Buka menu utama

Edi Ruslan PE Amanriza (lahir di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947 – meninggal di Sukabumi, Jawa Barat, 3 Oktober 2001 pada umur 54 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa cerita pendek, novel, dan esai sastra. Edi Ruslan telah menerima sejumlah penghargaan.[1][2]

RiwayatSunting

Edi Ruslan lahir di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Mengawali proses kreatifnya sebagai pengarang sejak duduk di bangku SMP, tetapi secara sungguh-sungguh baru ia lakukan sekitar tahun 1967. Sejumlah karyanya berupa puisi dan cerpen tercatat pernah dimuat di beberapa media massa antara lain di Mingguan Mimbar Demokrasi, Majalah Mimbar Bandung, Harian Sinar Harapan, Haluan, Kompas, Majalah Sastra Horison, Zaman, dan Menyimak. Karyanya dalam bentuk kumpulan puisi yang telah diterbitkannya, antara lain, Vogabon (1975), Surat-Suratku Kepada GN (1981), Nyanyian Wangkang (1999), sebuah antologi bersama penyair Taufik Ikram Jamil, Antara Mihrab dan Bukit Kawin (1992). Sedangkan karya-karya dalam bentuk roman atau novel yaitu, Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Ke Langit (1993), Jembatan (Kekasih Sampai Jauh), Perang Bagan dan Stasiun di Kaki Bukit. Selain itu, ia juga menerbitkan satu-satunya kumpulan cerpennya, Renungkanlah Markasan (DKR, 1997). Dua novelnya, Jakarta di Manakah Sri dan Di Bawah Matahari, diterbitkan di Kualalumpur, Malaysia. Sementara roman-romannya yang lainnya diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta.[3]

Kumpulan esai yang pernah dia tulis yakni, Kita dan Pedih yang Sama (1999), yang ditulisnya setiap minggu selama tiga tahun berturut-turut di sebuah mingguan yang terbit di Pekanbaru, dan Aduh Riau Dilanggar Todak berisikan sejumlah tulisannya di majalah berita Gatra, Jakarta. Atas kiprah dan peran aktifnya di dunia kesusastraan, tercatat ia pernah meraih beberapa penghargaan, diantaranya, Hadiah Sayembara mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1977, memenangi sayembara mengarang roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1986, Hadiah ke-dua Sayembara mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1997, Anugerah Sagang kategori Seniman Terbaik Pilihan Sagang dari Yayasan Sagang (1998), dan Seniman Pemangku Negeri (SPN) dari DKR.[4]

KaryaSunting

  • Vogabon (kumpulan puisi, 1975)
  • Nakhoda (novel)
  • Surat-suratku kepada GN (kumpulan puisi, 1981)
  • Panggil Aku Sakai (Novel, 1987)
  • Nyanyian Wangkang (Kumpulan Puisi, 1999)
  • Antara Mihrab dan Bukit Kawin (kumpulan puisi, sebuah antologi bersama penyair Taufik Ikram Jamil, 1992)
  • Di Bawah Matahari (novel)
  • Taman (novel)
  • Jakarta di Manakah Sri (novel)
  • Ke Langit (novel, 1993)
  • Jembatan /Kekasih Sampai Jauh (novel)
  • Perang Bagan (novel)
  • Stasiun di Kaki Bukit (novel)
  • Dikalahkan Sang Sapurba (novel)
  • Renungkanlah Markasan (kumpulan cerpen, 1997)
  • Kita dari Pedih Yang Sama (kumpulan esei, 1999)
  • Aduh, Riau Dilanggar Todak (kumpulan esei)

PenghargaanSunting

  • Novelnya Panggil Aku Sakai memenangi sayembara mengarang roman Dewan Kesenian Jakarta (1986)
  • Novelnya Nakhoda mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1977)
  • Novelnya Dikalahkan Sang Sapurba mendapat hadiah kedua Sayembara mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1997)
  • Anugerah Sagang kategori Seniman Terbaik Pilihan Sagang dari Yayasan Sagang (1998)
  • Seniman Pemangku Negeri (SPN) dari DKR

ReferensiSunting

  1. ^ Website resmi Taman Ismail Marzuki, diakses 4 Maret 2015
  2. ^ Jendela Sastra, diakses 4 Maret 2015
  3. ^ Melayu Online, diakses 4 Maret 2015
  4. ^ Riau Pos: Proses kreatif Edi Ruslan, diakses 4 Maret 2015