Buka menu utama

Perubahan

k
Bot: Perubahan kosmetika
Diceritakan setelah Bali berhasil ditaklukan, sebelum Patih Gajah Mada meninggalkan pulau Bali, semua Arya dikumpulkan, diberikan ceramah tentang pengaturan pemerintahan, ilmu kepemimpinan sampai pada ilmu politik. tujuan utamanya ialah tetap mempersatukan pulau Bali dan dapat dipertahankan sebagai daerah kekuasaan Majapahit. Setelah semua dirasa cukup, semua Arya diberikan daerah kekuasaan yang menyebar diseluruh Bali.
Sirarya Kenceng diberikan kekuasaan didaerah [[Tabanan]] dengan rakyat sebanyak 40.000 orang, Sirarya Kuta Waringin bertahan di Gegel dengan rakyat sebanyak 5.000 orang, Sirarya Sentong berkedudukan di Pacung dengan rakyat sebanyak 10.000 orang dan Sirarya Belog ( Tan Wikan ) diberikan kerdudukan di Kabakaba dengan jumlah rakyat sebanyak 5.000 orang.
Sirarya Dhamar diajak kembali ke Majapahit, kelak dia diangkat menjadi Adipati [[Palembang]].<ref>RIWAYAT BERDIRI SAMPAI RUNTUHNYA KERAJAAN SINGASANA TABANAN, KERAMBITAN, DESEMBER 1999, Penyusun : I Gusti Made Aman, Hal. 10</ref>
Salah satu keturunan dari Raja Tabanan, kemudian mendirikan kerajaan [[Badung]] ( [[Denpasar]] ) yang terkenal dengan [[Perang Puputan Badung]] melawan kolonial [[Belanda]]. Babad ini juga menceritakan kejadian-kejadian penting dan suksesi Raja-Raja Tabanan.
 
* Raden Cakradara (suami Tribhuwana Tungga Dewi)
* [[Arya Damar]] / [[Adityawarman]] Raja Palembang
* [[Arya Kenceng]]
* [[Arya Kuta Wandira]]
* [[Arya Sentong]]
'''Dari permaisurinya keturunan Brahmana dari Ketepeng Reges lahir 2 orang putra :'''
 
'''1.''' Sri Megada Prabu / Dewa Raka ( Tidak berminat dengan keduniawian, membangun pesraman di Kubon Tingguh ), Dia mengangkat 5 orang anak asuh ( Putra Upon-Upon ) :
* 1. Ki Bendesa Beng
* 2. Ki Guliang di Rejasa
* 3. Ki Telabah di Tuakilang
* 4. Ki Bendesa di Tajen
* 5. Ki Tegehen di Buahan
 
