Das Ding an sich

Das Ding an sich adalah sebuah konsep filsafat dari bahasa Jerman yang secara harafiah berarti "benda pada dirinya sendiri". Konsep ini merupakan konsep sentral dalam filsafat modern setelah Kant. Penggagasnya adalah Immanuel Kant.[1]

Kant mengatakan 'penampakan objek' bukanlah 'objek'. Objek di luar diri kita itu, menurutnya, tidak kita ketahui. Jika kita melihat tembok, tembok di hadapan kita itu menurut Kant bukanlah tembok pada dirinya sendiri, bukan benda itu sendiri (das Ding an sich), melainkan hanyalah penampakan tembok itu sejauh kita tangkap dengan pancaindra.[1] Tembok yang sejati tidak pernah terlihat, karena dia berada dalam dunia numenal di seberang dunia fenomenal. Demikianlah, das Ding an sich merupakan X yang tidak kita ketahui.[1] Kita bisa melihat tembok itu, karena tembok an sich itu menimbulkan pengindraan dalam diri manusia yang pada gilirannya dengan pengindraan itu melihat benda itu (tidak sebagaimana apa adanya, melainkan) menurut struktur a priori pengindraannya.[1]

Kantianisme berporos dari dualisme dunia fenomenal dan numenal ini. Max Weber, misalnya, memahami tindakan (Handeln) sebagai ekspresi makna (Sinn) yang bersifat numenal pada perilaku (Verhalten) yang bersifat fenomenal. Di dalam idealisme Fichte, Schelling, dan Hegel das Ding an sich itu dicoret karena dikritik sebagai tidak konsisten.[1] Sebagai ganti benda pada dirinya, muncul pikiran pada dirinya sendiri. Dan itulah idealisme: realitas identik dengan pikiran. Di dalam positivisme Comte, das Ding an sich juga dicoret, tetapi yang dianggap ada hanyalah dunia fenomenal yang lalu dianggap sebagai fakta.[1] Di dalam filsafat kehendak Schopenhauer, das Ding an sich itu diidentifikasi sebagai Kehendak Metafisis (der metaphysische Wille) yang buta.[1]

Pemikiran tentang das Ding an sich ini dapat menjelaskan, misalnya, mengapa konstruksi-konstruksi pikiran kita turut menentukan pengetahuan kita tentang benda-benda. Model atom dalam fisika dan kimia, misalnya, bukanlah atom itu sendiri, tetapi lewat model itu atom diidentifikasi. Atom dalam fisika dan kimia itu tetap tak terlihat.[1] Dalam dunia sosial konstruksi-konstruksi sangan penting. Realitas sosial an sich itu sulit diketahui. Konstruksi dan interpretasinya membantu kita untuk mengenalinya, tetapi dengan cara itu realitas sosial tidak hanya diketahui, melainkan juga diciptakan.[1]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i F. Budi Hardiman. 2011. Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Erlangga. Hal. 248