Penduduk asli Taiwan: Perbedaan revisi

7.227 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Selama dua abad pemerintahan Dinasti Qing di Taiwan, populasi Han di pulau tersebut meningkat secara dramatis. Namun, tidak jelas apakah terjadi karena membludaknya pemukim Han, yang umumnya terdiri dari pria muda dari [[Zhangzhou]] dan [[Quanzhou]] di [[Fujian|provinsi Fujian]],<ref>{{Harvcol|Tsao|1999|p=331}}</ref> atau dari berbagai faktor lainnya, yang meliputi: pernikahan silang berkelanjutan antara Han dan pendidik asli, perombakan rumah tangga dan penghapusan aborsi, dan merebaknya adopsi gaya hidup pertanian Han karena menurunnya harga kebutuhan tradisional, yang berujung pada meningkatnya tingkat kelahiran dan pertumbuhan penduduk. Selain itu, akulturasi penduduk asli meningkat seiring meningkatnya pendatang Han.
 
Pemerintah Qing tak hanya secara resmi mengendalikan pemukiman Han, namun juga mengurusi ketegangan antara berbagai wilayah dan kelompok etnis. Selain itu, pemerintahan tersebut seringkali mengakui klaim suku-suku dataran rendah untuk teritorial tradisional dan lahan rusa.<ref>{{Harvcolnb|Knapp|1980|pp=55–68}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Shepherd|1993|pp=14–20}}</ref> Otoritas Qing berharap daoat memasukkan suku-suku dataran rendah dalam subyek-subyek loyal, dan mengadopsi pajak kepala dan [[corvée]] terhadap penduduk asli, yang membuat penduduk asli dataran rendah secara langsung bertuga untuk pembayaran kepada pemerintah [[yamen]].
Pemerintah [[Qing]] membolehkan imigrasi suku Han secara terbatas ke Taiwan dan mengakui klaim suku tanah datar terhadap lahan perburuan rusa dan tanah adat suku. Qing berharap mengubah suku-suku tanah datar menjadi rakyat setia. Pihak berwenang Qing mengambil pajak per kepala dan [[rodi]] pada orang pribumi. Hal ini membuat orang pribumi tanah datar secara langsung bertanggung jawab atas bayaran kepada yang berwenang. Untuk mengesahkan kebijakan pajak mereka, pejabat Qing menunjuk orang pribumi Taiwan yang berdasarkan kemampuan mereka untuk membayar pajak kepada Qing.
 
Suku-suku itu yang tunduk dan mau membayar pajak digolongkan sebagai 'Sek Huan', yang secara harfiah artinya 'orang biadab yang matang'. Suku-suku yang belum tunduk digolongkan sebagai 'Se Huan', atau 'orang biadab mentah'. (kata matang dan mentah merupakan sinonim kata “akrab” dan tak “akrab”).
 
Kelak, kedua kelompok dengan sederhana dibedakan sebagai suku-suku 'Ping Pu' atau 'Pepo' (Tanah Datar) dan 'Gao Shan' atau 'Ge Sen' (Gunung Tinggi).
 
Pembedaan ini hanya sedikit sekali merupakan refleksi hal yang sebenarnya dan dianggap tidak seluruhnya tepat. Sebab misalkan apa yang disebut suku-suku Gao shan sebetulnya tinggal di tanah datar, seperti kasus dengan suku Ami di pantai timur dan suku Tao di [[Kepulauan Lanyu]].
 
Orang pribumi sebagai kelompok etnik secara klasik digolongkan sebagai 'Huan', yang artinya adalah 'orang biadab', klasifikasi ini sama dengan yang diberikan pada orang Barat.
 
Berlawanan dengan kepercayaan umum, yaitu bahwa suku-suku Ting pu di bawah tekanan pendatang bangsa Han, melarikan diri ke gunung kemudian menjadi suku-suku Gao Shan. Fakta sejarah justru menunjukkan bahwa sebagian besar orang tanah datar tinggal, berkawin campur dan berbaur dengan para pendatang dari daratan Tiongkok dan mengambil jatidiri sukubangsa Han dan keturunannya menjadi bangsa Taiwan modern. Oleh para pakar dipercayai bahwa proses asimilasi ini, mirip dengan proses pembauran oleh bangsa Han dari Tiongkok utara dalam menaklukkan bangsa-bangsa di sebelah selatan Tiongkok.
 
Luaslah wilayah tanah datar di sisi barat yang disewakan dengan harga tinggi 'Huan De Zu' (Sewa Tinggi kaum Barbar), yang dihentikan pada saat pemerintahan Jepang.
Lalu pemerintahan Qing menjamin monopoli eksploatasi rusa oleh suku-suku pribumi dan anggota perseorangan mereka.
Suku-suku secara umum biasanya akan menawari petani Han uang sewa permanen tanah tertinggi, yang dianggap 'Dua Tuan sebuah Ladang' (Yi tian liang zu). Kaum Han yang lebih kaya, biasanya petinggi militer, boleh menyewa 'tanah kosong pemerintah'.
 
Penyewa tanah besar diharuskan membayar pajak sebanyak 6-8 shi bagi setiap jiwa. Seringkali bangsa Han dan orang Pribumi menemukan solusi kreatif dalam memecahkan masalah tanah dan pajak mereka.
Di bawah bimbingan pejabat mereka, yaitu sang penterjemah Zhang Da-jing, seorang etnik Hakka yang telah menikahi tujuh wanita pribumi, suku An Ii memindahkan hak kepemilikan enam petak tanah kepada petani Han sebagai ganti atas suku Han yang bertukar pengalaman mengenai sistem irigasi dan bercocok tanam. Para suku tanah datar memang seringkali ditipu atau dipaksa menjual tanah mereka. Beberapa lalu memang pindah, namun sebagian besar tetap tinggal dan mengganti nama mereka dengan nama [[marga Tionghoa|Han]].
 
