Revitalisasi sastra pedalaman: Perbedaan revisi

k
Bot: Perubahan kosmetika
k
k (Bot: Perubahan kosmetika)
<ref>Salihara: [http://salihara.org/kalam/back-issues/detail/suara-suara-dari-tepian-negeri SUARA-SUARA DARI TEPIAN NEGERI], diakses 24 Februari 2017</ref><ref>Google Books: [https://books.google.co.id/books?id=iCh2XorBXNgC&pg=PA385&lpg=PA385&dq=Beno+Siang+Pamungkas+lahir+di&source=bl&ots=bDHt_e0L-a&sig=E0OUDSYgjUaZvMlnRrGljnOF-8Y&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjV1cqG7KfSAhUEPo8KHWwnDP0Q6AEILzAD#v=onepage&q=Beno%20Siang%20Pamungkas%20lahir%20di&f=false Leksikon Kesusastraan Indonesia], diakses 24 Februari 2017</ref><ref>Komunitas Sastra: [https://komunitassastra.wordpress.com/2009/12/31/tentang-sastra-pedalaman-itu/ TENTANG “SASTRA PEDALAMAN” ITU], diakses 24 Februari 2017</ref>
 
== Latar belakang ==
RSP merupakan aktivitas bersastra yang lebih mengutamakan pemasyarakatan karya sastra secara langsung kepada publik sastra, dengan cara membacakan sajak-sajak, cerita pendek, dan menyelenggarakan beberbagai macam pertunjukan seni secara bergilir di berbagai kota di Jawa, dan menerbitkan kumpulan puisi, baik perorangan maupun bersama. Gerakan yang diselenggarakan pada [[dasawarsa]] [[1990]]-an, ini dipelopori oleh beberapa tokoh [[sastra]] [[Indonesia]], antara lain [[Triyanto Triwikromo]], [[Sosiawan Leak]], [[Kusprihyanto Namma]], [[Beno Siang Pamungkas]], [[Wijang Wharek|Wijang Wharek Al-Mauti]], dan [[Bagus Putu Parta]]. Puncak polemik Revitalisasi Sastra Pedalaman terjadi pada tanggal 22 November 1994 saat diselenggarakan perhelatan "Debat Sastra Pedalaman" di Fakultas Sastra [[Universitas Gajah Mada]] [[Yogyakarta]], dengan menghadirkan pembicara yaitu [[Faruk HT]], [[Ahmad Tohari]], dan Beno Siang Pamungkas.
 
Nyatanya, memang kegiatan kultural di luar Jakarta terus meningkat jumlahnya, dan “kantong-kantong sastra” bertumbuhan dengan subur di kota-kota kecil dan pelosok-pelosok di Jawa. Sebuah gerakan bernama Revitalisasi Sastra Pedalaman muncul di awal 1990-an dengan tujuan untuk menciptakan karya-karya yang tidak didikte oleh standar-standar estetika ibukota. Geliat serupa yang berorientasi pada pedalaman juga terjadi di Sumatra dan Bali. Setiap daerah punya format dan strategi berbeda dalam mengungkapkan estetika lokal yang khas, tetapi faktor pemersatu berbagai gerakan ini adalah ketidakpuasan mereka terhadap Jakarta. Sikap oposisional ini dikritik oleh Nirwan Dewanto, yang mengingatkan bahwa pemosisian Jakarta sebagai “pusat”, dan pengerahan gerakan perlawanan terhadapnya, hanya akan berujung pada semakin kukuhnya mitos Jakarta sebagai lokus kuasa dominan ([[Nirwan Dewanto]], 1994).
 
== Lihat pula ==
* [[Sastra kontekstual]]
* [[Ariel Heryanto]]
 
== Referensi ==
{{reflist}}