Rakai Pikatan: Perbedaan revisi

8 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
k (menambahkan Kategori:Tokoh Jawa menggunakan HotCat)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
'''Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku''' adalah raja keenam [[Kerajaan Medang]] ''periode Jawa Tengah'' (atau lazim disebut [[Kerajaan Mataram Kuno]]) yang memerintah sekitar tahun [[840]]-an – [[856]].
 
== Nama Asli dan Gelar ==
Rakai Pikatan terdapat dalam daftar para raja versi [[prasasti Mantyasih]]. Nama aslinya menurut prasasti Argapura adalah '''Mpu Manuku'''. Pada prasasti Munduan tahun [[807]] diketahui Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian pada prasasti Kayumwungan tahun [[824]] jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar. Mungkin saat itu Mpu Manuku sudah pindah jabatan menjadi Rakai Pikatan.
 
Akan tetapi, pada prasasti Tulang Air tahun [[850]] Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan. Sedangkan menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar telah meninggal sebelum tahun [[832]]. Kiranya daerah Patapan kembali menjadi tanggung jawab Mpu Manuku, meskipun saat itu ia sudah menjadi [[maharaja]]. Tradisi seperti ini memang berlaku dalam sejarah [[Kerajaan Medang]] di mana seorang raja mencantumkan pula gelar lamanya sebagai kepala daerah, misalnya [[Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung]].
[[Pramodawardhani]] adalah putri [[Samaratungga]] yang namanya tercatat dalam prasasti Kayumwungan tahun [[824]]. Saat itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali tidak disebut. Mungkin saat itu [[Pramodawardhani]] belum menjadi istri Mpu Manuku.
 
Sejarawan De Casparis menganggap Rakai Patapan Mpu Palar sama dengan [[Maharaja]] [[Rakai Garung]] dan merupakan ayah dari Mpu Manuku. Keduanya merupakan anggota [[Wangsa Sanjaya]] yang berhasil menjalin hubungan perkawinan dengan [[Wangsa Sailendra]].
 
Teori ini ditolak oleh [[Slamet Muljana]] karena menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar merupakan pendatang dari [[pulau Sumatra]] dan semua anaknya perempuan. Lagi pula, Mpu Manuku sudah lebih dulu menjabat sebagai Rakai Patapan sebelum Mpu Palar. Kemungkinan bahwa Mpu Manuku merupakan putra Mpu Palar sangat kecil.
 
Sementara itu, Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun [[807]], sedangkan [[Pramodawardhani]] masih menjadi gadis pada tahun [[824]]. Hal ini menunjukkan kalau perbedaan usia di antara keduanya cukup jauh. Mungkin, Rakai Pikatan Mpu Manuku berusia sebaya dengan mertuanya, yaitu [[Samaratungga]].
 
[[Pramodawardhani]] bukanlah satu-satunya istri Rakai Pikatan. Berdasarkan prasasti Telahap diketahui istri Rakai Pikatan yang lain bernama Rakai Watan Mpu Tamer. Kiranya saat itu gelar [[mpu]] belum identik dengan kaum laki-laki.
Sementara itu istilah Walaputra dalam prasasti Wantil bermakna “putra bungsu”. Jadi, istilah ini bukan nama lain dari [[Balaputradewa]], melainkan julukan untuk [[Dyah Lokapala]], yaitu pahlawan yang berhasil mengalahkan Rakai Walaing, musuh ayahnya.
 
Dengan demikian, teori populer bahwa telah terjadi perang saudara antara Rakai Pikatan melawan iparnya, yaitu [[Balaputradewa]] mungkin keliru. Kiranya [[Balaputradewa]] meninggalkan [[pulau Jawa]] bukan karena kalah perang, tetapi karena sejak awal ia memang sudah tidak memiliki hak atas takhta [[Kerajaan Medang]], mengingat ia bukan putra [[Samaratungga]] melainkan adiknya.
 
[[Wangsa Sailendra]] di bawah pimpinan [[Dharanindra]] berhasil menaklukkan [[Kerajaan Sriwijaya]], bahkan sampai [[Kamboja]]. Sepeninggal [[Dharanindra]], kekuasaannya diwarisi oleh [[Samaragrawira]]. Mungkin ia tidak sekuat ayahnya karena menurut prasasti Po Ngar, [[Kamboja]] berhasil merdeka dari penjajahan [[Jawa]] pada tahun [[802]].
 
Atas dasar tersebut, sepeninggal [[Samaragrawira]] mungkin kekuasaan [[Wangsa Sailendra]] dibagi menjadi dua, dengan tujuan agar pengawasannya bisa lebih mudah. Kekuasaan atas [[pulau Jawa]] diberikan kepada [[Samaratungga]], sedangkan kekuasaan atas [[pulau Sumatra]] diberikan kepada [[Balaputradewa]].
 
== Pendirian Candi Prambanan ==
Prasasti Wantil disebut juga [[Prasasti Siwagrha]] yang dikeluarkan pada tanggal [[12 November]] [[856]]. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagrha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.
 
Berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi utama pada komplek [[Candi Prambanan]]. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.
Penunjukan putra bungsu sebagai [[maharaja]] ini kiranya berdasarkan atas jasa mengalahkan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni sang pemberontak. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan karena kelak muncul prasasti Munggu Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi. Nama ini tidak terdapat dalam daftar raja [[prasasti Mantyasih]], sehingga dapat diperkirakan pada akhir pemerintahan [[Rakai Kayuwangi]] telah terjadi perpecahan kerajaan.
 
Nama Rakai Gurunwangi Dyah Saladu dan Dyah Ranu ditemukan dalam prasasti Plaosan setelah Rakai Pikatan. Mungkin mereka adalah anak Rakai Pikatan. Atau mungkin juga hubungan antara Dyah Ranu dan Dyah Saladu adalah suami istri.
 
Pada tahun [[807]] Mpu Manuku sudah menjadi pejabat, yaitu sebagai Rakai Patapan. Ia turun takhta menjadi [[brahmana]] pada tahun [[856]]. Mungkin saat itu usianya sudah di atas 70 tahun. Setelah meninggal dunia, Sang Jatiningrat dimakamkan atau didharmakan di desa Pastika.