Dia menggantikan Ayahnya ( Sri Megada Nata ) menjadi Raja Tabanan, yang kemudian mendapat perintah Dalem agar memindahkan Purinya ( Kerajaannya ) di Pucangan ke daerah selatan, hal ini kemungkinan disebabkan secara geografis dan demografis sulit dicapai oleh Dalem dari Gegel dalam kegiatan inspeksi. Akhirnya Arya Ngurah Langwang mendapat pewisik, …dimana ada asap mengepul, agar disanalah membangun Puri. Setelah melakukan pengamatan dari Kebon Tingguh terlihat di daerah selatan asap mengepul ke atas, kemudian dia menuju ke tempat asap mengepul tersebut, ternyata keluar dari sebuah sumur yang terletak di dalam areal Pedukuhan yaiti Dukuh Sakti, yang sekarang lokasi sumur tersebut berada di dalam Pura Puser Tasik Tabanan. Kemudian disitulah dia membangun Puri, setelah selesai dipindahlah '''Puri / Kerajaannya beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng''' ( lihat denah ). [[Berkas:Puri Agung Tabanan 1906.jpg|thumb|450px|Puri Agung Tabanan 1906]] Oleh karena asap terus mengepul dari sumur tersebut seperti tabunan, sehingga puri dia diberi nama Puri Agung Tabunan, yang kemudian pengucapannya berubah menjadi [[Puri Agung Tabanan]], sedangkan kerajaannya disebut '''Puri Singasana''' dan dia disebut '''Sang Nateng Singasana'''. Dari saat itulah dia bergelar '''Sirarya Ngurah Tabanan''' atau juga '''Ida Betara Nangun Graha'''. Disebelah Timur Puri, dibangun pesanggrahan khusus untuk Dalem, apabila melakukan inspeksi ke Tabanan dan disebut Puri Dalem. Pada saat itu juga, Dalem memberikan seorang '''Bagawanta Brahmana Keniten''' dari Kamasan, yang kemudian ditempatkan di Pasekan ( Griya Pasekan sekarang ).
[[Berkas:DenahPuri Agung Tabanan 1900.jpg|thumb|450px|Denah Puri Agung Tabanan 1900]]
Pada waktu dia pindah dari Pucangan ke Tabanan diiringi oleh saudara-saudaranya yaitu :
* 1. Ki Gusti Made Utara
* 2. Ki Gusti Nyoman Pascima dan
* 3. Ki Gusti Wetaning Pangkung.
Sedangkan saudaranya tiga orang lagi yaitu :
* 1. Ki Gusti Nengah Samping Boni
* 2. Ki Gusti Nyoman Batan Ancak dan
* 3. Ki Gusti Ketut Lebah
disuruh pindah ke Desa Nambangan Badung, sebagai pendamping Ki Gusti Ketut Pucangan / Sirarya Notor Wandira yang telah menetap di Bandana ( Badung ).
Selanjutnya cucu dari Ki Gusti Samping Boni bernama Ki Gusti Putu Samping, besrta adik-adiknya yaitu : Kiayi Titih, Kiayi Ersani, Kiayi Nengah dan Kiayi Den Ayung mereka kembali ke Tabanan, karena tidak memproleh kedudukan di Badung, diperkirakan sebagai pengiring I Gusti Ayu Pemedetan ( putrid dari Sirarya Notor Wandira ).
 
 
Stana / Pelinggih Ida Betara Mekules berada di '''Pura Batur Wanasari''' di Wanasari Tabanan.
Hari Piodalannya / Petoyannya pada '''Anggarkasih Dukut ( Selasa Kliwon Dukut )'''.
Dia berputra :
 
* 1. Gusti Ayu Putu Pikandel Aswami ring Ida Pedande Gde Ngenjung ( Gria Gede Sanur )
* 2. I Gusti Gede Pemecutan Jehem ( Anglurah Sakti Abian Timbul ). Dia mempunyai putra :
** 1. I Gusti Gede Pemecutan Jereng, berputra :
- 1. I Gst Putu Sungkrang dan 2. I Gst Putu Swara melinggih ring ( Jro Agung Semawang Intaran Sanur )
** 2. I Gusti Pemecutan Nyapnyap
Ki Gusti Nengah Malkangin ( putra Ki Gusti Wayahan Pamedekan ) berkedudukan di Puri Malkangin dengan wilayah kekuasaan di Sebelah Timur Sungai Dikis.
 
Ki Gusti Made Dalang meninggal tanpa keturunan, sehingga seluruh wilayah Tabanan dapat dipersatukan oleh Ki Gusti Nengah Malkangin menjadi kekuasaannya.
Ki Gusti Nengah Malkangin setelah menjadi Raja Singasana, dia selalu ingin membinasakan putra mahkota yang bernama Ki Gusti Alit Dawuh ( putra Sirarya Ngurah Tabanan / Betara Nisweng Penida ). Dengan bantuan Ki Gusti Agung Badeng penguasa Kapal yang beristrikan Ni Gusti Luh Tabanan putra dari Ki Gusti Made Pamedekan, saudara perempuan Sirarya Ngurah Tabanan ( Betara Nisweng Pedida ). Putra Mahkota Ki Gusti Alit Dawuh menyerang Ki Gusti Nengah Malkangin dan dalam pertempuran ini Ki Gusti Nengah Malkangin beserta seluruh keluarganya dibunuh oleh Ki Gusti Agung Badeng, hanya seorang putranya yang bernama Ki Gusti Perot tidak dibunuh karena cacad / perot, selanjutnya menurunkan para Gusti Kamasan.
Oleh karena Putra Mahkota Ki Gusti Alit Dawuh masih sangat muda dipandang belum mampu memegang pemerintahan, sehingga Ki Gusti Agung Badeng berkenan bermukim sementara di Puri Malkangin untuk mengasuh / mempersiapkan putra mahkota menjadi raja. Sementara diangkatlah Ki Gusti Bola sebagai Raja Singasana.
 
