Buka menu utama

Perubahan

46.284 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
== Sistem Ekonomi Indonesia ==
Sejak berdirinya negara Republik Indonesia, sudah banyak tokoh-tokoh negara pada saat itu telah merumuskan sistem perekonomian yang tepat bagi bangsa indonesia, baik secara individu maupun diskusi kelompok. Tokoh ekonomi indonesia saat itu, Sumitro Djojohadikusumo, dalam pidatonya di negara Amerika tahun 1949, menegaskan bahwa sistem yang dicita-citakan adalah ekonomi semacam campuran tetapi dalam proses perkembanganya telah disepakati suatu bentuk ekonomi baru yang dinamakan sebagai Sistem Ekonomi Pancasila yang di dalamnya mengandung unsur penting yang disebut
 
=== Demokrasi Ekonomi. ===
Mengapa dipilih sistem Demokrasi ekonomi, karena menurut dia sistem Demokrasi Ekonomi memiliki ciri-ciri yang positif, di antaranya adalah :
* Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan.
* Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
* Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendakinya serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
* Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
* Potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
* Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara.
Dengan demikian perekonomian Indonesia tidak mengizinkan adanya : '''Free fiht liberalism''', yaitu adanya suatu kebebasan usaha yang tidak terkendali sehingga memungkinkan terjadinya eksploitasi kaum ekonomi yang lemah dan terjajah dengan akibat semakin bertambah luasnya jurang pemisah si kaya dan si miskin.
 
'''Etatisme''', yaitu keikutsertaan pemerintah yang terlalu dominan sehingga mematikan motivasi dan kreasi masyarakat untuk berkembang dan bersaing secara sehat. Jadi masyarakat hanya bersikap pasif saja.
 
'''Monopoli''', suatu bentuk pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok tertentu, sehingga tidak memberikan pilihan lain pada konsumen untuk tidak mengikuti keinginan sang monopoli. Disini konsumen seperti robot yang diatur untuk mengikuti jalannya permainan.
 
Meskipun awal perkembangan perekonomian indonesia menganut sistem ekonomi pancasila. Ekonomi demokrasi dan mungkin ‘campuran’ namun bukan berarti sistem perekonomian liberalis dan etatisme tidak pernah terjadi di Indonesia. Awal tahun 1950-an sampai dengan tahun 1957-an merupakan bukti sejarah adanya corak liberalis dalam perekonomian Indonesia. Demikian juga dengan sistem etatisme, pernah juga mewarnai corak perekonomian pada tahun 1960-an sampai masa orde baru.
 
Faktor-faktor penyebab kegagalan sistem perekonomian Indonesia adalah :
 
Program tersebut disusun oleh tokoh yang relatif bukan bidangnya, namun oleh tokoh politik, sehingga keputusan yang dibuat cenderung menitikberatkan pada masalah politik bukan masalah ekonomi.
 
Akibat lanjutan dari kegagalan diatas dana negara yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan kegiatan ekonomi justru dialokasikan untuk kepentingan politik dan perang.
 
Adanya kecenderungan terpengaruh untuk menggunakan sistem perekonomian yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
 
Akibat yang ditimbulkan dari sistem etatisme yang pernah terjadi di indonesia pada periode tersebut, yaitu :
 
Semakin rusaknya sarana produksi dan komunikasi yang membawa dampak menurunnya nilai ekspor kita.
 
Hutang luar negeri yang justru dipergunakan untuk proyek ‘Mercu Suar’
 
Defisit anggaran negara yang makin besar
 
laju pertumbuhan penduduk yang lebih besar dari pertumbuhan ekonom
 
'''Sistem perekonomian''' adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur [[faktor produksi]]nya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh [[pemerintah]]. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrem tersebut.
=== sistem perekonomian terencana ===
 
Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem tersebut mengatur produksi dan alokasi. Sebuah '''perekonomian terencana''' (''planned economies'') memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi hasil produksi. Sementara pada '''perekonomian pasar''' (''market economic''), pasar lah yang mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi barang dan jasa melalui [[penawaran]] dan [[permintaan]].
 
'''FUNGSI SISTEM EKONOMI'''
 
'''Sistem ekonomi dapat berfungsi sebagai :'''
 
1.      Sarana pendorong untuk melakukan produksi
 
2.      Cara atau metode untuk mengorganisasi kegiatan individu
 
3.      Menciptakan mekanisme tertentu agar distribusi barang dan jasa terlaksana dengan baik.{{ekonomi}}
=== Perekonomian terencana ===
Ekonomi terencana adalah sistem ekonomi yang mengatur jalannya produksi dan investasi yang diatur dalam sebuah rencana yang dirumuskan oleh otoritas pusat, yang biasanya adalah sebuah badan publik seperti badan pemerintahan. Istilah tersebut juga sering disebut sebagai "'''ekonomi komando'''". Meskipun ekonomi terencana dapat berdasar pada bentuk sentralisasi atau desentralisasi perencanaan ekonomi, istilah tersebut selalu merujuk kepada '''ekonomi terencana secara sentral'''.
 
Ada dua bentuk utama perekonomian terencana, yaitu [[komunisme]] dan [[sosialisme]]. Sebagai wujud pemikiran [[Karl Marx]], komunisme adalah sistem yang mengharuskan pemerintah memiliki dan menggunakan seluruh faktor produksi. Namun, lanjutnya, kepemilikan pemerintah atas faktor-faktor produksi tersebut hanyalah sementara; Ketika perekonomian masyarakat dianggap telah matang, pemerintah harus memberikan hak atas faktor-faktor produksi itu kepada para buruh.
[[Uni Soviet]] dan banyak negara [[Eropa Timur]] lainnya menggunakan sistem ekonomi ini hingga akhir abad ke-20. Namun saat ini, hanya [[Kuba]], [[Korea Utara]], [[Vietnam]], dan [[TiongkokRepublik Rakyat Cina|RRC]] yang menggunakan sistem ini. Negara-negara itu pun tidak sepenuhnya mengatur faktor produksi. [[China]], misalnya, mulai melonggarkan peraturan dan memperbolehkan perusahaan swasta mengontrol faktor produksinya sendiri.
 
