Ezzo (skt. 955 – 21 Maret 1034), terkadang disebut Ehrenfried merupakan seorang Comte Palatinus di Lotharingia. Ia berasal dari keluarga Wangsa Ezzonen, saudara ipar Kaisar Otto III, ayahanda Ratu Richeza dari Polandia dan banyak anak-anak terkenal lainnya, tidak diragukan lagi salah satu tokoh yang terpenting dari sejarah Rhein di masanya.

Ezzo
Comte Palatinus Lotharingia
PasanganMathilde dari Jerman
Keluarga bangsawanWangsa Ezzonen
BapakHermann I
IbuHeylwig of Dillingen
Lahirskt. 955
Lorraine
Meninggal21 Maret 1034
Saalfeld

KehidupanSunting

Ezzo adalah putra Hermann I, Comte Palatinus di Lotharingia. Ia dilahirkan pada tahun 955, semasa kecilnya ia dikirim untuk dididik oleh kerabatnya, Uskup Ulrich dari Augsburg (keuskupan 923–973). Tidak ada yang diketahui mengenai masa mudanya.

Ia menikahi Mathilde (meninggal 1025), putri Kaisar Otto II dan Theophano, Ezzo menjadi menonjol di masa pemerintahan saudara iparnya, Kaisar Otto III. Pernikahan itu disetujui oleh Permaisuri janda Theophano, mungkin untuk menjadikan keluarga Ezzo berkuasa ke atas takhta. Mathilde menerima maharnya tanah-tanah Ottonian di Thüringen dan Franken (wilayah timur Franka Coburg, Salz dan Orlamünde), sementara suaminya memberinya mahar tanah keluarga di Brauweiler. Saat kematian ayahandanya pada tahun 996, properti kaya Hermann I dibagi di antara putra-putranya. Ezzo menerima tanah-tanah di Moselle, Maifeld, Flamersheimer Wald dan Tomburg serta setengah hak pakai hasil dari Villewaldin. Di saat yang sama, ia harus menerima Palatinus dan hak-hak mantan Comte, karena ia disebut sebagai Comte Auelgau pada tahun 1015 dan sebagai Comte Palatinus di Bonngau pada tahun 1020. Ia juga menerima provinsi Ruhrgau dengan bimbingan Biara Essen, Nordrhein-Westfalen.

Calon yang gagal untuk takhta kekaisaran di saat kematian Otto III, hubungannya dengan Kaisar Heinrich II yang baru dengan cepat menegang. Heinrich II menentang kepemilikan wilayah-wilayah Ezzo, bahwa Ezzo membela warisan istrinya dari Otto III. Konflik tersebut berlarut-larut selama bertahun-tahun, dan akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 1011. Menghadapi gangguan-gangguan di Lotharingia, dan membutuhkan dukungan militer Ezzo, kaisar dipaksa untuk berdamai. Kemenangan Ezzo membuat Heinrich II membuat konsesi dan transformasi lengkap dari kebijakannya. Ia berdamai dengan Ezzo, mengakui hak-hak warisnya dan memberinya wilayah-wilayah kerajaan Kaiserswerth, Duisburg dan Saalfeld untuk menyangkal takhta. Ia juga mengaitkan dinasti Palatinus ke kebijakan-kebijakan Timur, dan bermediasi pernikahan putri Ezzo, Richeza dengan ahli waris Adipati Polandia, Mieszko II.

 
Biara Brauweiler yang didirikan oleh Ezzo pada tahun 1024.

Konsesi teritorial besar ini membuat Ezzo menjadi tokoh yang paling berkuasa di Kekaisaran, setelah Kaisar. Pertumbuhan kekuasaan Ezzo dan peningkatan prestise wangsanya tercermin di dalam pendirian keluarga Biara Brauweiler di dekat Köln, lokasi upacara pernikahannya, yang konstruksinya dimulai setelah perjalanan ke Roma pasangan tersebut pada tahun 1024. Biara itu, yang ditahbiskan pada tahun 1028 oleh Piligrim, uskup agung Köln, menjadi pusat makam dan spiritual dari dinasti Palatinus. Anggota pertama keluarga yang dimakamkan disana adalah istri, Mathilde, yang meninggal pada tanggal 4 November 1025.

Sangat sedikit yang diketahui mengenai kehidupan Ezzo kemudian, namun dilaporkan bahwa ia meninggal di usia tuanya di Saalfeld pada tanggal 21 Maret 1034, dan dimakamkan di Brauweiler.

Ezzo memiliki kepribadian yang mengesankan, di dalam kehidupannya maupun di dalam kantornya, yang digambarkan oleh penulis "Fundatio monasterii Brunwilarensis" yang mungkin dibesar-besarkan. Ia lebih giat di dalam urusan politik terutama untuk kepentingannya sendiri dan kelestarian wangsanya, dan dimana ia dapat meningkatkan wilayah-wilayahnya dan kekuasaannya. Keterampilan manajemennya menguntungkan Permaisuri Theophano, Kaisar Otto III dan kemudian Heinrich II, bersaksi atas ambisi pribadinya dan ketangkasan poltiknya.

KeturunanSunting

Ezzo dan Mathilde meninggalkan tiga orang putra dan tujuh orang putri. Kedua putra yang pertama, Liudolf dan Otto II ditujukan mengabadikan dinasti dan putra yang ketiga Hermann II, dibesarkan untuk memasuki hidup gerejawi. Dari tujuh putri hanya Richeza yang menikah, dan putri-putri lainnya ditempatkan di dalam beberapa biara dimana mereka semua menjadi ketuanya.

Setelah kematian istrinya, Ezzo memiliki seorang putra yang bernama Heinrich (1055–1093) dengan seorang gundik, yang kemudian menjadi abbas Gorze.

SumberSunting

  • Kimpen, E., ‘Ezzonen und Hezeliniden in der rheinischen Pfalzgrafschaft’, Mitteilungen des Österreichischen Instituts für Geschichtsforschung. XII. Erg.-Band. (Innsbruck 1933) S.1–91.
  • Lewald, Ursula, 'Die Ezzonen. Das Schicksal eines rheinischen Fürstengeschlechts', Rheinische Vierteljahrsblätter 43 (1979) S.120–168.
  • Steinbach, F., ‘Die Ezzonen. Ein Versuch territorialpolitischen Zusammenschlusses der fränkischen Rheinlande’, Collectanea Franz Steinbach. Aufsätze und Abhandlungen zur Verfassungs-, Sozial- und Wirtschaftsgeschichte, geschichtlichen Landeskunde und Kulturraumforschung, ed. F. Petri en G. Droege (Bonn 1967) S.64–81.
  • Van Droogenbroeck, F.J., ‘Paltsgraaf Herman II (†1085) en de stichting van de abdij van Affligem (28 juni 1062)’, Jaarboek voor Middeleeuwse Geschiedenis 2 (Hilversum 1999) S.38–95.
  • Van Droogenbroeck, F.J., ‘De betekenis van paltsgraaf Herman II (1064–1085) voor het graafschap Brabant’, Eigen Schoon en De Brabander 87 (Brussels 2004) S.1–166.
  • Wolter, Heinz, Ezzo Pfalzgraf von Lothringen, http://www.rheinische-geschichte.lvr.de/persoenlichkeiten/E/Seiten/Ezzo.aspx.
Ezzo
Lahir: skt. 955 Wafat: 21 Maret 1034
Didahului oleh:
Hermann I
Comte Palatinus Lotharingia
1015–1034
Diteruskan oleh:
Otto II