Ambarketawang, Gamping, Sleman: Perbedaan revisi

k
Bot: Perubahan kosmetika
k (Bot: Perubahan kosmetika)
}}
'''Ambarketawang''' adalah sebuah [[kelurahan]] yang terletak di kecamatan [[Gamping, Sleman|Gamping]], [[Kabupaten Sleman]], [[Daerah Istimewa Yogyakarta]], [[Indonesia]]. Terbentuknya Desa Ambarketawang berdasarkan Maklumat Pemerintah Provinsi Yogyakarta pada tahun 1946 yang menggabungkan empat kelurahan yakni; Kelurahan Gamping, Mejing, Bodeh, dan Kalimanjung ke dalam satu Kelurahan (Desa) yang disebut dengan Ambarketawang. Nama Ambarketawang berarti bau harum yang memenuhi angkasa.
[[Berkas:Entrance to Ambarketawang Kraton prison, Kota Jogjakarta 200 Tahun, plate after page 8.jpg|thumbjmpl|Pintu masuk penjara Kraton Ambarketawang (foto diambil tahun 1956)]]
Nama Ambarketawang diambil dari nama pesanggrahan [[Sultan Hamengkubuwana I]], yang terletak di desa ini. Menurut sejarah, akibat perjanjian Gianti (1755), dibangunlah Kraton Yogyakarta. Saat proses pembangunan Sultan HB I sementara tinggal di sebelah barat kota Yogyakarta yang dikenal sebagai pesanggrahan Ambarketawang. Lokasi tersebut saat ini terletak di Padukuhan Tlogo.
 
== Tradisi Saparan Bekakak ==
{{utama|Upacara adat Saparan Bekakak}}
[[Berkas:Saparan_Bekakak_Ambarketawang.jpg|thumbjmpl|rightka|225px|Penyembelihan [[boneka]] bekakak temanten (pengantin Jawa) wanita dalam [[Upacara adat Saparan Bekakak]] di Desa Ambarketawang, [[Gamping, Sleman|Gamping]], [[Kabupaten Sleman]], [[Yogyakarta]].]]
Desa Ambarketawang, memiliki [[tradisi]] khas berupa [[sembelih|penyembelihan]] [[bekakak]], sepasang [[boneka]] ''temanten'' ([[pengantin]] Jawa) muda yang terbuat dari [[tepung]] [[ketan]]. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali dalam bulan [[Sapar]] dalam [[Kalender Jawa]]. Tradisi ini terkait dengan tokoh [[Ki Wirasuta]], satu dari tiga bersaudara dengan [[Ki Wirajamba]], dan [[Ki Wiradana]] yang merupakan [[abdi dalem]] [[Hamengkubuwana I]] yang sangat dikasihi.
 
566

suntingan