Ekonomi terencana selalu dikategorisasikan sebagai bagian dari sosialisme dan dalam sejarah didukung dan diimplementasikan oleh negara sosialis Marxis-Leninis. Ekonomi terencana berlawanan dengan ekonomi tak terencana, seperti ekonomi pasar
 
Meskipun kebanyakan ekonomi-ekonomi pada saat ini menggunakan ekonomi campuran berbasis pasar (yang hanya sebagian yang terencana), ekonomi terencana secara penuh jenis Soviet masih dijalankan di Kuba, Korea Utara dan Laos
 
.Ciri-ciri sistem ekonomi terencana ::
 
a. Semua faktor produksi dikuasai oleh negara sehingga kepemilikkan individu dan swasta tidak diakui.
 
b. Negara sepenuhnya mengatur kegiatan ekonomi seperti produksi, konsumsi, dan distribusi.
 
c.  Output dibagikan merata kepada masyarakat.
 
d.  Semua permasalahan perekonomian yang timbul dipecahkan oleh pemerintah pusat.
 
=== Sistem ekonomi tradisional ===
Sistem Ekonomi Tradisional Sistem ekonomi ini merupakan sistem ekonomi yang dijalankan secara bersama untuk kepentingan bersama (demokratis), sesuai dengan tata cara yang biasa ditempuh oleh nenek moyang sebelumnya.
 
Dalam sistem ini segala barang dan jasa yang diperlukan, dipenuhi sendiri oleh masyarakat itu sendiri. Tentunya Anda akan bertanya apa tugas pemerintah dalam sistem ekonomi tradisional ini?
 
Dalam sistem ekonomi tradisional, tugas pemerintah hanya terbatas memberikan perlindungan dalam bentuk pertahanan, dan menjaga ketertiban umum. Dengan kata lain kegiatan ekonomi yaitu masalah apa dan berapa, bagaimana dan untuk siapa barang diproduksi semuanya diatur oleh masyarakat.
 
Pada kehidupan masyarakat tradisional berkembang suatu sistem ekonomi tradisional. Dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan bergantung pada sumber daya alam. masyarakat juga memproduksi barang pemenuh kebutuhan yang di produksi hanya untuk kebutuhan tiap-tiap rumah tangga. dengan demikian rumah tangga dapat bertindak sebagai konsumen, produsen, dan keduanya.
 
'''Ciri dari sistem ekonomi tradisional adalah :'''
 
1.Teknik produksi dipelajari secara turun temurun  dan bersifat sederhana
 
2.Hanya sedikit menggunakan modal
 
3.Pertukaran dilakukan dengan sistem barter (barang dengan barang)
 
4.Belum mengenal pembagian kerja
 
5.Masih terikat tradisi
 
6.Tanah sebagai tumpuan kegiatan produksi dan sumber kemakmuran
 
'''Kelebihan Sistem ekonomi tradisional''' :
 
1. Tidak terdapat persaingan yang tidak sehat, hubungan antar individu sangat erat
 
2. Masyarakat merasa sangat aman, karena tidak ada beban berat yang harus dipikul
 
3. Tidak individualistis
 
'''Kelemahan sistem ekonomi tradisional :'''
 
1. Teknologi yang digunakan masih sangat sederhana, sehingga produktivitas rendah
 
2. Mutu barang hasil produksi masih rendah
 
=== Perekonomian pasar ===
Sistem ekonomi pasar adalah suatu sistem ekonomi di mana seluruh kegiatan ekonomi mulai dari produksi, distribusi dan konsumsi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sistem ini sesuai dengan ajaran dari Adam Smith, dalam bukunya ''An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.''
 
Perekonomian pasar bergantung pada  kapitalisme  dan liberalisme untuk menciptakan sebuah lingkungan di mana produsen dan konsumen bebas menjual dan membeli barang yang mereka inginkan (dalam batas-batas tertentu). Sebagai akibatnya, barang yang diproduksi dan harga yang berlaku ditentukan oleh mekanisme penawaran-permintaan.
 
Perekonomian pasar bergantung pada [[kapitalisme]] dan [[liberalisme]] untuk menciptakan sebuah lingkungan di mana produsen dan konsumen bebas menjual dan membeli barang yang mereka inginkan (dalam batas-batas tertentu). Sebagai akibatnya, barang yang diproduksi dan harga yang berlaku ditentukan oleh mekanisme penawaran-permintaan.
 
'''Ciri dari sistem ekonomi pasar adalah :'''
 
1. Setiap orang bebas memiliki barang, termasuk barang modal
 
2. Setiap orang bebas menggunakan barang dan jasa yang dimilikinya.
 
3. Aktivitas ekonomi ditujukan untuk memperoleh laba
 
4. Semua aktivitas ekonomi dilaksanakan oleh masyarakat (Swasta)
 
5. Pemerintah tidak melakukan intervensi dalam pasar
 
6. Peranan modal sangat vital
 
'''Kelebihan''' Sistem ekonomi pasar :
 
1. Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi
 
2. Setiap individu bebas memiliki sumber-sumber produksi
 
3. Munculnya persaingan untuk maju
 
4. Barang yang dihasilkan bermutu tinggi, karena barang yang tidak bermutu tidak akan laku dipasar
 
5. Efisiensi dan efektivitas tinggi karena setiap tindakan ekonomi didasarkan atas motif mencari laba
 
'''Kelemahan sistem ekonomi pasar :'''
 
