Kepayang: Perbedaan revisi

390 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
Menolak 2 perubahan teks terakhir (oleh 125.165.178.110 dan HsfBot) dan mengembalikan revisi 12187854 oleh HsfBot: Tidak ada rujukan
k (Bot: Perubahan kosmetika)
(Menolak 2 perubahan teks terakhir (oleh 125.165.178.110 dan HsfBot) dan mengembalikan revisi 12187854 oleh HsfBot: Tidak ada rujukan)
}}
'''Kepayang''' atau '''keluak''' (''Pangium edule'' [[Reinw.]] ex [[Blume]]; [[familia|suku]] [[Achariaceae]], dulu dimasukkan dalam [[Flacourtiaceae]]) adalah [[pohon]] yang tumbuh liar atau setengah liar penghasil bahan bumbu masak sejumlah masakan Nusantara. Orang [[Sunda]] menyebutnya ''picung'' atau ''pucung'', orang [[suku Jawa|Jawa]] menyebutnya ''pucung''. ''kluwak'', atau ''kluwek'', dan di [[Toraja]] disebut ''pamarrasan''.
 
Didaerah Besemah (Pagaralam dan Lahat Sumatera-Selatan) biji buah kepayang sangat populer dijadikan sebagai masakan yang lezat, tetapi sebelum dimasak bijik buah kepayang yang mengandung asam sianida di rendam dalam air mengalir/sungai selama beberapa hari sampai racunya hilang, dan diaderah Besemah biji buah kepayang yang siap dijadikan masakan banyak dijual dipasar-pasar tradisional.
 
[[Biji]] keluak dipakai sebagai [[bumbu dapur]] [[masakan Indonesia]] yang memberi warna hitam pada [[rawon]], [[daging bumbu keluak]], [[brongkos]], serta [[sup konro]]. Bijinya, yang memiliki [[salut biji]] yang dimanfaatkan, bila mentah sangat beracun karena mengandung [[asam sianida]] dalam konsentrasi tinggi. Bila dimakan dalam jumlah tertentu menyebabkan mabuk.
10.371

suntingan