Alawi: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
k ←Suntingan 116.206.29.9 (bicara) dibatalkan ke versi terakhir oleh Naval Scene
k Bot: Penggantian teks otomatis (-Perancis +Prancis)
Baris 10:
Di bawah [[Utsmaniyah]] mereka melawan cobaan untuk mengganti mazhab mereka kepada Islam Sunni. Mereka memberontak terhadap Utsmaniyah beberapa kali, dan mempertahankan otonomi terbatas di kawasan gunung.
 
Setelah kejatuhan Kekaisaran Utsmaniyah, Suriah dan Libanon berada di bawah kekuasaan PerancisPrancis. [[PerancisPrancis]] menduduki Suriah pada tahun [[1920]] dan memberi otonomi kepada mereka dan kelompok minoritas yang lain dan menerima mereka bergabung tentara penjajah. Banyak pimpinan Alawi mencoba mengganti otonomi mereka kepada kemerdekaan. Wilayah "Alaouites dimulai pada 1925. Pada Mei 1930, Pemerintah Latakia telah didirikan dan bertahan hingga 28 Februari 1937, kemudian wilayah itu dimasukkan ke dalam Suriah.
 
Pada tahun 1939 bagian barat laut Suriah, yaitu sanjak Alexandretta (kini Hatay) banyak menggunakan istilah Alawis, telah diberikan kepada Turki. Referendum yang dilakukan di bawah seliaan Liga Bangsa Bangsa menemukan mereka mau bergabung Turki. Aksi ini menyebabkan kemarahan masyarakat Alawi dan Suriah secara umum. Pada tahun 1938, tentara Turki pergi ke Alexandretta dan mengusir penduduk Arab dan Armenia. Sebelum ini, Alawi Arab dan Armenia merupakan mayoritas penduduk. Zaki al-Arsuzi, pemimpin muda Alawi dari wilayah Iskandarun dalam sanjak Alexandretta menjadi pendiri Partai Ba'ath bersama-sama dengan Kristen Ortodoks. Selepas Perang Dunia II, Salman Al Murshid memainkan peran penting dalam menyatukan wilayah Alawi dengan Suriah. Suriah baru merdeka pada 12 Desember 1946.