Buka menu utama

Perubahan

4 bita dihapus, 3 tahun yang lalu
k
cosmetic changes, replaced: nasehat → nasihat, kokoh → kukuh
}}
 
'''Kiai Haji Mas Mansoer''' ({{lahirmati|[[Kota Surabaya|Surabaya]]|25|6|1896|Surabaja|25|4|1946}}) adalah seorang tokoh [[Islam]] dan [[pahlawan nasional Indonesia]].
 
== Keluarga ==
 
== Bergabung dengan Sarekat Islam ==
Langkah awal Mas Mansoer sepulang dari belajar di luar negeri ialah bergabung dalam [[Sarekat Islam]]. Peristiwa yang dia saksikan dan alami baik di Makkah, yaitu terjadinya pergolakan politik, maupun di Mesir, yaitu munculnya gerakan [[nasionalisme]] dan pembaharuan merupakan modal baginya untuk mengembangkan sayapnya dalam suatu organisasi. Pada saat itu, SI dipimpin oleh [[Oemar Said Tjokroaminoto]], dan terkenal sebagai organisasi yang radikal dan revolusioner. Ia dipercaya sebagai PenasehatPenasihat Pengurus Besar SI.
 
== Taswir Al-Afkar ==
Mas Mansoer juga banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot. Pikiran-pikiran pembaharuannya dituangkannya dalam media massa. Majalah yang pertama kali diterbitkan bernama ''Soeara Santri''. Kata santri digunakan sebagai nama majalah, karena pada saat itu kata santri sangat digemari oleh masyarakat. Oleh karena itu, ''Soeara Santri'' mendapat sukses yang gemilang. ''Djinem'' merupakan majalah kedua yang pernah diterbitkan oleh Mas Mansoer. Majalah ini terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Melalui majalah itu Mas Mansoer mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan. Di samping itu, Mas Mansoer juga pernah menjadi redaktur ''Kawan Kita'' di Surabaya.
 
Tulisan-tulisan Mas Mansur pernah dimuat di ''Siaran'' dan ''Kentoengan'' di Surabaya; ''Penagandjoer dan Islam Bergerak'' di Jogjakarta; ''Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat'' di [[Kota Medan|Medan]] dan ''Adil'' di [[Kota Surakarta|Solo]]. Di samping melalui majalah-majalah, Mas Mansoer juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu ''Hadits Nabawijah''; ''Sjarat Sjahnja Nikah''; ''Risalah Tauhid dan Sjirik''; dan ''Adab al-Bahts wa al-Munadlarah''.
 
== Kegiatan di Muhammadiyah ==
=== Mulai aktif di Muhammadiyah ===
Di samping aktif dalam bidang tulis-menulis, dia juga aktif dalam organisasi, meskipun aktivitasnya dalam organisasi menyita waktunya dalam dunia jurnalistik. Pada tahun 1921, Mas Mansoer masuk organisasi Muhammadiyah. Aktivitas Mas Mansoer dalam Muhammadiyah membawa angin segar dan memperkokohmemperkukuh keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharuan. Tangga-tangga yang dilalui Mas Mansur selalu dinaiki dengan mantap. Hal ini terlihat dari jenjang yang dilewatinya, yakni setelah Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, kemudian menjadi Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Puncak dari tangga tersebut adalah ketika Mas Mansur menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada tahun 1937-1943.
 
=== Terpilih menjadi Ketua PB Muhammadiyah ===
 
== Kegiatan politik ==
Dalam perpolitikan ummat Islam saat itu, Mas Mansoer juga banyak melakukan gebrakan. Sebelum menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Mas Mansoer sebenarnya sudah banyak terlibat dalam berbagai aktivitas politik ummat Islam. Setelah menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, ia pun mulai melakukan gebrakan politik yang cukup berhasil bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya [[MIAI|Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI)]] bersama Hasyim Asy'ari dan Wahab Hasboellah yang keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Demikian juga ketika [[pendudukan Jepang di Indonesia|Jepang berkuasa di Indonesia]], Mas Mansoer termasuk dalam empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang terkenal dengan empat serangkai, yaitu [[Soekarno]], [[Mohammad Hatta]], [[Ki Hadjar Dewantara]], dan Mas Mansur.
 
Keterlibatannya dalam empat serangkai mengharuskannya pindah ke Jakarta, sehingga Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah diserahkan kepada Ki Bagoes Hadikoesoemo. Namun kekejaman pemerintah Jepang yang luar biasa terhadap rakyat Indonesia menyebabkannya tidak tahan dalam empat serangkai tersebut, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Surabaya, dan kedudukannya dalam empat serangkai digantikan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo.
 
== Meninggal dunia ==
Ketika pecah perang kemerdekaan, Mas Mansoer belum sembuh benar dari sakitnya. Namun ia tetap ikut berjuang memberikan semangat kepada barisan pemuda untuk melawan kedatangan tentara Belanda ([[NICA]]). Akhirnya ia ditangkap oleh tentara NICA dan dipenjarakan di [[Penjara Kalisosok|Kalisosok]]. Di tengah pecahnya perang kemerdekaan yang berkecamuk itulah, Mas Mansur meninggal di tahanan pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya dimakamkan di Gipo Surabaya.
 
== Pahlawan nasional ==
109.521

suntingan