Betawi: Perbedaan revisi

174 bita dihapus ,  13 tahun yang lalu
k (Suntingan 202.149.69.6 (Pembicaraan) dikembalikan ke versi terakhir oleh 202.134.0.135)
==Perilaku dan Sifat==
 
KebanyakanAsumsi darikebanyakan orang yangtentang bersukumasyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan dan teknologi. padahal tidak sedikit orang betawi yang berhasil. sebut saja Muhammad Husni Thamrin, Benyamin S, bahkan hingga Gubernur Jakarta saat ini, Fauzi Bowo.
 
Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain Jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun terkadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. orang betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat betawi sangat menghargai pluralisme. hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Sebenarnya, ada hal yang positif dari Betawi. Mereka mampu berdagang. Tetapi, kebanyakan dari mereka tidak melakukan cara berdagang yang benar. Misalnya mereka selalu menjual properti berupa tanah.
Padahal, seandainya properti berupa tanah itu dimanfaatkan dengan cara lain pastinya Betawi banyak yang berhasil dalam bidang ekonomi.
 
Orang betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Karena mereka terlalu percaya diri dalam segala hal, dan melakukan segalanya tanpa perhitungan yang matang dan tidak berdasarkan data yang akurat, inilah yang membuat mereka menjadi penduduk level rendah. Dari segi sifat mereka yang gampang marah, gampang terprovokasi, tidak punya kemampuan dalam berpikir, intelejensi rendah dan minimnya pengetahuan membuat mereka kalah dalam persaingan.
 
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). namun tetap ada optimisme dari masyarakat betawi generasi mendatang yang justreu akan menopang modernisasi tersebut.
Kebanyakan dari Betawi itu hanyalah menjadi buruh kasar, buruh harian bahkan Betawi ini menyumbang angka terbesar dalam statistik orang tidak berpendidikan.
 
Mereka juga selalu menjadi contoh yang tidak bagus bagi lingkungan sekitar mereka. Baik dalam segi agama, pendidikan, budaya dan ekonomi.
 
Sifat Betawi yang tidak mau kalah dalam hal apapun, ingin terlihat kaya, ingin terlihat elite tapi tidak ada kemampuan ekonomi yang mendukung. Inilah yang menyebabkan mereka selalu merasa iri kalau ada tetangga atau orang lain yang lebih mampu dibidang ekonomi dibanding mereka.
 
Bersambung...
Pengguna anonim