Buka menu utama

Perubahan

5 bita ditambahkan, 11 tahun yang lalu
k
Robot: Cosmetic changes
Comite Boemi Poetera merupakan organisasi yang dibentuk setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum [[Indische Partij]].
 
== Tokoh ==
Para pemimpinnya ialah dr. [[Tjipto Mangoenkoesoemo]] (ketua), Soejatiman (Soetatmo) Soeriokoesoemo (wakil ketua), [[Soewardi Soerjaningrat]] (sekretaris), dan [[Wignjadisastra]] (bendahara). Melihat komposisi para pengurusnya, mereka merupakan tokoh-tokoh terkemuka baik di mata rakyat maupun pemerintah kolonial.
 
Secara tidak langsung, IP baik secara organisasi maupun individu memang banyak mewarnai dan memberi bentuk kepada gerakan [[Sarekat Islam]] selanjutnya, khususnya dalam hal vergadering (rapat umum) dan partij discipline (disiplin partai). Perkembangan inilah yang ditakutkan oleh pemerintah kolonial [[Hindia Belanda]]. Apalagi dua tokoh terkemuka IP, Tjipto dan Soewardi, duduk dalam kepengurusan Comite Boemi Poetera. Bisa dipahami jika pemerintah kolonial memandang komite ini berada dalam bayang-bayang atau pengaruh IP. Inilah yang selalu dicermati oleh pemerintah melihat aktivitas komite ini.
 
== Pamflet ==
Dalam perkembangannya, Comite Boemi Poetera pernah dua kali menerbitkan [[pamflet]].
* Pamflet pertama diterbitkan pada [[12 Juli]] [[1913]] yang berisi nama-nama para pengurusnya serta penjelasan aktivitas-aktivitasnya, antara lain tuntutan membentuk parlemen Hindia dan dihapuskannya Pasal 111 ''Indischestaatregering'' tentang pembatasan hak berorganisasi bagi bumiputera.
Beredarnya pamflet dari Soewardi dan Comite Boemi Poetera itu telah mengejutkan para petinggi Hindia Belanda baik di Bandung maupun di Batavia. Yang mengkhawatirkan pemerintah kolonial justru mengapa seorang [[Jawa]], Soewardi, bisa berpikir tentang seorang Belanda (Nederlander) dalam konteks kemerdekaan itu. Anggota komite dianggap telah berpikir terlalu maju dengan mempersoalkan kemerdekaan (kekuasaan). Sesuatu yang tidak mungkin dibicarakan secara umum pada waktu itu.
 
== Penangkapan ==
Maka, pemerintah kolonial berupaya membungkam segala aktivitas Comite Boemi Poetera. Ketika [[Residen]] [[Bandung]], T.J. Janssen, selesai membaca tulisan Soewardi itu, ia kemudian segera melaporkannya kepada penguasa di [[Batavia]]. [[25 Juli]] 1913, pejabat kehakiman bernama H.V. Monsanto tiba di Bandung dari Batavia. Dalam penilaian pemerintah, selain isinya yang sangat keras, pamflet tersebut juga bertentangan dengan Pasal 26 Undang-undang Pers waktu itu. Ia pun segera menginterogasi Soewardi dan para anggota komite lainnya serta memerintahkan agar pamflet tersebut disita.
 
Residen Janssen tentu saja cemas dan sangat khawatir melihat aktivitas Comite Boemi Poetera atas terbitnya serangkaian tulisan para anggotanya yang isinya dianggap berbahaya itu. Ia memandang perlu saatnya untuk bertindak keras terhadap mereka karena telah mengganggu keamanan dan ketertiban umum di Hindia Belanda.
 
Pada [[30 Juli]] 1913 serangkaian penangkapan dan interogasi mulai dilakukan pemerintah kolonial berkaitan dengan aktivitas Comite Boemi Poetera dan isi pamflet ''Als Ik eens Nederlander was''. Tjipto, Soewardi, Moeis, dan Wignjadisastra ditangkap. Jika alasan terhadap ketiga orang terdahulu jelas, maka alasan penangkapan terhadap Wignjadisastra disebutkan karena ia telah mewartakan semua aktivitas Comite Boemi Poetera dalam surat kabar ''Kaoem Moeda'', tepatnya sebagai editor dan penerbit. Namun lebih dari itu, dan yang terpenting, tampaknya justru karena ia dianggap tidak murni dibawah pengaruh Tjipto dan Soewardi. Dua tokoh terkemuka ini sejak lama telah mencemaskan pemerintah kolonial karena aktivitas-aktivitasnya di IP, berikut serangkaian tulisan-tulisannya yang mempersoalkan pemerintah kolonial. Kemungkinan inilah yang menjadi keberatan utama pihak pemerintah kolonial terhadap penangkapan Wignjadisastra. Kemudian ia tidak lama dipenjara, karena pada pertengahan [[1910-an]] ia kembali lagi ke arena politik dan masuk dalam jajaran kepengurusan SI.
 
[[kategoriKategori:Hindia-Belanda]]
259.487

suntingan