1. Sulitnya melakukan pemerataan pendapatan
 
2. Cenderung terjadi eksploitasi kaum buruh oleh para pemilik modal
 
3. Munculnya monopoli yang dapat merugikan masyarakat
 
4. Sering terjadi gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu Perhatikan bagaimana sistem ekonomi
 
=== Perekonomian pasar campuran ===
Perekonomian pasar campuran atau ''mixed market economies'' adalah gabungan antara sistem perekonomian pasar dan terencana. Menurut Griffin, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang benar-benar melaksanakan perekonomian pasar ataupunatau pun terencana, bahkan negara seperti [[Amerika Serikat]]. Meskipun dikenal sangat bebas, pemerintah Amerika Serikat tetap mengeluarkan beberapa peraturan yang membatasi kegiatan ekonomi. Misalnya larangan untuk menjual barang-barang tertentu untuk anak di bawah umur, pengontrolan iklan (''advertising''), dan lain-lain. Begitu pula dengan negara-negara perekonomian terencana. Saat ini, banyak negara-negara [[Blok Timur]] yang telah melakukan [[privatisasi]]—pengubahan status perusahaaan pemerintah menjadi perusahaan swasta.
*
 
'''Ciri-ciri sistem ekonomi campuran :'''
 
1. Pemerintah sebagai pengendali dalam persaingan kegiatan ekonomi.
 
2. Kegiatan ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
 
3. Pemerintah menentukan berbagai macam kebijakan yang dianggap penting.
 
4. Pemerintah memotivasi serta membimbing kepada sektor usaha dalam kegiatan ekonomi.
 
5. Hak milik perorangan dan swasta diakui oleh pemerintah tetapi penggunaannya tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
 
'''Kelebihan sistem ekonomi campuran :'''
 
1. Sektor ekonomi yang dikuasai pemerintah lebih diarahkan untuk kepentingan masyarakat.
 
2. Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah, dengan swasta cenderung menguntungkan semua pihak.
 
3. Kegiatan usaha pihak swasta terikat pada peraturan yang dibuat pemerintah.
 
4. Pemakaian tenaga kerja pada umumnya disesuaikan dengan syarat-syarat perburuhan.
 
5. Penetapan harga lebih terkendali.
 
6. Hak perorangan secara nyata diakui.
 
'''Kelemahan sistem ekonomi campuran :'''
 
1. Beban pemerintah lebih berat daripada swasta dalam melakukan kegiatan ekonomi.
 
2. Sektor produksi yang lebih menguntungkan dikelola oleh pemerintah sehingga swasta kurang dapat memaksimalkan keuntungan dalam kegiatan usahanya.
 
3. Adanya anggapan bahwa karyawan yang bekerja pada pemerintah statusnya lebih tinggi daripada pegawai di swasta.
 
'''Pelaku ekonomi utama dalam perekonomian Indonesia :'''
 
'''''1. Rumah Tangga Konsumsi /RTK'''''
 
Rumah tangga konsumsi merupakan unit ekonomi yang paling kecil. Rumah tangga konsumsi adalah pemilik atau penyedia jasa dari berbagai faktor produksi. Faktor produksi yang dimiliki oleh rumah tangga akan digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan barang atau jasa. Rumah tangga konsumsi juga akan menggunakan barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhannya. Peran Rumah Tangga Konsumsi adalah :
 
1. Konsumen
 
2. Pemasok atau pemilik faktor produksi
 
Faktor produksi ada 4 macam yaitu :
 
1. Alam
 
2. Tenaga kerja
 
3.  Modal
 
4. Skill/keahlian
 
Dari keempat faktor produksi tersebut yang termasuk faktor produksi asli yaitu alam dan tenaga kerja sedangkan faktor produksi turunan terdiri dari modal dan skill Balas jasa dari faktor produksi yaitu :
 
1. Alam : sewa tanah
 
2. Tenaga kerja : upah/gaji
 
3. Modal : bunga modal
 
4. Skill/keahlian : laba
 
'''''2. Rumah Tangga Produksi/RTP/Perusahaan'''''
 
Perusahaan adalah suatu organisasi yang didirikan oleh satu atau beberapa orang yang bertujuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Perusahaan merupakan tempat berlangsungnya produksi. Peran Perusahaan sebagai pelaku ekonomi yaitu :
 
1. Produsen : menghasilkan barang dan jasa
 
2. Pengguna faktor produksi : menggunakan faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa
 
3. Pembangunan
 
'''''3. Pemerintahan'''''
 
Pemerintahan mencangkup semua lembaga atau badan pemerintahan yang memiliki wewenang dan tugas mengatur ekonomi. Dan pemerintah terjun langsung dalam kegiatan ekonomi melalui perusahaan negara (BUMN/BUMD). Peran Pemerintah sebagai pelaku ekonomi yaitu
 
1.Pengatur : mengatur perekonomian negara sehingga tercipta stabilitas ekonomi agar tidak merugikan masyarakat
 
pengaturan ekonomi secara langsung. contoh : perizinan, pengendalian lingkungan, pembayaran pajak, peraturan biaya tarif, penghapusan peraturan-peraturan yang dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi
 
pengaturan ekonomi secara tidak langsung. contoh : pemberian insentif bagi produsen untuk memproduksi barang tertentu, himbauan pemerintah agar konglomerat menyerahkan 2,5% keuntungannya untuk mengentaskan kemiskinan
 
2. Konsumen : membutuhkan barang dan jasa dalam menjalankan tugasnya
 
3.  Produsen : menghasilkan barang dan jasa melalui perusahaan milik negara (BUMN dan BUMD)
 
4. Regulasi : pengaturan kegiatan ekonomi secara langsung, sehingga pemerintah dapat menata kehidupan perekonomian sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan
 
5. upaya penghapusan regulasi yang dinilai menghambat perekonomian
 
'''''4. Masyarakat Luar Negeri'''''
 
Peranan masyarakat luar negeri sebagai pelaku ekonomi adalah :
 
·        Perdagangan
 
·        Pertukaran tenaga kerja
 
·        Penanaman modal
 
·        Pemberian pinjaman
 
·        Pemberian bantuan
 
'''D.Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Sistem Ekonomi di Indonesia'''
 
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sistem ekonomi Indonesia adalah sebagai berikut:
 
'''1.Faktor intern'''
 
'''''Lembaga ekonomi'''''
 
Lembaga ekonomi ialah pranata yang mempunyai kegiatan dalam bidang ekonomi demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat pada umumnya. Secara sederhana, lembaga ekonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut ; sektor agraris yang meliputi sektor pertanian, seperti sawah, perladangan, perikanan, dan pertenakan. (Gathering/pengumpulan) yaitu proses pengumpulan barang atau suberdaya alam dari lingkungannya. Sektor industri ditandai dengan kegiatan produksi barang. (production) sektor perdagangan merupakan aktivitas penyaluran barang dari produsen ke konsumen (distribusing) yaitu proses pembagian barang dan komonditas pada subsistem-subsistem lainnya.
 
