Trisutji Kamal: Perbedaan antara revisi

13 bita dihapus ,  6 tahun yang lalu
k
cosmetic changes, removed stub tag
k (minor cosmetic change)
k (cosmetic changes, removed stub tag)
==Latar belakang==
 
Trisutji Kamal lahir dari pasangan dokter Djulham Surjowidjojo- B.R.A. Nedima Kusmarkiay, cucu Pakubuwono X. Dia tumbuh di tengah keluarga [[Jawa]] yang sangat kental, meski tinggal di lingkungan [[Melayu]] di [[Binjai]], [[Sumatra Utara]]. Darah seninya mengalir dari ayahnya yang seorang pelukis. Ayahnya keturunan Kraton Mangkunegaran sedang ibunya, BRA Nedima Kusmarkiah adalah cucu langsung dari Paku Buwono X yang menduduki tahta di kraton Kesunanan Solo hingga pada masa kolonial. Ayah Trisutji adalah seorang dokter yang bekerja untuk Sultan Langkat di Binjai, kawan dekat Paku Buwono X. Oleh sebab itu, masa kecil Trisutji berada dalam lingkungan kuat kebudayaan Jawa, Batak dan Melayu yang kemudian sangat mempengaruhi karya-karya musiknya. Sejak usia 7 tahun Trisutji sudah menunjukkan bakatnya sebagai seorang komponis. Ia belajar piano klasik di Binjai dan mulai menciptakan karya musik yang lebih serius untuk piano sejak berusia 14 tahun. Pada masa itu sangat sulit membayangkan bagaimana seorang gadis muda belia dari keluarga ningrat yang berada diperbolehkan untuk belajar keluar negeri seorang diri. Namun karena kedua orang tua Trisutji adalah orang terpelajar hasil didikan Eropa, maka Trisutji diberi kesempatan untuk belajar musik keluar negeri pada usia yang sangat muda.
 
Awalnya ia berangkat ke Amsterdam untuk belajar piano dan komposisi. Disana Trisutji berguru pada seorang tokoh musik abad 20 Belanda yang terkenal, yaitu Henk Badings. Kebetulan Henk Badings adalah seorang komponis Belanda yang lahir di Bandung, sehingga hubungan mereka sangat dekat. Dari Amsterdam Trisutji melanjutkan pelajaran musiknya ke École Normale de Musique di Paris dan kemudian Santa Cecilia Conservatory di Rome. Di Roma ia memiliki guru komposisi orang Rusia yang mendorongnya untuk menciptakan sebuah opera berdasarkan legenda negerinya sendiri. Opera berjudul “Loro Jonggrang” ini diciptakan pada waktu Trisutji memperdalam musik serial sehingga karya tsb merupakan perpaduan dari konsep tangganada pentatonik, dodecaphonic, dan gaya musik vokal Bel Canto Italia. Pada tahun 1967 Trisutji kembali ke Tanah Air. Jakarta saat itu memasuki era kebudayaan yang baru di bawah pimpinan seorang gubernur yang sangat progresif, yaitu Ali Sadikin. Disana ia bergabung dengan beberapa tokoh musik muda Indonesia yang sama-sama baru kembali dari luarnegeri. Di antaranya adalah Frans Haryadi dan Iravati Soediarso. Ketiga orang ini kemudian berperan sangat penting dalam mendirikan sebuah icon dunia seni moderen Indonesia, yaitu Taman Ismail Marzuki pada tahun [[1968]].<ref>[http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=37284 ETD Universitas Gajah Mada], diakses 9 Maret 2015</ref>
 
{{reflist}}
 
{{bio-stub}}
[[Kategori:Seniman Indonesia]]
[[Kategori:Musisi Indonesia]]
110.443

suntingan