access-date=2017-10-22}}</ref> Ajaran Yogacara menekankan pembahasan suatu fenomena-objek di alam semesta harus melalui pikiran(''citta'') dan kesadaran(''vijnana'') manusia.<ref name=":13" /><ref name=":14" /><ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/72868510|title=Buddhism as philosophy : an introduction|last=1946-|first=Siderits, Mark,|date=2007|publisher=Ashgate|isbn=9780872208735|location=Aldershot, England|oclc=72868510}} Hlm. 147</ref> Dalam ajaran Yogacara, realitas termasuk didalamnya yaitu, objek dan fenomena yang dapat dirasakan manusia, bukanlah sesuatu yang nyata, karena hal tersebut dihasilkan oleh kesadaran manusia; kesadaran manusia merupakan hal yang nyata dan juga sementara dalam ajaran ini.<ref name=":13" /><ref name=":14" /> Selain kesadaran manusia, hal lain yang dipandang sebagai sesuati yang nyata dalam ajaran Yogacara adalah kekosongan (''sunyata).''<ref name=":14" />
 
====== Tibet ======
Pada kasus aborsi, seperti masyarakat pada umumnya, terdapat pro kontra di kalangan umat Buddha terhadap tindakan ini. Umat dan pemuka ajaran Buddha konservatif menyatakan bahwa aborsi merupakan tindakan yang berkaitan dengan pembunuhan sehingga bertentangan dengan ajaran Buddha seperti pada konsep ''[[ahimsa]]''.<ref name=":7">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/buddhistethics/abortion.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: Abortion|access-date=2017-10-21}}</ref> Sementara Umat Buddha dengan pandangan yang moderat menganggap tindakan aborsi merupakan hak personal.<ref name=":7" /> [[Dalai Lama]] dalam wawancaranya dengan New York Times menyatakan bahwa, baik buruknya pandangan terhadap suatu tindakan aborsi bergantung kepada situasi yakni, jika sang bayi mengalami diindikasikan mengalami kelainan atau keterbelakangan mental, atau bahkan menyebabkan masalah kesehatan yang serius terhadap ibu yang mengandungnya maka kasus tersebut merupakan pengecualian.<ref>{{Cite news|url=http://www.nytimes.com/1993/11/28/magazine/the-dalai-lama.html|title=The Dalai Lama|last=Dreifus;|first=Claudia|date=1993-11-28|newspaper=The New York Times|language=en-US|issn=0362-4331|access-date=2017-10-21}} "So I think it is better that that situation be stopped right from the beginning -- birth control. Of course, abortion, from a Buddhist viewpoint, is an act of killing and is negative, generally speaking. But it depends on the circumstances. If the unborn child will be retarded or if the birth will create serious problems for the parent, these are cases where there can be an exception. I think abortion should be approved or disapproved according to each circumstance...... "</ref>
 
Pun pada tindakan donor organ terdapat perbedaan pendapat antar pemuka umat Buddha. Perbedaan tersebut terkait ajaran Buddha yang menyarankan untuk menghindari tindakan yang berkaitan dengan pembunuhan atau menyakiti, karena donor organ dapat membahayakan nyawa pendonor.<ref name=":5">{{Cite journal|last=McCormick|first=Andrew J.|date=2013-04-01|title=Buddhist Ethics and End-of-Life Care Decisions|url=http://dx.doi.org/10.1080/15524256.2013.794060|journal=Journal of Social Work in End-of-Life & Palliative Care|volume=9|issue=2-3|pages=209–225|doi=10.1080/15524256.2013.794060|issn=1552-4256|pmid=23777235}}</ref> Terlebih terdapat kesalahpahaman dikalangandi awamkalangan umat Buddha dimanaawam terdapatyang pemikiranmemiliki yangpemikiran mengkaitkanmengaitkan donor organ dengan kelahiran kembali dari seorang manusia; Jika manusia mati dengan mendonorkan atau kehilangan organ maka, di kelahiran berikutnya ia akan mengalami cacat yang berkaitan dengan organ tersebut.<ref>{{Cite web|url=https://www.buddhistdoor.net/features/a-buddhist-perspective-on-organ-donation|title=A Buddhist Perspective on Organ Donation {{!}} Buddhistdoor|website=www.buddhistdoor.net|access-date=2017-10-21}}</ref> Namun jika organ yang didonorkan oleh seorang manusia tidak membahayakan nyawa pendonor atau pendonor tersebut telah meninggal, maka pendapat pemuka agama Buddha secara umum kompak menyetujui tindakan donor organ. Bahkan [[Sogyal Rinpoche]], seorang pemuka agama Buddha ternama dari [[Tibet]], menyatakan bahwa tindakan donor organ merupakan tindakan yang sangat mulia, dan membawa karma yang baik.<ref>{{Cite web|url=https://scholar.google.com/scholar_lookup?publication_year=1993&issue=1&author=S.+Rinpoche&title=+The+Tibetan+book+of+living+and+dying+|title=The Tibetan Book of Living & Dying A Dialogue With Sogyal Rinpoche
With Swami Virato|last=|first=|date=|website=scholar.google.com|publisher=|access-date=2017-10-21}}</ref>
 
