Entisar Elsaeed

Entisar Elsaeed (atau Entessar El-Saeed) adalah seorang aktivis Mesir untuk hak-hak perempuan dan merupakan pendiri dan direktur Yayasan Kairo untuk Pembangunan dan Hukum. Misi dari Yayasan tersebut berfokus pada pengendalian mutilasi alat kelamin perempuan, membantu korban kekerasan dalam rumah tangga, dan memberikan pendidikan seksual.[1]

Entisar Elsaeed
KebangsaanMesir
Nama lainEntessar El-Saeed
PekerjaanAktivis hak perempuan
OrganisasiCairo Foundation for Development and Law

PergerakanSunting

Seiring dengan pandemi COVID-19, Elsaeed dan yayasannya berfokus pada peningkatan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami banyak wanita. Dengan adanya karantina wilayah oleh pemerintah yang menyebabkan pria menghabiskan waktunya lebih banyak di rumah, tingkat kekerasan dalam rumah tangga diprediksi akan meningkat. Selain itu, oleh karena karantina wilayah kemudian muncul ketidakmampuan untuk mengakses informasi seksual yang aman. Akhirnya, tanggung jawab untuk menjaga anggota keluarga tetap aman dan menjaga jarak secara sosial paling sering menjadi tugas pada ibu rumah tangga. Akibatnya, yayasannya meningkatkan hasil materi pendidikannya pada ketiga masalah ini, yang memungkinkan mereka untuk terus memberikan dampak sambil tetap berpegang pada protokol COVID yang aman.[1]

Elsaeed telah berbicara menentang mutilasi alat kelamin perempuan (FGM) di Mesir, yang memiliki jumlah perempuan terbesar yang telah menjalani FGM di negara mana pun. Dia menyetujui langkah-langkah pemerintah Mesir untuk menjatuhkan hukuman yang lebih keras bagi mereka yang melakukan FGM. Tetapi karena budaya yang mengakar dari FGM di masyarakat Mesir, Elsaeed menyebutkan kekhawatiran bahwa hukum tidak akan ditegakkan.[2]

Selain itu, Elsaeed mendukung kebebasan berbicara untuk wanita yang dipenjara karena "menghasut" dengan memposting video di TikTok, aplikasi media sosial dan berbagi video yang populer. Elsaeed mengkritik ketidakmampuan banyak orang di Mesir untuk menyesuaikan diri dengan perubahan budaya baru yang berkembang sebagai akibat dari media sosial.[3][4][5]

ReferensSunting

  1. ^ a b "OHCHR | Egyptian women and COVID-19". www.ohchr.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-03-08. 
  2. ^ Farouk, Menna A. (2021-01-21). "Egypt's cabinet toughens law banning female genital mutilation". Reuters (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-03-08. 
  3. ^ Foundation, Thomson Reuters. "Egyptian women jailed over TikTok posts to face trafficking charge". news.trust.org. Diakses tanggal 2021-03-08. 
  4. ^ "Egypt court jails belly dancer for 'debauchery' over TikTok post". www.aljazeera.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-03-08. 
  5. ^ Garger, Kenneth (2020-06-29). "Egyptian belly dancer sentenced to prison for posting racy TikTok videos". New York Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-03-08.