'''''Sumber daya ekonomi'''''
 
Potensi sumberdaya ekonomi atau lebih dikenal dengan potensi ekonomi daerah pada dasarna dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki oleh daerah baik yang tergolong pada sumberdaya (natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya manusia yang dapat memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai modal dasar pembangunan (ekonomi) wilayah.
 
'''''Faktor produksi yang dimiliki'''''
 
Faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa. Pada awalnya, faktor produksi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan kewirausahaan. Namun pada perkembangannya, faktor sumber daya alam diperluas cakupannya menjadi seluruh benda tangibel, baik secara langsung dari alam maupun tidak, yang digunakan oleh perusahaan, yang kemudian disebut sebagai faktor fisik (''physical resources''). Selain itu, beberapa ahli juga menganggap sumber daya informasi sebagai sebuah faktor produksi mengingat semakin pentingnya peran informasi era globalisasi ini. (Griffin R: 2006) secara total, saat ini ada lima hal yang dianggap sebagai faktor produksi, yaitu tenaga kerja (''labor''), modal (''capital'') sumber daya fisik (''phsical resources''), kewirausahaan (''entrepreneurship''), dan sumber daa informasi (''information resourcs'').
 
'''''Ligkungan ekonomi'''''
 
Lingkungan ekonomi adalah sebuah penggabungan dari beberapa faktor ekonomi, seperti jumlah tenaga kerja, produktivitas, pendapatan, kekayaan, inflasi, dan suku bunga. Faktor-faktor ini terpengaruhi pola pengeluaran individu dan perusahaan.
 
Lingkungan ekonomi dipengaruhi oleh:
 
a. Pendapatan dan kekayaan : pendapatan perekonomian diukur dengan GDP, GNP, dan pendapatan perkapita. Nilai tinggi faktor-faktor ini menunjukkan suatu lingkungan ekonomi progresif.
 
b. Tingkat pekerjaan : kerja yang tinggi merupakan gambaran positif perekonomian. Namun, ada banyak pengangguran termasuk kerja parsial dan setengah pengangguran.
 
c. Produktivitas : ini adalah output yang dihasilkan dari jumlah yang diberikan masukan tingkat tinggi mendukung produktivitas lingkunan ekonomi.
 
'''''Organisasi dan manajemen'''''
 
Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing di peran tertentu dalam suatu sistem kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.
 
Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
 
'''2. Faktor Ekstern'''
 
'''''Falsafah Pancasila'''''
 
Sistem ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi yang berorientasi kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam sila ini diberlakukannya  etik dan moral agama, bukan materialisme. Kemanusiaan yang adil dan beradab yang tidak mengenal pemerasan atau eksploitasi. Persatuan Indonesia berlakunya kebersamaan, asas kekeluargaan, sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi dalam ekonomi.Kerakyatan mengutamakan kehidupan ekonomi rakyat dan hajat hidup orang banyak. Serta Keadilan Sosial yang mengutamakan persamaan/emansipasi, kemakmuran masyarakat yang utama bukan kemakmuran orang-seorang.
 
'''''Landasan Konstitusional UUD 1945'''''
 
Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal utama bertumpunya sistem ekonomi Indonesia. Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal mengenai keekonomian yang berada pada Bab XIV UUD 1945 yang berjudul Kesejahteraan Sosial. Kesejahteraan sosial adalah bagian tak terpisahkan dari cita-cita kemerdekaan. Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal restrukturisasi ekonomi, pasal untuk mengatasi ketimpangan struktural ekonomi. Ayat 1 Pasal 33 UUD 1945 menegaskan, bahwa perekonomian disusun sebagai usaha   bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.Perkataan disusun artinya        direstruktur. Seorang strukturalis pasti mengerti arti  disusun  dalam konteks restrukturisasi ekonomi, mengubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional, menghilangkan subordinasi ekonomi dan menggantinya dengan demokrasi ekonomi. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang. Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajad hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak tampuk produksi      jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat banyak         ditindasinya. Pasal dalam UUD lainnya yang mempengaruhi sistem ekonomi di Indonesia antara lain pasal-pasal 18, 23, 27 (ayat 2) dan 34.
 
'''''GBHN'''''
 
Berdasarkan TAP MPRS XXIII/1966, ditetapkanlah butir-butir Demokrasi Ekonomi (kemudian menjadi ketentuan dalam GBHN 1973, 1978, 1983, 1988), yang meliputi penegasan berlakunya Pasal-Pasal 33, 34, 27 (ayat 2), 23 dan butir-butir yang berasal dari Pasal-Pasal UUDS tentang hak milik yuang berfungsi sosial dan kebebasan memilih jenis pekerjaan. Dalam GBHN 1993 butir-butir Demokrasi Ekonomi ditambah dengan unsur Pasal 18 UUD 1945. Dalam GBHN 1998 dan GBHN 1999, butir-butir Demokrasi Ekonomi tidak disebut lagi dan diperkirakan dikembalikan ke dalam Pasal-Pasal asli UUD 1945.
 
'''''Keadaan kondisi politik'''''
 
Politik juga menentukan sistem ekonomi.  Seperti misalnya apabila kondisi politik di Indonesia yang tidak stabil seperti terjadi konflik di beberapa daerah yang disebabkan oleh faktor ekonomi, maka sistem ekonomi pun akan diganti karena sudah tidak seuai dengan kehidupan bangsa Indonesia.
 
