Gotong adalah penutup kepala Pria yang digunakan dalam kehidupan seharian hari yang digunakan untuk acara orang meninggal, tradisi ini telah dilakukan dari Zaman nenek moyang Kabupaten simalungun. Kegiatan di biasa nya dibuat dengan kerajinan tangan orang orang dan kemahiran mereka. Tradisi ini lah yang harus kita Contohi, sehingga memotivasi warga masyarakat dunia. Alat yang digunakan untuk membuat penutup kepala ini berasal dari jawa. Asal penutup kepala ini dari kerajaan kerajaan yang telah berlalu sehingga penutup kepala ini bisa di tradisikan dan harus di kembangkan. Pada dulunya Raja simalungan telah melakukan hubungan perdagangan dengan kerajaan majapahit. Dan pada saat itulah mereka menjalin hubungan kerjasama perdagangan. Sebagai simbol ikatan kerjasama tersebut.[1]

penutup kepala ini berasal dari kerajaan majapahit sebagai bentuk penghargaan atas pemberian utasan majapahit, kemudian Raja simalungun menggunakan kain batik tersebut sebagai penutup kepala yaitu gotong. Pemakaian gotong tidak boleh secara sembarangan karna memiliki tatanan tersendiri dalam pemakaianya, seperti tidak boleh memakai gotong partongah bagi rakyat paruma maupun jabolon, lalu partongah maupun paruma hanya dapat digunakan pada saat upacara upacara adat /kerajaan maupun perkawinan dan pada saat menyambut TAMU kerajaan atau tamu daerah. Akibat adanya transformasi pakaian simalungun ini dan kejadian berupa revolusi sosial telah menghancurkan berbagai tatanan masyarakat simalungun berupa lenyap nya rumah bolon yaitu istana simalungun, maka sejak saat itu konsep gotong partongah dan gotong paruma dalam stratifikasi masyarakat simalungun menghilang. Sehingga tidak Ada lagi istana simalungun dan tidal dapat di lestarikan lagi dalam kehidupan sehari hari.

ReferensiSunting

R

  1. ^ Dwiari Ratnawati, Lien (2018). GOTONG. Jakarta: Direktorat jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.