Kaharingan: Perbedaan revisi

23 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Kaharingan/Hindu Kaharingan''' adalah [[religi suku]] atau [[kepercayaan]] [[tradisional]] suku [[Dayak]] di [[Kalimantan]]. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah ''danum kaharingan belum'' (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap [[Tuhan Yang Maha Esa]] (''Ranying''), yang [[hidup]] dan [[tumbuh]] secara turun temurun dalam masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah [[Indonesia]] mewajibkan [[penduduk]] dan [[warganegara]] untuk menganut salah satu [[agama]] yang diakui oleh [[pemerintah]] RI[[Republik Indonesia]]. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti [[Tollotang]] ([[Hindu Tollotang]]) pada [[suku Bugis]], dimasukkan dalam kategori [[agama]] [[Hindu]], mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut ''[[Yadnya]]''. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai [[Tuhan Yang Maha Esa]], hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan diesebutdisebut ''Ranying''. Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam [[Kartu Tanda Penduduk]], dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara.
 
Tetapi di [[Malaysia]] [[Timur]] ([[Sarawak]], [[Sabah]]), nampaknya kepercayaan ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama [[Hindu]], jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah M[[ajelisMajelis Besar Agama Hindu Kaharingan]] (MBAHK) pusatnya di [[Palangkaraya]], [[Kalimantan Tengah]].
{{indo-stub}}
 
33.263

suntingan