Folklor: Perbedaan revisi

1.909 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
# Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.<ref name=":0" />
# Menjadi milik bersama (colective) dari masyarakat tertentu.<ref name=":0" />
# Pada umumnya bersifat lugu atau polos sehingga seringkali kelihatannya kasar atau terlalu sopan. Hal itu disebabkan banyak folklor merupakan proyeksi (cerminan) emosi manusia yang jujur.<ref name=":0" />
 
== Jenis-jenis Folklor ==
Jan Harold Brunvand, seorang ahli folklor Amerika Serikat, membagi folklor ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya yaitu folklor lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan.
 
=== Folklor Lisan ===
 
* Folklor jenis ini dikenal juga sebagai fakta mental (mentifact) yang meliputi sebagai berikut:
 
# bahasa rakyat seperti logat bahasa (dialek), slang, bahasa tabu, otomatis;
# ungkapan tradisional seperti peribahasa dan sindiran;
# pertanyaan tradisonal yang dikenal sebagai teka-teki;
# sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair;
# cerita prosa rakyat, cerita prosa rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar, yaitu: mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale), seperti Malin Kundang dari Sumatra Barat, Sangkuriang dari Jawa Barat, Roro Jonggrang dari Jawa Tengah, dan Jaya Prana serta Layonsari dari Bali;
# nyanyian rakyat, seperti “Jali-Jali” dari Betawi.
 
=== Folklor Sebagian Lisan ===
Folklor ini dikenal juga sebagai fakta sosial (sosiofact), meliputi sebagai berikut:
 
(1) kepercayaan dan takhayul;
 
(2) permainan dan hiburan rakyat setempat;
 
(3) teater rakyat, seperti lenong, ketoprak, dan ludruk;
 
(4) tari rakyat, seperti tayuban, doger, jaran, kepang, dan ngibing, ronggeng;
 
(5) adat kebiasaan, seperti pesta selamatan, dan khitanan;
 
(6) upacara tradisional seperti tingkeban, turun tanah, dan temu manten;
 
(7) pesta rakyat tradisional seperti bersih desa dan meruwat.
 
=== Folklor Bukan Lisan ===
 
* Folklor ini juga dikenal sebagai artefak meliputi sebagai berikut:
 
(1) arsitektur bangunan rumah yang tradisional, seperti Joglo di Jawa, Rumah Gadang di Minangkabau, Rumah Betang di Kalimantan, dan Honay di Papua;
 
(2) seni kerajinan tangan tradisional,
 
(3) pakaian tradisional;
 
(4) obat-obatan rakyat;
 
(5) alat-alat musik tradisional;
 
(6) peralatan dan senjata yang khas tradisional;
 
(7) makanan dan minuman khas daerah.
 
== Catatan kaki ==