Buka menu utama

Perubahan

4 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
Sikap Theodosius terhadap memang menentang aliran sesat, oleh karena itu ia melarang aliran-aliran sesat, namun tidak menghancurkan kuil-kuilnya.<ref name="Wellem"/><ref name="today"/> Penghancuran justru dilakukan oleh rahib-rahib yang fanatik menentang aliran sesat itu.<ref name="Wellem"/><ref name="Berkof"/>
 
Tentang ketidakrukunannya dengan Uskup [[Ambrosius]] (Uskup [[Milano]]), Theodosius akhirnya melakukan pertobatan sesuai permintaan Uskup yang bijaksana itu.<ref name="Wellem"/> Theodosius dikritik sebagai Kaisar yang banyak melakukan pembunuhan (terkait pembunuhan massal 7000 orang di [[Tesalonika]] pada tahun 390.<ref name="Wellem"/> Perlu dicatat, di sini Theodosius melakukan kerjasama dengan bangsa Visigoth untuk menggolkan keputusannya tentang peraturannya yang disebut [[Edik Tesalonika]].<ref name="Walker">{{id}} Peter Walker., In the Steps of Saint Paul, Yogyakarta: Kanisius, 2009, Hal. 100</ref>
 
Ambrosius menulis surat teguran yang sangat keras supaya Theodosius meniru Raja [[Daud]] yang bertobat dan kembali kepada jalan Allah tanpa kekerasan.<ref name="Wellem"/> Karena pertobatan Theodosius, hubungan keduanya menjadi baik kembali, Uskup Ambrosius tinggal di [[Roma]] hingga tahun meninggalnya Theodosius 395.<ref name="Wellem"/> Agama Kristen disahkan menjadi agama negara, walaupun motivasinya sangat politis.<ref name="Wellem"/><ref name="today"/> Theodosius juga melakukan perdamaian dengan suku Goth yang selama ini memusuhi kekaisaran dengan cara menyuap mereka, membebaskan pajak dan melakukan penyerahan lahan, serta pekerjaan dalam pasukan bersenjata.<ref name="Man">{{id}}John Man., Attila: The Barbarian King Who Challenged Rome, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005, Hal. 136</ref> Banyak orang Kristen baru, para pejabat gereja mendapatkan hak-hak istimewa, namun hal itu justru menjadikan mutu iman orang Kristen menurun.<ref name="Wellem"/>
14.576

suntingan