Kerajaan Saunggalah: Perbedaan revisi

278 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi '{{Sejarah Indonesia}} '''Kerajaan Saunggalah''' adalah kerajaan yang berada di Kabupaten Kuningan sekarang. Lokasi Saunggalah ini diperkirakan kini berada di Kampung S...')
 
k
 
== Sejarah ==
Menurut [[Carita Parahyangan]]<ref>Noorduyn, J dan A. Teeuw. 2009. ''Tiga Pesona Sunda Kuna''. Terjemahan oleh Hawe Setiawan. Jakarta: Pustaka Jaya.</ref> yang berbahasa dan beraksara Sunda Kuno, riwayat Saunggalah bermula dari ''Rahyang Kuku'' alias ''Sang Seuweukarma'' alias ''Rahyang Demunawan''. Putra dari ''Rahyang Sempakwaja'' penguasa Galunggung. Carita Parahyangan menuturkan bahwa ''Rahyang Sempakwaja'' merupakan anak pertama Sang [[Wretikandayun]]. Sempakwaja memiliki dua adik, yaitu Rahyang Kedul dan Rahyangtang Mandiminyak.
 
''Rahyangtang Mandiminyak'' berputrakan ''Sang Sena''; Sang Sena lalu punya anak bernama Rahyang [[Sanjaya, Rakai Mataram|Sanjaya]]. Sementara itu, Sang Wretikandayun adalah putra bungsu dari ''Sang Kandiawan''. Ada pun keempat kakak Wretikandayun adalah ''Rahyangtang Kulikuli, Rahyangtang Surawulan, Rahyangtang Pelesawi,'' dan Rahyangtang Rawunglangit. Wretikandayun lalu memerintah di Galuh selama 90 tahun. Dari 612 hingga 702 M. Ia kemudian menikah dengan putri Bagawat Resi Makandria, Pwah Bungatak Mangalengale.
Ketika Darmasiksa memerintah di [[Pakuan Pajajaran|Pakuan]] Pajajaran, Saunggalah diberikan kepada putranya yang bernama Ragasuci (''Fragmen Carita Parahyanga'' menyebutnya Rajaputra). Sebagai penguasa Saunggalah, Ragasuci dijuluki ''Rahyantang Saunggalah'' (1175-1298). Ia memperistri Dara Puspa, putri seorang raja Melayu. Pada tahun [[1298]] M, Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya (1298-1304). Kedudukannya di Saunggalah digantikan putranya bernama Citraganda. Pada masa Citraganda, menurut [[naskah Wangsakerta]], Pakuan untuk kesekian kalinya menjadi ibukota [[Kerajaan Sunda]]
 
Poesponegoro (2008: 384-385) menafsirkan bahwa sosok Darmasiksa tak lain adalah tokoh ''Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwana Mandaleswaranindhita Haro Gowardhana Wikramottunggadew''a, penguasa ''“Prahajyan Sunda”''. Nama terakhir ini tertulis dalam ''[[Prasasti Sanghyang Tapak]]'' yang ditemukan di Kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang di tepi Sungai Citatih, [[Cibadak, Sukabumi|Cibadak]], [[Kota Sukabumi|Sukabumi]], Jawa Barat, berasal dari 952 Saka atau [[1030]] M, berbahasa dan berhuruf [[Bahasa Jawa Kuno|Jawa Kuno]].<ref>Poesponegoro, Marwati Djoenoed dan Nugroho Notosusanto. 2008. ''Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno''. Jakarta: Balai Pustaka.</ref>
 
Identifikasi tersebut dilakukan atas dasar sejumlah petunjuk bahwa kedua tokoh tersebut penganut [[Agama Hindu|Hindu]] [[Waisnawa]] atau Wisnu. Carita Parahyangan memberitakan, bahwa Sang Rakeyan Darmasiksa merupakan titisan Sanghyang Wisnu, yang membangun Sanghyang Binajapanti. Begitu pula rupanya Sri Jayabhupati, sama-sama penganut [[Agama Hindu|Hindu]] [[Waisnawa|Wisnu]], terlihat dari gelarnya: ''Wisnumurti Haro Gowardhana''.
[[Kategori:Sejarah Jawa Tengah]]
[[Kategori:Kerajaan Galuh]]
[[Kategori:CirebonKabupaten Kuningan]]
[[Kategori:Kerajaan di Parahyangan]]
[[Kategori:Sejarah Sunda]]