'''''Kepastian hukum'''''
 
Kepastian hukum tentang sistem ekonomi tersebut berdasarkan pada Pancasila serta UUD 45.
 
'''''Masyarakat dalam arti luas'''''
 
Yang dimaksud masyarakat dalam arti luas yaitu semua masyarakat Indonesia dari golongan bawah hingga golongan atas yang berpastisipasi dalam perekonomian Indonesia.
 
'''''Pemerintah'''''
 
Keputusan pemerintah dalam mengubah atau menetapkan sistem ekonomi sangatlah penting. Karena keputusan tertinggi ada pada pemerintah. Walaupun masyarakat menghendaki pengubahan tersebut, namun pemerintah tidak mengubahnya, maka sistem ekonomi pun tidak akan berubah.
 
'''Peranan aparatur Perekonomian Indonesia'''
 
Seperti yang telah di ketahui bahwa Dalam sistem perekonomian Indonesia ada bebrapa peranan aparatur perekonimuan Indonesia ada tiga pilar utama yang menyangga perekonomian yakni BUMN,BUMS,dan koprasi Ketiga pilar ekonomi tersebut mempunyai peranan yang masing-masing sangat spesifik sesuai dengan kapasitasnya. Sayangnya seperti yang di ungkapkan oleh Widiyanto (1998), dari  ketiga pilar itu koprasi sering di sebut sebagai soko guru perekonomian,secara umum merupakan pilar ekonomi yang “jalan nyapaling terseok”di bandingkan dengan BUMN dan apalgi BUMS.Padahal,koprasi selama ini sudah di dukung oleh pemerintah(bahkan berlebihan) sesuai kedudukan istimewa dari koprasi di dalam sistem perekonomian Indonesia.
 
Sebagai soko guru perekonomian ide dasar pembentukan koprasi sering di kaitkan dengan pasal 33 UUD 1945 khususnya ayat 1 yang menyebutnya bahwa “Perekonomian di susun sebagi usaha bersama berdsarkan atas asas kekeluargaan” di perjelas bahwa usaha yang paling cocok dengan asa atas kekeluargaan itu adalah koprasi tafsiran itu sering di sebut sebagi perumus pasal tersebut.
 
Kata asas kekeluargaan ini walau dapat di perdebatkan sering di kaitkan dengan koprasi sebab asas pelaksannaan usaha koprasi juga termasuk dalam kekeluargaan untuk lebih menata ogganisasi koprasi pada tahun 1967 pemerintah Indonesia (presiden dan DPR) mengeluarka UU No.12 dan pada tahun 1992 UU tersebut di revisi menjadi UU No.25 yang lebih konfrehensif tetapi juga lebih berorientasi ke pemahaman “kapitalis”
 
a.             Peranan BUMN dalam perekonomian negara
 
Berdasarkan Peraturan pemerintah (PP) nomor 3 tahun 1983, tentang pembinaan dan pengawasan BUMN, menetapkan bahwa tujuan BUMN sebagai aparatur perekonomian negara adalah :
 
1)            Memberikan sumbangan perkembangan ekonomi negara penerimaan negara
 
2)            Mengadakan pemupukan keuntungan dan pendapatan
 
3)            Menyelenggarakan pemanfaatan umum berupa barang dan jasa bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak
 
4)            Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan sektor swasta dan koperasi
 
5)            Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan usaha yang bersifat melangkah kegiatan swasta dan koperasi
 
6)            Membimbing sektor swasta, khususnya penyusaha golongan ekonomi lemah dan sektor koperasi
 
7)            Melaksanakan dan menunjuang pelaksanaan program dan kebijakan pemerintah dan bidang ekonomi dan pembangunan
 
b.            Peranan sektor swasta dalam perekonomian (BUMS)
 
1)            membantu pemerintah memperbesar penerimaan negara melalui pembayaran pajak
 
2)            sebagai partner atau mitra pemerintah dalam mengusahakan SDA dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia
 
3)            membuka kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru
 
4)            membantu pemerintah mengelola dan mengusahakan kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi yang tidak ditangani pemerintah
 
5)            membantu pemerintah meningkatkan devisa nonmigas melalui kegiatan pariwisata, ekspor-impor, jasa transportasi, dll.
 
6)            membantu meningkatkan produksi nasional.
 
7)            membantu pemerintah dalam usaha pemerataan pendapatan
 
8)            membantu pemerintah memakmurkan bangsa
 
9)            Ikut mendatangkan devisa negara melalui kegiatan ekspor, impor, dan penyelenggaraan jasa.
 
Bentuk perusahaan swasta (BUMS) yaitu Perusahaan Perseorangan, Perseroan Terbatas (PT), Persekutuan Komanditer (CV), dan Persekutuan Firma (Fa).
 
c.       Adapun Peran koperasi dalam perekonomian Indonesia yaitu :
 
koperasi berdasarkan atas asas kekeluargaan sehingga sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia
 
koperasi sesuai golongan ekonomi lemah yang mayoritas penduduk Indonesia.
 
berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 adalah :
 
1)            sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan rakyat
 
2)            sebagai sarana meningkatkan penghasilan rakyat
 
3)            sebagai badan usaha ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja
 
4)            berperan dalam upaya pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa.
 
PERMASALAHAN YANG TIMBUL
 
AKIBAT PENERAPAN SISTEM EKONOMI DI INDONESIA
 
'''A. Ekonomi Indonesia pada masa orde lama (1950-1966)'''
 
1. Demokrasi Liberal
 
a. Kondisi Ekonomi Indonesia Pada Masa Demokrasi Liberal (1950-1959).
 
Kondisi Ekonomi Indonesia pada masa liberal masih sangat buruk. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
 
1. Setelah pengakuan kedaulatan dari Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, Bangsa Indonesia menanggung beban keuangan dan ekonomi, seperti yang telah ditetapkan dalam hasil KMB. Beban tersebut berupa utang luar negeri sebesar 1,5 triliun rupiah dan utang dalam negeri sejumlah 2,8 triliun rupiah.
 
2. Politik Keuangan Indonesia tidak dibuat di Indonesia melainkan dirancang di Belanda.
 
3. Pemerintah Belanda tidak mewarisi ahli-ahli yang cukup untuk mengubah sistem ekonomi kolonial menjadi sistem ekonomi nasional.
 
4. Tidak stabilnya situasi politik dalam negeri mengakibatkan pengeluaran pemerintah untuk operasi-operasi keamanan sangat meningkat.
 
5. Defisit yang harus ditanggung pemerintah RI pada waktu itu sebesar Rp. 5,1 miliar.
 
6. Ekspor Indonesia hanya bergantung pada hasil perkebunan.
 
7. Angka pertumbuhan jumlah penduduk besar.
 
Defisit itu berhasil ditanggulangi oleh pemerintah dengan pinjaman luar negeri sebesar Rp. 1,6 miliar. Selanjutnya melaui sidang uni Indonesi-Belanda disepakati kredit sebesar Rp.200juta dari Negeri Belanda. Masalah jangka pendek yang harus diselesaikan pemerintah adalah:
 
1. Mengurangi jumlah uang yang beredar.
 
2. Mengatasi kenaikan biaya hidup.
 
Sementara itu masalah jangka panjang adalah masalah pertambahan penduduk dan tingkat kesejahteraan penduduk yang rendah.
 
b. Usaha untuk memperbaiki perekonomian.
 
''1. Gunting Syarifuddin''
 
Kebijakan gunting syarifuddin adalah pemotongan nilai uang. Tindakan keuangan ini dilakukan pada tanggal 20 maret 1950 dengan cara memotong semua uang memotong semua uang yang bernilai Rp. 2,50 ke atas hingga nilainya tinggal setengahnya. Kebijakan keuangan ini dilakukan pada masa pemerintahan RIS oleh menteri keuangan pada waktu itu Syarifuddin Prawiranegara.
 
''2. Program Benteng (benteng group)''
 
Gagasan program benteng dituangkan oleh Dr. Sumitro Djojohadikusumo dalam program kabinet Natsir (September-April 1951). Pada saat itu Sumitro menjabat sebagai menteri perdagangan. Selam 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program Benteng ini. Akan tetapi, tujuan dari program ini tidak dapat dicapai dengan baik. Kegagalan program ini disebabkan para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan perusahaan non pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal. Kegagalan Program Benteng menjadi salah satu sumber defisit keuangan. Walaupun dilanda krisis moneter, namun menteri keuangan pada masa kabinet sukiman, Jusuf Wibisono masih memberikan bantuan kredit, khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional dari golongan ekonomi lemah. Dengan memberikan bantuan tersebut diharapkan masih terdapat pengusaha pribumi sebagai produsen yang dapat menghemat devisa dengan mengurangi volume impor.
 
''3. Nasionalisasi de javasche bank''
 
Pada tanggal 19 Juni 1951, kabinet Sukiman membentuk nasionalisasi De Javasche Bank. Kemudian berdasarkan keputusan-keputusan pemerintah RI N. 122 dan 123, tanggal 12 Juli 1951, pemerintah memberhentikan Dr. Houwink sebagai Presiden De Javasche Bank dan mengangkat Syarifuddin Prawiranegara sebagai Presiden De Javasche Bank yang baru. Pada tanggal 15 Desember 1951 diumumkan Undang-undang No. 24 tahun 1951 tentang nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai Bank sentral dan Bank Sirkulasi.
 
''4. Sistem Ekonomi Ali-Baba''
 
Diprakarsai oleh Iskaq Tjokrohadisurjo, menteri perekonomian dalam kabinet Ali Sastroamijoyo I. Dalam sistem ini Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi, sedangkan Baba digambarkan sebagai pengusah non pribumi. Dalam kebijakan Ali Baba, pengusaha non pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga bangsa indonesia agar dapat menduduki jabatan-jabatan staf. Selanjutnya, pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swata nasional dan memberikan perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang ada. Program ini tidak dapat berjalan dengan baik, sebab pengusah pribumi kurang berpengalaman sehingga hanya dijadikan lat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
 
''5. Persetujuan Finansial Ekonomi (Finek)''
 
Pada masa pemerintahan kabinet Burhanuddin Harahap dikirimkan suatu delegasi ke Jenewa untuk merundingkan masalah finansial-ekonomi antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Misi yang dipimpin oleh Anak Agung Gede Agung pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan sebagai berikut:
 
· Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan.
 
· Hubungan Finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral.
 
· Hubungan Finek didasarkan pada Undang-Undang Nasional, tidak boleh diikat oleh perjanjian lain antara kedua belah pihak.
 
Karena pemerintah Belanda tidak mau menandatangani persetujuan ini, maka pemerintah RI mengambil langkah sepihak. Pada tanggal 13 Februari 1956, Kabinet Burhanuddin Harahap melakukan pembubaran Uni Indonesia-Belanda secara sepihak. Hal ini dimaksudkan untuk melepaskan diri dari keterikatan ekonomi dengan Belanda. Sebagai tindak lanjut daripembubaran uni tersebut, pada tanggal 3 Mei 1956 Presiden Soekarno menandatangani undang-undang pembatalan KMB. Akibatnya, banyak pengusaha-pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya, sedangkan pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda tersebut.
 
''6. Rencana Pembangunan Lima tahun (RPLT)''
 
Pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo II, pemerintah membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang disebut Biro Perancang Negara. Ir. Djuanda diangkat sebagai menteri perancang nasional. Pada bulan Mei 1956, Biro ini berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya akan dilaksanakan antara tahun 1956-1961. Rencana Undang-Undang tentang rencana Pembangunan ini disetujui oleh DPR pada tanggal 11 November 1958. Pembiayaab RPLT ini diperkirakan mencapai Rp. 12,5 miliar. RPLT ini tidak dapat berjalan dengan baik disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
 
· Adanya depresi ekonomi Amerika Serikat dan Eropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan ekspor dan pendapatan negara merosot.
 
· Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan melakukan Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolak ekonomi.
 
· Adanya ketegangan antara pusat dan daerah sehingga banyak daerah yang melaksanakan kebijakannya masing-masing.
 
''7. Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap)''
 
Ketegangan antara pusat dan daerah pada masa Kabinet Djuanda untuk sementara waktu dapat diredakan dengan diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap). Ir. Djuanda sebagai Perdana Menteri memberikan kesempatan kepada Munap untuk mengubah rencana pembangunan itu agar dapat dihasilkan rencana pembangunan yang menyeluruh untuk jangka panjang. Akan tetapi, rencana pembangunan ini tidak dapat berjalan dengan baik karena menemukan kesulitan dalam menemukan prioritas. Selain itu ketegangan politik yang tak bisa diredakan juga mengakibatkkan pecahnya pemberontakan PRRI/Permesta. Untuk mengatasi pemberontakan ini diperlukan biaya yang sangat besar sehingga emningkatkan defisit. Sementara itu ketegangan politik antara Indonesia dengan Belanda menyangkut Irian Barat juga memuncak menuju konfrontasi bersenjata.
 
2. Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
 
Strukur Ekonomi Indonesia pada waktu itu menjurus kepada sistem etatisme, artinya segala-galanya diatur dan dipegang oleh pemerintah. Kegiatan-kegiatan ekonomi banyak diatur oleh peraturan-peraturan pemerintah, sedangkan prinsip-prinsip ekonomi banyak yang diabaikan. Akibatnya, defisit dari tahun ke tahun meningkat 40 kali lipat. Dari Rp. 60,5 miliar pada tahun 1960 menjadi Rp. 2.514 miliar pada tahun 1965, sedangkan penerimaan negara pada tahun 1960 sebanyak Rp. 53,6 miliar, hanya meningkat 17 kali lipat menjadi Rp. 923,4 miliar . Mulai bulan Januari – Agustus 1966, pengeluaran negara menjadi Rp. 11 miliar, sedangkan penerimaan negara hanya Rp. 3,5 miliar. Defisit yang semakin meningkat ditutup dengan pencetakan uang baru tanpa perhitungan matang. Akibatnya menambah berat angka inflasi.
 
Dalam rangka membendung inflasi dan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka pada tanggal 25 Agustus 1959 pemerintah mengumumkan keputusannya tentang penurunan nilai uang (devaluasi) sebagai berikut.
 
1. Uang kertas pecahan bernilai Rp. 500 menjadi Rp. 50.
 
2. Uang kertas pecahan bernilai Rp. 1000 menjadi Rp. 100.
 
3. Pembekuan semua simpanan di bank yang melebihi Rp. 25.000
 
Usaha Pemerintah ini tidak mampu mengatasi kemerosotan ekonomi yang semakin jauh, terutama perbaikan dalam bidang moneter. Pada tanggal 28 Maret 1963 dikeluarkan landasan baru bagi ekonomi secara menyeluruh, yaitu Deklarasi Ekonomi (Dekon). Dekon dinyatakan sebagai dasar ekonomi Indonesia yang menjadi bagian dari strategi umum Revolusi Indonesia. Tujuan dibentuknya Dekon adalah untuk menciptakan ekonomi yang bersifat nasional, demkratis dan bebas dari sisa-sisa imperialisme untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya, Dekon mengakibatkan stagnasi dalam perekonomian Indonesia. Kesulitan-kesulitan ekonomi semakin mencolok.
 
Pada tahun 1961-9162 harga barang-barang pada umumnya naik 400%. Politik Konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat semakin memperparah kemerosotan ekonomi Indonesia.
 
Pada tanggal 13 Desember 1965 melalui penetapan Presiden No. 27 tahun 1965, diambillah langkah devaluasi dengan menjadikan Uang senilai Rp. 1000 menjadi Rp. 1. Sehingga uang rupiah baru semestinya bernilai 1000 kali lipat uang lama. Akan tetapi di dalam Masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi uang rupiah baru. Akibatnya, tindakan moneter pemerintah menekan inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.
 
Pada masa Demokrasi terpimpin ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan oleh pemerintah. Akibatnya pemerintah harus mengadakan peneluaran-pengeluaran yang sangat besar, sehingga harga-harga kebutuhan pokok makin melambung tinggi. Tingkat harga paling tinggi terjadi pada tahun 1965, yaitu sebesar 200%-300% dari tahun sebelumnya, seiring dengan ekspor yang semakin lesu dan impor yang dibatasi karena lemahnya devisa.
 
Dalam rangka pelaksanaan ekonomi terpimpin, Presiden Soekarno merasa perlu untuk mempersatukan semua bank negara kedalam satu bank sentral. Untuk itu dikeluarkan penpres No. 7 Tahun 1965 tentang pendirian Bank Tunggal Milk Negara. Tugas bank tersebut sebagai bank sirkulasi, bank sentral dan bank umum. Untuk mewujudkan tujuan itu maka dilakukan peleburan bank-bank negara Seperti Bank koperasi dan Bank Nelayan (BKTN), Bank Umum Negara, Bank Tabungan negara, Bank Negara Indonesia kedalam Bank Indonesia. Selanjutnya dibentuklah Bank Negara Indonesia yang terbagi dalam beberapa unit dengan pekerjaan dan tugas masing-masing.
 
'''B. Ekonomi Indonesia Pada Masa Orde Baru (1966-1998)'''
 
Tepatnya sejak bulan Maret 1966 Indonesia memasuki pemerintahan Orde Baru. Berbeda dengan pemerintahan Orde Lama, dalam era Orde Baru ini perhatian pemerintah lebih ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat pembangunan ekonomi dan sosial di tanah air. Pemerintahan Orde Baru menjalin kembali hubungan baik dengan pihak Barat dan menjauhi pengaruh ideologi komunis. Indonesia juga kembali menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga dunia lainnya, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter International (IMF).
 