Prinsip yang menekankan kebebasan dari suatu individu merupakan pokok dari nilai-nilai dan etika Kebaratan. Prinsip ini juga menekankan bahwa setiap individu berhak memilih metode medis untuk dirinya sendiri termasuk tindakan yang ekstrim yakni [[Eutanasia|euthanasia]].<ref>{{Cite journal|last=McCormick|first=Andrew J.|date=2011-04-01|title=Self-Determination, the Right to Die, and Culture: A Literature Review|url=https://academic.oup.com/sw/article/56/2/119/1882552/Self-Determination-the-Right-to-Die-and-Culture-A|journal=Social Work|volume=56|issue=2|pages=119–128|doi=10.1093/sw/56.2.119|issn=0037-8046}}</ref><ref>Brock , D. ( 2004 ). Physician-assisted suicide as a last-resort option at the end of life . In T. E.Quill , & M. Battin (Eds.), ''[http://scholar.google.com/scholar_lookup?publication_year=2004&pages=130-149&issue=2&author=D.+Brockauthor=T.+E.+Quillauthor=M.+Battin&title=+Physician+assisted+suicide:+The+case+for+palliative+care+and+patient+choice+& Physician assisted suicide: The case for palliative care and patient choice]'' , (Hlm. 130 – 149 ). Baltimore , MD :Johns Hopkins University Press</ref> Pada praktiknya terdapat euthanasia yang tidak secara sukarela dilakukan oleh seorang pasien, melainkan atas permintaan keluarga. Dalam hal ini pandangan pemuka agama Buddha secara umum tidak menyetujui tindakan tersebut, karena melanggar prinsip ajaran Buddha untuk tidak membunuh.<ref name=":6">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/buddhistethics/euthanasiasuicide.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: Euthanasia and suicide|access-date=2017-10-21}}</ref> Namun jika praktik ini dilakukan secara sukarela maka terjadi perbedaan pendapat, karena terdapat fakta dimanadengan beberapa biksu secara sengaja bermeditasi hingga meninggal dunia yang dapat dikaitkan dengan tindakan bunuh diri.<ref name=":5" /><ref name=":6" />
 