 
Dia berputra :
* 1. '''Putra Sulung''' ( tidak disebutkan namanya )
* 2. '''Ki Gusti Made Dawuh / Ida Cokorda Dawuh Pala'''
* 2. Ki Gusti Nyoman Telabah
 
== XII. '''Putra Sulung Sri Megada Sakti / Ratu Lepas Pemade / Ida Cokorda Mur Pamade / Ida Cokorda Tabanan, Raja XII''' ==
Setelah Sri Megada Sakti mangkat, sebagai raja Tabanan digantikan oleh putera sulungnya yang bergelar Ida Cokorda Tabanan.
Cokorda Tabanan lama dia belum mempunyai putera, karenanya dia memutuskan dan berjanji : “ Kalau lahir seorang putera, walau dari istri Sudra, maka dialah kelak akan menggantikannya “. Selanjutnya yang pertama hamil adalah istri dia yang bernama Mekel Sekar dan akhirnya melahirkan seorang putera yang diberi nama Ki Gusti Ngurah Sekar. Selanjutnya yang kedua hamil pada istri dia yang Prami dan lahir juga seorang putera diberi nama Ki Gusti Ngurah Gede.
Setelah Sang Prabu mangkat, sesuai janjinya maka yang naik tahta adalah Ki Gusti Ngurah Sekar dengan gelar Cokorda Sekar / Prabu Singasana Tabanan.
berputra :
* 1. Ki Gusti Ngurah Agung Gede (Seda sebelum Mabiseka Ratu)
* 2. Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji (Seda Sebelum Mebiseka Ratu), berputra :
** 1.''' Ki Gusti Ngurah Agung '''
** 2. Ki Gusti Ngurah Demung
Berputra :
* 1. Sirarya Ngurah Gede Marga, lahir dari permaisuri dari Marga, bertempat tinggal di Puri Denpasar (sebelah utara Jero Beng).
* 2. Ki Gusti Ngurah Putu, lahir dari Ni Mekel Karang dari Antosari, bertempat tinggal di Puri Mecutan. Berputra :
** 1. I Gusti Ngurah Wayan
** 2. I Gusti Ngurah Made
* 5. Ki Gusti Ngurah Nyoman Pangkung ( Puri Dangin )
* 6. Sirarya Ngurah Agung, tetap tinggal di istana, yang lahir dari permaisuri pendamping (Ni Sagung Made Sekar) ( Seda sebelum Mabiseka Ratu )
* 7. Ki Gusti Ngurah Gede Mas, lahir dari Ni Mekel Kaler dari Pagending
* 8. Sirarya Ngurah Alit, yang lahir dari Gusti Luh Senapahan ( Seda sebelum Mabiseka Ratu )
* 9. Sagung Istri Ngurah, lahir dari permaisuri pendamping Raja (Ni Sagung Made Sekar)
'''Putra Putri Dia dari permaisuri yang ikut masuk ke Puri Agung''' :
** 1. Ki Gusti Ngurah Gede Pegeg (Turut Muput Raga di Badung th 1906) tidak berketurunan
** 2. Sagung Ayu Putu (Pindah ke Puri Anom ) menikah dengan Ki Gusti Ngurah Anom di Puri Anom Tabanan. Menurunkan keturunan di Puri Anom Saren Taman atau sekarang disebut Puri Anom Saren kauh. Sagung Ayu Putu menikah dengan I Gusti Ngurah Anom mempunyai 3 orang keturunan,
*** 1. Sagung Gede (alm,tidak menikah)
*** 2. Sagung Wah (alm,tidak menikah)
*** 3. I Gst Ngr Gede Subagja (alm,menikah dengan Sagung Putra) melahirkan
**** 1. I Gusti Ngurah Agung (Alm, menikah dgn R R D G Kartika Rini) melahirkan
***** 1.A A Sg Ratna Kartika
***** 3. A A Sg Lely Lestari
***** 4. A A Ngr Panji Astika
**** 2. I Gusti Ngurah Bagus Danendra
**** 3. A A Sagung Mirah Widyawati(menikah dengan I Gst Ngr Bagus Grya Negara)
** 3. Sagung Ayu Oka (Menikah dengan Mr.Arthur Mauritz Cramer, Klerk kontrolir Belanda)dan memiliki 4 orang anak:
*** 1. Elizabeth(alm-Balanda) memiliki 2 orang anak.
*** 2. Johan Wilhem Cramer(alm-Sukabumi) memiliki 8 orang anak. Meninggal 1981 di Sukabumi.
*** 3. Jan August Cramer(alm-Belanda) memiliki 6 orang anak. (nama Trijntje Aleid Maria, Ary Maurits Arthur, Johan Balthasar Arthur, Arthur Maurits Jan, Jan August dan Trudy Trijntje Maria). Semua tinggal di tanah belanda, weesp (amj.cramer@chello.nl)
 