Di sini penting ditekankan bahwa pada masa dinasti Qing, rakyat Taiwan diklasifikasikan sebagai kaum barbar maupun beradab. Kaum beradab kala itu sama dengan menjadi seorang Han. Klasifikasi ini berdasarkan adat istiadat dan tingkah laku dan tidak berdasarkan asal-usul. Dengan ini pemikiran yang dominan kala itu ialah bahwa semua orang bisa menjadi seorang Han yang beradab dengan memeluk norma-norma sosial yang berdasarkan [[Konfusianisme]]. Beberapa alasan mengapa mereka mendasarkan identitas nasional kepada tingkah laku dan bukan asal usul ialah bahwa keluarga kekaisaran sendiri tidak termasuk suku Han, dan dengan mendefinisikan identitas berdasarkan asal usul atau [[kelompok]] bahkan akan mengancam dan meniadakan legitimasi dinasti ini.
 
[[Berkas:Plain Aborigines Taipei.jpg|300px|thumb|Suku pribumi tanah datar dari Kanatsui di wilayah Taipei (1897)]]
 
Salah satu laporan mengenai ‘pergeseran jati diri atau identitas’ ini terjadi di sebuah wilayah yang disebut Rujryck oleh orang Belanda dan sekarang merupakan bagian dari kota [[Taipei]]. Pada sebuah dokumen yang berasal dari tahun ketujuh Kaisar [[Qianlong]] dan ditanda-tangani oleh para kepala desa tertulis, “Kami pada awalnya tidak memiliki nama marga. Harap kami dianugerahi marga Han seperti Pan, Chen, Li, Wang, Tan, dan sebagainya.” Mengambil sebuah nama Han merupakan sebuah langkah penting dalam menyebarkan norma-norma Konfusianisme di antara kaum Pribumi Taiwan.
 
Dalam negara Qing yang berdasarkan kepercayaan Konfusianisme, norma-norma Konfusianisme dianggap penting untuk dikenali sebagai 'ren' (manusia). Sebuah nama marga akan memungkinkan kaum Pribumi Taiwan untuk memuja para leluhur mereka, bersembahyang kepada para Dewa, dan melakukan kesalehan keagamaan yang membuat mereka bisa berfungsi secara penuh dalam negara yang bernapaskan Konfusianisme. Seringkali para pendatang dari daratan Tiongkok bersatu dan mengambil nama marga yang sama sebagai ungkapan tali persaudaraan. Tali persaudaraan ini dipakai sebagai sebagai bentuk pertahanan, karena setiap orang yang memiliki nama marga yang sama diwajibkan untuk melindungi sesama. Kelompok-kelompok yang berdasarkan tali persaudaraan ini lalu akan menghubungkan nama-nama mereka dalam sebuah silsilah dan dengan itu membentuk hubungan keluarga berdasarkan tempat mereka di silsilah dan menduduki tempat dalam sebuah organisasi kekeluargaan seperti di Tiongkok daratan. Hal seperti ini dilakukan secara luas sehingga buku-buku silsilah yang ada sekarang kurang bisa dipercaya. Banyak penduduk pribumi Taiwan tanah datar juga bergambung dengan kelompok-kelompok persaudaraan untuk mendapatkan perlindungan dari kelompok ini. Dan dari kelompok-kelompok ini, mereka mendapatkan identitas Han dengan leluhur Tionghoa.
 
‘Skenario pemindahan paksa’, yang mengklaim bahwa kaum pribumi Taiwan pindah ke daerah pegunungan dan menjadi ‘Gao shan zu’, telah diperburuk dengan migrasi para suku-suku tanah datar pada awal abad ke-19. Sukubangsa Gao Shan sudah terbiasa dengan kehidupan di pegunungan tinggi selama ribuan tahun seperti telah tercerminkan melalui budaya material mereka, budaya pengayauan, tradisi sastra lisan, dan bahkan bentuk morfologis tubuh mereka. Kaum-kaum tanah datar yang menolak menjadi petani seperti para penyewa mereka yang berasal dari suku Han, memutuskan untuk pindah ke daerah-daerah lain yang bebas dari pengaruh suku Han. Pada tahun 1804, sebuah kelompok yang beranggotakan kurang lebih 1.000 kaum suku tanah datar Taiwan, pindah melampaui gugusan pegunungan tengah menuju ke daerah Iilan di selatan, dekat daerah yang kini disebut Luo dong. Kelompok-kelompok ini terutama terdiri atas keluarga-keluarga yang kurang mampu di 30 desa-desa di kecamatan Changhua dan Tanshui.
 
Sebuah migrasi kedua ke daerah dataran rendah Puli pada tahun 1823 memberikan kesan bahwa yang bermigrasi hanyalah keluarga-keluarga yang tidak punya tanah dan menghasilkan nama-nama tempat baik di Iilan dan Puli yang persis sama dengan nama-nama tempat asal mereka. Pada awal [[abad ke-20]], kaveling-kaveling luas masih dimiliki para anggota suku-suku pribumi ini dan dibeli secara besar-besaran oleh pemerintahan Jepang dan dipakai sebagai lapangan terbang, tempat pembuangan sampah, dan daerah-daerah industri.
 
Sebelum tahun [[1600-an]], kaum pribumi tinggal di seluruh pulau Taiwan, namun mereka yang padang-padang di pesisir barat sudah berbaur dengan budaya Taiwan dan pembauran dengan para pendatang Han dari Daratan Tiongkok sudah mengkaburkan deskripsi para suku dan komposisi etnis Taiwan.
 
== Suku-suku tanah tinggi ==