====== Perang dan perdamaian dalam pandangan Buddha ======
[[Berkas:Prince Siddhartha with his maternal aunt Queen Mahaprajapati Gotami.JPG|jmpl|Lukisan [[Siddhartha Gautama|Pangeran Siddharta]] bersama bibi sekaligus ibu angkatnya [[Mahapajapati Gotami|Mahapajapati]]]]
Meskipun dipandang sebagai ajaran dengan konsep [[egalitarianisme]] atau ajaran yang menekankan persamaan dalam segala aspek, ajaran Buddha dalam tradisi dan praktiknya masih mendapat kritik dalam hal kesetaraan gender ; Termasuk di dalamnya mengenai dominasi kaum pria yang begitu mencolok di institusi keagamaan Buddha.<ref name=":22">{{Cite journal|last=R.|first=Sirimanne, Chand|date=2016|title=Buddhism and Women-The Dhamma Has No Gender|url=http://vc.bridgew.edu/jiws/vol18/iss1/17|journal=Journal of International Women's Studies|language=en|volume=18|issue=1|issn=1539-8706}}</ref><ref>{{Cite web|url=http://www.jfsonline.org/issue1/articles/chen/|title=The Journal of Feminist Scholarship|website=www.jfsonline.org|access-date=2017-10-23}}</ref><ref name=":20">{{Cite news|url=https://www.thoughtco.com/buddhism-and-sexism-449757|title=Is Buddhism a Sexist Religion? The Status of Women in Buddhism|newspaper=ThoughtCo|access-date=2017-10-23}}</ref> Jika ditelisik melalui risalah yang berkaitan dengan ajaran Buddha, terdapat risalah yang menyatakan permintaan [[Mahapajapati Gotami]], ibu angkat sekaligus bibi dari Sang [[Siddhartha Gautama|Buddha Gautama]], meminta kepada Sang Buddha untuk menjadi biarawati dan mempraktikan hidup sebagai petapa.<ref>{{Cite news|url=https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/penahbisan-maha-pajapati-gotami/|title=Penahbisan Maha Pajapati Gotami - Samaggi Phala|date=2010-11-02|newspaper=Samaggi Phala|language=en-US|access-date=2017-10-23}}</ref><ref name=":21" /> Sang Buddha awalnya menolak, namun setelah dibujuk oleh [[Ananda]] keponakannya, akhirnya beliau menyetujui Mahapajapati untuk bergabung sebagai biarawati, namun dengan delapan aturan tambahan yang diberi nama ''gurudharma.''<ref name=":21">Emmanuel M. Steven (2013). [https://books.google.co.id/books/about/A_Companion_to_Buddhist_Philosophy.html?id=P_lmCgAAQBAJ&redir_esc=y ''A Companion to Buddhist Philosophy''. Willey-Blackwell]. hlm 665. "One of the better knownpassages in the early scriptures narrates that the Buddha ’ s foster-mother and aunt, Prajapati, petitioned the Buddha to allow women to take monastic vows and practice that lifestyle. The Buddha refused three times and was finally persuaded only when his attendant Ananda argued that, because women could be enlightened, they should be allowed to follow the lifestyle that had been so helpful to men in pursuing that goal. The Buddha relented, but also imposed eight so-called “heavy rules” (the literal translation of gurudharma) ....."
</ref><ref name=":18">{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/951210328|title=The foundation history of the nuns' order|last=Bhikku,|first=Anālayo,|isbn=9783897333871|location=Bochum|oclc=951210328}} 90-125</ref><ref>{{Cite web|url=https://studybuddhism.com/en/advanced-studies/prayers-rituals/vows/conference-report-on-bhikshuni-ordination-lineages/issues-in-reinstating-bhikshuni-ordination|title=Issues in Reinstating Bhikshuni Ordination|website=studybuddhism.com|language=en|access-date=2017-10-23}}</ref> Penerimaan Sang Buddha terhadap keinginan Mahajapati dianggap sebagai sesuatu yang revolusioner pada masanya, karena pada masa itu wanita dianggap lebih rendah dari kaum lelaki dan dijauhkan dari aktivitas keagamaan.<ref name=":22" /><ref name=":19">{{Cite book|url=https://books.google.co.id/books/about/Keyakinan_umat_Buddha.html?id=NhvtNAAACAAJ&redir_esc=y|title=Keyakinan umat Buddha: buku standar wajib baca|last=Dhammananda|first=Sri|date=2005|publisher=Yayasan Penerbit Karaniya : [Ehipassiko Foundation]|language=id}} Hlm. 309 " ... . merupakan guru spiritual pertama yang memberikan kebebasan..."</ref> [[K. Sri Dhammananda|Sri Dhammananda]] dalam bukunya menyatakan bahwasannya, Sang Buddha merupakan guru spiritual pertama yang memberikan kebebasan berkeyakinan terhadap wanita, dimanakarena sebelum masa tersebut wanita bahkan tidak diperbolehkan untuk memasuki tempat ibadah atau membaca ayat-ayat keagamaan.<ref name=":19" /> Namun dalam kajian kontemporer, terdapat perdebatan mengenai delapan aturan tambahan yang diberikan Sang Buddha Gautama.<ref>{{Cite web|url=http://www.buddhismtoday.com/english/sociology/021-religiousorder.htm|title=021-religiousorder|last=thichnhattu|website=www.buddhismtoday.com|access-date=2017-10-23}}</ref> Terdapat pendapat yang menilai aturan tersebut memuat poin yang mendiskriminasi wanita, terdapat juga pandangan yang menyatakan bahwa poin-poin tersebut disesuaikan pada masanya agar tidak timbul gejolak sosial yang besar, atau pandangan lainnya yang menyatakan poin-poin tersebut telah mengalami penyimpangan makna dari yang dimaksud pada awalnya<ref name=":20" /><ref name=":18" />.<ref>{{Cite news|url=https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/sangha-bhikkhuni/|title=Sangha Bhikkhuni Theravada|date=2003-10-23|newspaper=Samaggi Phala|language=en-US|access-date=2017-10-23}}</ref>
 
== Baca juga ==
35.495

suntingan