'''Raja I Gusti Ngurah Agung (Raja Tabanan XXI) juga mempunyai putera dari istri yang lainnya dan tetap tinggal di Puri Dangin Tabanan<ref name="ReferenceA">Prasasti dan Silsilah ( Keturunan ) Arya Kenceng yang tersimpan di Puri Agung Tabanan, Puri Gede Krambitan, Puri Anom Tabanan, Puri Dangin Tabanan</ref>, sebagai berikut :'''
* 1. I Gusti Ngurah Anom ( Sekarang keturunannya tinggal di Puri Dangin Tabanan), berputra :
** 1. I Gusti Ngurah Ketut
** 2. I Gusti Ngurah Alit
** 2. I Gusti Ngurah Alit Putra
** 3. I Gusti Ngurah Raka
** 4. Sagung Mas
** 5. I Gusti Ngurah Agung
selanjutnya digantikan oleh putra sulungnya bernama ''' I Gusti Ngurah Gede ''', bergelar ''' Cokorda Ngurah Gede '''.
 
Selanjutnya I Gusti Ngurah Gede, putera sulung Cokorda Ngurah Ketut menjadi Cokorda Tabanan, bergelar Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan XXIII Maret 1947 s/d 1986 dan dia menjabat Bupati Tabanan Pertama tahun 1950, tempat tinggal Dia disebut Puri Gede / Puri Agung Tabanan / Puri Pemecutan Tabanan.
 
Dia berputra :
** 1. Sagung Putri Sartika
** 2. I Gusti Ngurah Bagus Hartawan
** 3. Sagung Putra Sardini
** 4. I Gusti Ngurah Alit Darmawan
** 5. Sagung Ayu Ratnamurni
** 8. Sagung Ratnaningrat
** 9. '''I Gusti Ngurah Rupawan'''
** 10. I Gusti Ngurah Putra Wartawan
** 11. I Gusti Ngurah Alit Aryawan
** 12. Sagung Putri Ratnawati
** 20. I Gusti Ngurah Bagus Indrawan
** 21. Sagung Jegeg Mayadianti
** 22. I Gusti Ngurah Adi Suartawan.
Selanjutnya digantikan oleh ''' I Gusti Ngurah Rupawan ''', Mabiseka Ratu 21 Maret 2008 bergelar ''' Cokorda Anglurah Tabanan '''.
 
* RIWAYAT PULAU BALI DARI DJAMAN KE DJAMAN, Oleh : I Made Subaga, GIANYAR - BALI.
* List of monarchs of Bali (http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_monarchs_of_Bali)
* Lontar-Lontar Kuno yang ada di beberapa Puri-Puri di Tabanan ( Puri Gede Krambitan, [[Puri Anom Tabanan]], Puri Dangin Tabanan di Jegu dan lainnya ).
* Lontar-Lontar Kuno dan Raja Purana di Puri Agung Tegal Tamu
* Prasasti dan Silsilah ( Keturunan ) Arya Kenceng yang tersimpan di ;