Sebelum rencana pembangunan lewat Repelita dimulai, terlebih dahulu pemerintah melakukan pemulihan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik serta rehabilitasi ekonomi di dalam negeri. Sasaran dari kebijakan tersebut terutama adalah untuk menekan kembali tingkat inflasi, mengurangi defisit keuangan pemerintah, dan menghidupkan kembali kegiatan produksi, termasuk ekspor yang sempat mengalami stagnasi pada masa Orde Lama.
 
Pada permulaan Orde Baru, program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha mengendalikan tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan poko rakyat. Tindakan pemerintah tersebut dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi kurang lebih 650% setahun. Hal itu menjadi penyebab dari kurang lancarnya program pembangunan yang telah direncanakan oleh pemerintah.
 
Arah dan kebijakan Ekonomi yang ditempuh oleh pemerintah Orde Baru diarahkan pada pembangunan disegala bidang. Pelaksanaan pembangunan orde baru bertumpu pada program yang dikenal dengan sebuah program yang dikenal dengan ''Trilogi Pembangunan'', yaitu sebagai berikut.
 
''a)'' Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 
''b)'' Pertumbuhan eoknomi yang cukup tinggi.
 
''c)'' Stabilitas nasional yabg sehat dan dinamis.
 
Pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) dilakukan orde baru secara periodik 5 tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Pembangunan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
 
''a) Pelita I (1 April 1969 – 31 Maret 1974)''
 
Tujuan dari Pelita I adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar –dasar pembangunan dalam tahap-tahap berikutnya. Sasaran yang hendak dicapai ialah pangan, sandang, papan, perluasan lapangan kerja dan kesejahteraan rohani. Pelita I lebih menekankan kepada pembangunan bidang pertanian.
 
''b) Pelita II (1 April 1974 – 31 Maret 1979)''
 
Sasaran utama Pelita II yaitu tersedianya pangan, sandang, perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat, dan memperluas kesempatan kerja.
 
''c) Pelita III (1 April 1979 – 31 Maret 1984)''
 
Pelita III menekankan pada Trilogi Pembangunan dengan tekanan pada asas pemerataan, yaitu :
 
o  Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak (pangan, sandang dan papan);
 
o  Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan;
 
o  Pemerataan pembagian pendapatan;
 
o  Pemerataan kesempatan kerja;
 
o  Pemerataan kesempatan berusaha;
 
o  Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalm pembangunan;
 
o  Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air; dan
 
o  Pemerataan memperoleh keadilan.
 
''d) Pelita IV (1 April 1984 – 13 Maret 1989)''
 
Pada titik ini pemerintah lebih menitikberatkan kepada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri.
 
''e) Pelita V (1 April 1989 – 31 Maret 1994)''
 
Pada Pelita ini pemerintah menitikberatkan pada sektor pertanian dan industri.
 
''f) Pelita VI (1 April 1994 – 31 Maret 1999)''
 
Pada Pelita VI Pemerintah masih menitikberatkan pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.
 
'''C. Ekonomi Indonesia Pada Masa Transisi'''
 
Pada tanggal 14 dan 15 Mei 1997, nilai tukar baht Thailand terhadap dolar AS mengalami suatu goncangan hebat akibat para investor asing mengambil keputusan ‘jual’. Apa yang terjadi di Thailand akhirnya merembet ke Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, awal dari krisis keuangan di Asia. Sejak saat itu, posisi mata uang Indonesia mulai tidak stabil.
 
Sekitar bulan September 1997, nilai tukar rupiah yang terus melemah mulai menggoncang perekonomian nasional. Untuk mencegah agar keadaan tidak tambah memburuk, pemerintah Orde Baru mengambil beberapa langkah konkret, di antaranya menunda proyek-proyek senilai Rp 39 triliun dalam upaya mengimbangi keterbatasan anggaran belanja negara yang sangat dipengaruhi oleh perubahan nilai rupiah tersebut.
 
Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan transisi memiliki karakteristik sebagai berikut:
 
• Kegoncangan terhadap rupiah terjadi pada pertengahan 1997, pada saat itu dari Rp. 2.500 menjadi Rp 2.650 per dollar AS. Sejak masa itu keadaan rupiah menjadi tidak stabil.
 
• Krisis rupiah akhirnya menjadi semakin parah dan menjadi krisi ekonomi yang kemudian memuncuilkan krisis politik terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
 
• Pada awal pemerintahan yang dipimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi. Namun, ternyata pemerintahan baru ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, sehingga kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya sebagai masa transisi karena KKN semakin menjadi, banyak kerusuhan.
 
'''E.    Ekonomi Indonesia Pada Masa Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)'''
 
Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid memiliki karakteristik sebagai berikut:
* Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia mulai mengarah pada perbaikan, di antaranya pertumbuhan PDB yang mulai positif, laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah, sehingga kondisi moneter dalam negeri jufga sudah mulai stabil.
* Hubungan pemerintah di bawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amendemen UU No.23 tahun 1999 mengenai bank Indonesai, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda.
* Politik dan sosial yang tidak stabil semakin parah yang membuat investor asing menjadi enggan untuk menanamkan modal di Indonesia.
* Makin rumitnya persoalan ekonomi ditandai lagi dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung negatif, bahkan merosot hingga 300 poin, dikarenakan lebih banyaknya kegiatan penjualan daripada kegiatan pembelian dalam perdagangan saham di dalam negeri.
'''E. Ekonomi Indonesia Pada Masa Presiden Megawati Soekarnoputri'''
 
Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain : .
 
a) Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun. .
 
b) Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam
 
periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan- kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
 
Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkret dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu jalannya pembangunan nasional.
 
'''F. Ekonomi Indonesia Pada Masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono'''
 
Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
 
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah.
 
Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salah satunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.
 
Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negeri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sektor riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sektor riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri, tetapi di lain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.
 
== Referensi ==
* Griffin R dan Ronald Elbert. 2006. ''Business''. New Jersey: Pearson Education.
 
__PAKSADAFTARISI__
 
[[Kategori:Ekonomi]]
Pengguna anonim