Jayabaya: Perbedaan revisi

2 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
(Menolak 6 perubahan teks terakhir dan mengembalikan revisi 10372748 oleh Aldio Yudha Trisandy)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
 
== Pemerintahan Jayabhaya ==
Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan [[Kediri]]. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta ''[[Kakawin Bharatayuddha]]'' (1157).
 
Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan ''Panjalu Jayati'', yang artinya [[Kediri]] menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada [[Kediri]] selama perang melawan [[Jenggala]].
Dikisahkan Jayabaya adalah titisan [[Wisnu]]. Negaranya bernama '''Widarba''' yang beribu kota di '''Mamenang'''. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra [[Parikesit]], putra [[Abimanyu]], putra [[Arjuna]] dari keluarga [[Pandawa]].
 
Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah [[Jawa]], bahkan sampai [[Majapahit]] dan [[Mataram Islam]]. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan [[Anglingdarma]] raja Malawapati.
 
Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan [[moksha]] di desa Menang, Kecamatan Pagu, [[Kabupaten Kediri]]. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.
Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari [[Surakarta]] bernama [[Ranggawarsita]] sering disebut sebagai penulis naskah-naskah [[Ramalan Jayabaya]]. Akan tetapi, [[Ranggawarsita]] biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah [[Ramalan Jayabaya]] pada umumnya bersifat anonim.
 
=== Ramalan Prabu Jayabaya ===
 
Ramalan Jayabaya, adalah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa pada masa datang. Dalam Ramalan Jayabaya itu dikatakan, akan datang satu masa penuh bencana.
Bagaimana dengan Satria Piningit ?
 
Banyak juga teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut "Promethean",
diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api (pencerahan) pada manusia. Toynbee menamakannya Creative Minorities.
Tapi mereka bukan sekedar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada bangsanya, sesama manusia, dan pada Tuhannya. Lihat misalnya berapa banyak hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya ilmu. Dan perhatikan lanjutan pidato Bung Karno ini: