Buka menu utama

Bonshō (bahasa Jepang: 梵鐘, lonceng Buddha), juga dikenal sebagai tsurigane (釣り鐘, lonceng gantung) atau ōgane (大鐘, lonceng besar) adalah lonceng besar yang ditemukan di kuil-kuil Buddha di seluruh Jepang, yang digunakan untuk memanggil para biksu untuk berdoa dan menandai batas periode waktu. Bonshō dibunyikan dengan cara dipukul di bagian luar menggunakan pemukul yang digenggam atau digantung pada tali.

Bonshō
Bonshō
Bonshō di Ryōan-ji.
Perkusi
Nama laintsurigane, ōgane
KlasifikasiPerkusi, Idiofon
Klasifikasi Hornbostel-Sachs111.242.121
(Lonceng gantung tanpa pemukul internal)
DikembangkanPeriode Yamato (berdasarkan pada lonceng Tiongkok awal)
Instrumen terkait

Lonceng tersebut biasanya terbuat dari perunggu, menggunakan salah satu metode pengecoran dengan cetakan sekali pakai. Lonceng ditambahkan dan dihiasi dengan berbagai bentuk tonjolan, pita, dan inskripsi. Bonshō tertua di Jepang diperkirakan berasal dari tahun 600 M. Desainnya yang umum mirip dengan lonceng Tiongkok dan menampilkan fitur-fitur seperti yang terlihat pada lonceng-lonceng Tiongkok kuno.

Bunyi bonshō dapat terdengar hingga jarak yang cukup jauh, sehingga digunakan sebagai penanda, penunjuk waktu, dan alarm. Selain itu, suara lonceng tersebut memiliki karakter supranatural, antara lain suara tersebut dipercaya dapat didengar di dunia bawah tanah. Bonshō berperan penting dalam upacara-upacara Buddhis, khususnya festival tahun baru dan Obon. Sepanjang sejarah Jepang, lonceng tersebut dikaitkan dengan cerita-cerita dan legenda-legenda, baik fiksi, seperti lonceng Benkei dari Mii-dera, maupun sejarah, seperti lonceng Hōkō-ji. Pada masa modern, bonshō menjadi lambang perdamaian dunia.

Daftar isi

Asal mulaSunting

Bonshō berasal dari kata bianzhong (henshō 編鐘 dalam bahasa Jepang), sebuah instrumen pengadilan Tiongkok kuno yang terdiri atas serangkaian lonceng bernada. Salah satu lonceng tambahan berukuran lebih besar, yang kemudian dikembangkan menjadi bonshō, digunakan sebagai perangkat bernada dan panggilan pada pendengarnya untuk menghadiri resital bianzhong.[1] Menurut legenda, bonshō awalnya didatangkan dari Tiongkok ke Jepang melalui Semenanjung Korea. Nihon Shoki mencatat bahwa Ōtomo no Satehiko membawa tiga lonceng perunggu kembali ke Jepang pada tahun 562 sebagai rampasan perang dari Goguryeo.[2]

KonstruksiSunting

Sebuah lonceng di Mii-dera yang dibunyikan dengan menggunakan sebuah shu-moku

Bonshō dibentuk dalam satu potongan utuh menggunakan dua cetakan, satu untuk inti (bagian dalam) dan satunya lagi kerangka luar. Proses pembuatan bonshō sebagian besar tidak berubah sejak Zaman Nara (710–794).[3] Intinya dibuat dari kubah tumpukan batu bata terbuat dari pasir yang dikeraskan, sementara kerangka luar menggunakan cetakan tanah liat. Inskripsi dan hiasan-hiasannya dibentuk pada cetakan tanah liat tersebut.[4] Di antara kerangka luar dan inti akan terbentuk celah sempit. Di celah itulah dituangkan cairan perunggu pada suhu lebih dari 1050 °C (1920 °F). Rasio campuran tembaga dan timah sekitar 17:3. Rasio campuran tersebut dan kecepatan proses pendinginan dapat mempengaruhi nada lonceng. Setelah logam dingin dan mengeras, cetakan dihancurkan, sehingga setiap lonceng menggunakan satu cetakan sekali pakai.[5] Proses ini memiliki tingkat kegagalan yang tinggi, hanya sekitar 50 persen pembuatan berhasil pada upaya pertama, tanpa keretakan atau ketidaksempurnaan.[1]

Proses pembuatan bonshō secara tradisional disertai dengan nyanyian sutra Buddha yang dapat berlangsung selama beberapa jam. Kertas-kertas doa, tangkai murbei suci, dan benda-benda upacara Buddha lainnya ditambahkan ke cairan perunggu selama proses.[1][5][6]

Bagian-bagian lonceng kuil terdiri atas:[7][8]

  • Ryūzu 竜頭, pegangan berbentuk naga di atas lonceng untuk membawa atau menggantung lonceng;
  • Kasagata 笠形, mahkota kubah lonceng;
  • Chichi or nyū, tonjolan di sekitar bagian atas lonceng untuk mempertajam resonansinya;
  • Koma no tsume 駒の爪, lingkar yang lebih rendah;
  • Tsuki-za 撞座, panel pemukulan, yaitu titik tempat lonceng dipukul. Panel ini sering berbentuk lotus Buddha;
  • Tatsuki 竜貴, bagian horizontal dengan dekorasi;
  • Mei-bun 銘文, inskripsi (umumnya mengenai sejarah lonceng); dan
  • Shu-moku 手木, pemukul kayu yang digantung untuk memukul bagian tsuki-za.

SuaraSunting

Lonceng-lonceng kuil Jepang dipukul dari luar dengan sejenis palu atau balok yang digantung, bukan dengan anak lonceng (pemukul dalam).[9][10] Suara lonceng terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama adalah atari, dampak dari pukulan. Lonceng yang dibuat dengan baik akan menghasilkan nada yang bersih dan jernih. Suara awal pukulan segera diikuti dengan oshi, gema yang terus terdengar setelah lonceng dipukul. Nadanya lebih tinggi dan getarannya rendah, kaya harmoni. Oshi berlangsung hingga sepuluh detik. Terakhir adalah okuri atau kehilangan, resonansi yang terdengar saat getaran lonceng menghilang, yang dapat berlangsung hingga satu menit. Ada juga harmonisasi nada yang berkelanjutan terdengar dari seluruh dentangan lonceng.[1][2] Banyaknya nada ini menciptakan suatu bentuk titinada yang lengkap.[11]

Nada rendah dan resonansi dalam dari lonceng memungkinkan suaranya terdengar hingga jarak yang cukup jauh. Sebuah bonshō besar dapat terdengar hingga jarak 32 kilometer (20 mi) pada hari yang cerah.[1] Nada lonceng dinilai secara hati-hati oleh pembuatnya dan perbedaan satu hertz pun pada frekuensi dasarnya akan memaksa lonceng itu untuk dibuat ulang.[5]

Fungsi dan signifikansiSunting

Bonshō ditempatkan di kuil-kuil Buddha, biasanya di sebuah bangunan atau menara yang dirancang khusus yang disebut shōrō 鐘楼. Lonceng tersebut digunakan untuk menandai waktu,[12] dan memanggil para biksu untuk pelayanan liturgi.[13] Dalam Buddhisme, suara lonceng dianggap menenangkan dan menyelimuti suasana meditasi.[14] Karena bentuknya (dengan bahu melengkung dan dasar datar), lonceng dipandang mewakili wujud Buddha yang sedang duduk.[1]

Suara keras dari lonceng tersebut juga digunakan sebagai peringatan datangnya angin ribut dan bencana besar.[15] Karena bunyi lonceng kuil terdengar sampai jauh, lonceng tersebut juga terkadang digunakan untuk keperluan pertanda lainnya. Terdapat catatan bahwa lonceng-lonceng kuil diguakan untuk komunikasi militer dari zaman Perang Genpei (1180–1185 Masehi). Versi-versi yang lebih kecil kemudian digunakan untuk keperluan pertempuran karena lonceng kuil besar telalu keras dan berat untuk dibawa. Bonshō yang lebih kecil tersebut biasanya digunakan sebagai alarm peringatan serangan musuh; komando diberikan menggunakan drum dan keong.[16]

Sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru Jepang, orang-orang membunyikan lonceng kuil sebanyak 108 kali dalam sebuah upacara yang dikenal sebagai Joyanokane (除夜の鐘, Lonceng Tahun Baru); 108 bunyi lonceng menandakan pembersihan umat manusia dari 108 cobaan duniawi.[17][18] Pada Festival Obon Buddha, sebuah jenis khusus dari bonshō yang disebut ōkubo-ōgane (大久保大鐘, lonceng berongga besar) dibunyikan. Lonceng tersebut digantung di atas sebuah sumur dan suara dari lonceng tersebut dipercaya menuju ke dunia bawah melalui sumur tersebut untuk memanggil jiwa-jiwa yang telah meninggal. Pada akhir perayaan tersebut, bonshō lainnya, yang disebut okurikane (送り鐘, lonceng pengiriman balik), dibunyikan untuk mengirim jiwa-jiwa kembali dan untuk mewakili akhir musim panas.[1][19]

Selama Perang Dunia II, kebutuhan akan logam untuk perang menghasilkan banyak lonceng yang dilebur untuk diproses ulang menjadi peralatan atau perlengkapan perang. Akibatnya, lonceng-lonceng yang tersisa umumnya dianggap sebagai artefak bersejarah yang penting. Lebih dari 70.000 lonceng (sekitar 90 persen dari seluruh bonshō yang ada pada saat itu) dihancurkan.[1][20] Tetapi, tingginya produksi lonceng setelah masa perang menghasilkan pada tahun 1995 jumlah lonceng kuil di Jepang telah sama dengan jumlah sebelum perang.[3]

Pada paruh akhir abad ke-20, Asosiasi Lonceng Perdamaian Dunia dibentuk di Jepang, dengan keperluan mendanai dan memasang lonceng-lonceng kuil yang ditempatkan di seluruh dunia sebagai lambang perdamaian.[21][22] Bonshō juga dibunyikan sebagai reaksi atas bencana-bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011; beberapa komunitas yang terkena dampaknya membunyikan lonceng untuk mengenang peristiwa tersebut.[3]

Bonshō secara okasional digunakan sebagai alat musik dalam komposisi modern. Suara yang direkam dari lonceng-lonceng kuil digunakan dalam karya Mayuzumi Toshiro Olympic Campanology, yang digunakan untuk membuka Olimpiade Tokyo 1964.[23] Sebuah lonceng kuil juga digunakan dalam penampilan karya Jacob Druckman Lamia, yang dibunyikan dengan ditempatkan di atas gendang belanga.[24] Komposer-komposer modern untuk perkusi terkadang menggunakan lonceng kuil untuk menggantikan suara yang sekarang umumnya dari tam-tam orkestra.[25]

Contoh terkenalSunting

Bonshō tertua yang diketahui (bahkan diyakini sebagai lonceng tertua di dunia yang masih digunakan) adalah lonceng Okikicho di Myōshin-ji, yang dipasang tahun 698.[26] Lonceng terbesarnya adalah sebuah lonceng di Chion-in, yang dipasang tahun 1633 dan memiliki berat 74 ton. Dibutuhkan 25 orang untuk membunyikan lonceng tersebut.[27]

 
Toyohara Chikanobu, Lonceng Raksasa, s. 1890. Tiga lapis ukiyo-e yang menggambarkan Benkei mencuri bonshō Mii-dera.

Pada abad ke-17, bonshō juga menjadi lambang kepemimpinan sebuah kuil. Letak lonceng menandakan kepemilikan kuil yang bersangkutan. Akibatnya, lonceng sering dicuri. Tokoh pahlawan cerita rakyat, Benkei, dikatakan menyeret lonceng seberat tiga ton dari kuil Mii-dera ke atas Gunung Hiei pada saat mencurinya.[28][29][30] Goresan yang parah pada lonceng Benkei, yang masih disimpan di Mii-dera, dikatakan dalam legenda membuat Benkei menendang lonceng tersebut ke sepanjang jalan kembali ke biara tersebut ketika ia menyadari bahwa lonceng tersebut tidak dapat dibunyikan olehnya.[31] Lonceng Benkei juga dikaitkan dengan pahlawan legendaris Tawara Tōda, yang pada awalnya menyumbangkan lonceng itu kepada kuil Mii-dera. Ia memperoleh lonceng itu sebagai hadiah dari dewa naga Ryūjin setelah menyelamatkan dewa tersebut dari seekor lipan raksasa.[32]

 
"Kokka ankō"; inskripsi bencana lonceng Hōkō-ji

Setelah kuil Hōkō-ji terbakar pada permulaan abad ke-17, Toyotomi Hideyori mensponsori rekonstruksi kuil itu tahun 1610 dan memasang sebuah lonceng besar sebagai bagian dari proses rekonstruksi. Inskripsi lonceng tersebut berisi kemarahan terhadap Tokugawa Ieyasu, yang menjadi shogun setelah menggulingkan kekuasaan dari klan Toyotomi ketika ayah Hideyori, Hideyoshi, meninggal. Inskripsi tersebut, "Kokka ankō" 国家安康 ("Perdamaian dan trankuilitas untuk negara"), memisahkan karakter untuk nama shogun (家康) dengan karakter kanji untuk "perdamaian" (安). Tokugawa menganggap bahwa Toyotomi mengartikan perdamaian dengan "memisah-misahkan tubuh" Tokugawa. Oleh karena itu, ia kemudian menyatakan perang terhadap klan Toyotomi, melakukan Pengepungan Osaka, dan berujung pada pembasmian Toyotomi.[33][34][35]

Sebuah bonshō perunggu menjadi salah satu hadiah yang dipersembahkan kepada Komodor Matthew Perry setelah kedatangannya di Jepang.[36] Diberikan oleh pembuat lonceng dari keluarga Suwa asal Provinsi Higo, lonceng tersebut sekarang disimpan dalam koleksi Institusi Smithsonian.[37]

Permainan panggung Noh Dōjōji (道成寺), satu-satunya permainan panggung Noh yang menampilkan peralatan dengan ukuran yang signifikan, yang berdasarkan pada sebuah legenda tentang lonceng Dōjō-ji. Dalam cerita tersebut, seorang wanita bernama Kiyohime, yang menolak menjadi wanita simpanan dari seorang pendeta Buddha bernama Anchin, menjebak kekasihnya ke dalam lonceng kuil tersebut dan kemudian membunuhnya dengan cara berubah menjadi ular, melilitkan dirinya di lonceng tersebut, dan memasaknya di dalam lonceng.[38]

Lonceng Kuil Nishi-Arai Daishi di Tokyo diturunkan pada 1943, untuk dileburkan sebagai bagian dari upaya perang Jepang. Kru USS Pasadena menemukannya di atas tumpukan sampah dan membawa lonceng itu ke Amerika Serikat sebagai trofi perang, menyumbangkannya ke kota Pasadena; majelis kota tersebut mengembalikan lonceng tersebut ke Tokyo pada 1955.[39] Sebuah cerita yang sama terjadi pada lonceng Manpuku-ji, yang dibawa ke Amerika Serikat di atas USS Boston setelah perang; namun dalam kasus ini, otoritas Sendai mengijinkan lonceng tersebut tetap berada di Boston sebagai lambang persahabatan antara dua kota tersebut. Lonceng Boston merupakan bonshō PDII terakhir di Amerika Serikat.[40]

Lonceng Perdamaian Jepang di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York disumbangkan oleh Jepang pada 1954 sebagai sebuah lambang perdamaian dunia. Lonceng tersebut dibuat menggunakan metal yang diklaim berasal dari koin-koin dan dan medali-medali yang diberikan oleh para penyumbang dari seluruh dunia.[41] Lonceng-lonceng yang sama mewakili sebuah komitmen untuk penyebab perdamaian dunia yang dapat ditemukan di beberapa wilayah menonjol, termasuk Taman Monumen Perdamaian di Hiroshima.[42] Pada 1995, kota Oak Ridge, Tennessee, mendirikan sebuah lonceng perdamaian seberat empat ton – sebuah replika dari salah satu lonceng-lonceng Hiroshima – di pusat kota sebagai bagian dari perayaan peringatan kelima puluhnya, dan untuk memperkuat hubungan dengan Jepang. Lonceng Persahabatan Oak Ridge didekorasi dengan tanggal-tanggal yang berhubungan dengan hubungan Oak Ridge dengan Jepang (uranium yang digunakan dalam bom atom Hiroshima diproduksi di Oak Ridge).[43] Pada 1998, seorang warga lokal menggugat kota tersebut atas belas tersebut, mengklaim bahwa lonceng tersebut merupakan sebuah lambang Buddha dan bertentangan dengan hukum lokal dan Konstitusi AS. Kasus tersebut diputuskan dalam mendukung Kota Oak Ridge.[44]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h Gill, Steven Henry (Penulis); May, Julian (Produser) (07-03-2010). Heart & Soul: Japan's Buddhist temple bells (Dokumentasi radio). Jepang: BBC World Service. 
  2. ^ a b Onozuka, Masakazu (2012). "Tsurikane no O-hanashi" (PDF). IHI Gihō = Journal of IHI Technologies (dalam bahasa bahasa Jepang). 52 (3): 32–35. Diakses tanggal 01-10-2014. 
  3. ^ a b c Kazuyoshi, Harada (07-10-2013). "New Bells with an Age-old Sound: Oigo Seisakusho". Nippon.com (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 02-09-2014. 
  4. ^ Smith, Cyril Stanley (17-04-1972). "Penrose Memorial Lecture. Metallurgical Footnotes to the History of Art". Proceedings of the American Philosophical Society. 116 (2): 109. doi:10.2307/986166. JSTOR 986166. 
  5. ^ a b c "The Ohjikicho Temple Bell (Myoshinji Temple, Kyoto) The Difference a Single Hz Can Make". The Japanese Craftsman. Murata Manufacturing Company. Diakses tanggal 16-05-2013. 
  6. ^ Smith, D. Ray (08-06-2008). "Oak Ridge International Friendship Bell – Part 1 of casting ceremony". The Oakridger. Diakses tanggal 16-05-2013. 
  7. ^ Frédéric, Louis (2002). Japan Encyclopedia. Harvard University Press. hlm. 81. ISBN 978-0-674-01753-5. 
  8. ^ "Buddhist Temples". Japan National Tourism Organization. Diakses tanggal 15-05-013. 
  9. ^ Berkley, Rebecca (2006). The Illustrated Complete Musical Instruments Handbook. Flame tree. hlm. 71. ISBN 978-1-84451-520-2. 
  10. ^ Starr, Laura B. (1896). "Japanese Metal Work". The Decorator and Furnisher. 27 (5): 140. doi:10.2307/25583310. JSTOR 25583310. 
  11. ^ "Human Hearing". New Technologies. Australian Bell. Diakses tanggal 02-09-2014. 
  12. ^ Tiemersma, Douwe; Oosterling, Henk (1996). Time and Temporality in Intercultural Perspective. Rodopi. hlm. 97. ISBN 90-5183-973-1. 
  13. ^ Malm, William P. (2000). Traditional Japanese Music and Musical Instruments: The New Edition. Kodansha International. hlm. 74. ISBN 978-4-7700-2395-7. 
  14. ^ "Bon-sho (Sacred Bell)". Byodo-in Temple. Diakses tanggal 15-05-2013. 
  15. ^ Price, Percival (1983). Bells and Man. Oxford University Press. hlm. 48. ISBN 978-0-19-318103-8. 
  16. ^ Turnbull, Stephen (20-06-2012). War in Japan 1467–1615. Osprey Publishing. hlm. 29. ISBN 978-1-78200-018-1. 
  17. ^ Baroni, Helen J. (2002). The Illustrated Encyclopedia of Zen Buddhism. The Rosen Publishing Group. hlm. 306. ISBN 978-0-8239-2240-6. 
  18. ^ "In with the New around the World". The Scotsman. Diakses tanggal 15-05-2013 – via HighBeam Research. ((Perlu berlangganan (help)). 
  19. ^ Horton, Sarah (2007). Living Buddhist Statues in Early Medieval and Modern Japan. Palgrave Macmillan. hlm. 132. ISBN 978-1-4039-6420-5. 
  20. ^ "What is a Bonsho(梵鐘 temple bell)? : Temples". Japan Two. JESTO Ltd. Diakses tanggal 15-05-2013. 
  21. ^ "Bells & Gongs for Peace (&/or International Friendship) Around the World". Peace Monuments Around the World. Diakses tanggal 16 Mei 2013. 
  22. ^ "About World Peace Bell". World Peace Bell Association. Diakses tanggal 19 Agustus 2014. 
  23. ^ Shimazu, Takehito (1994). "The History of Electronic and Computer Music in Japan: Significant Composers and Their Works". Leonardo Music Journal. 4: 103. doi:10.2307/1513190. JSTOR 1513190. 
  24. ^ Frank, Andrew (June 1982 volume=38). "Lamia, for Soprano and Orchestra by Jacob Druckman". Notes (4): 930. doi:10.2307/940004. JSTOR 940004. 
  25. ^ Beck, John H. (26 November 2013). Encyclopedia of Percussion. Routledge. hlm. 292. ISBN 978-1-317-74768-0. 
  26. ^ Rossing, Thomas (2000). Science of Percussion Instruments. World Scientific. hlm. 179. ISBN 978-981-02-4158-2. 
  27. ^ Hearn, Lafcadio. Lafcadio Hearn Glimpses of Unfamiliar Japan Vol 1. Brighthouse. hlm. 61 (footnote). GGKEY:94BGWZS0H8R. 
  28. ^ Beardsley, Richard King (1969). Studies in Japanese Culture. University of Michigan Press. hlm. 54–55. 
  29. ^ Namazu-e and Their Themes: An Interpretative Approach to Some Aspects of Japanese Folk Religion. Brill Archive. 1964. hlm. 172. 
  30. ^ Ashkenazi, Michael (2003). Handbook of Japanese Mythology. ABC-CLIO. hlm. 97. ISBN 978-1-57607-467-1. 
  31. ^ Michener, James Albert (1954). The Floating World. University of Hawaii Press. hlm. 292. ISBN 978-0-8248-0873-0. 
  32. ^ Ashkenazi, Michael (Januari 2003). Handbook of Japanese Mythology. ABC-CLIO. hlm. 270. ISBN 978-1-57607-467-1. 
  33. ^ Sadler, A L (7 September 2010). The Maker of Modern Japan: The Life of Tokugawa Ieyasu. Taylor & Francis. hlm. 273. ISBN 978-0-203-84508-0. 
  34. ^ Ponsonby-Fane, Richard A. B. (1966). Kyoto: The Old Capital of Japan, 794–1869. The Ponsonby Memorial Society. hlm. 292. 
  35. ^ Titsingh, Isaac (1834). Nipon o Daï Itsi Ran; ou, Annales des Empereurs du Japon. Oriental Translation Fund of Great Britain and Ireland. hlm. 410. 
  36. ^ Mansfield, Stephen (29 April 2009). Tokyo: A Cultural History. Oxford University Press. hlm. 82. ISBN 978-0-19-972965-4. 
  37. ^ Houchins, Chang Su (1995). "Artifacts of Diplomacy: Smithsonian Collections from Commodore Matthew Perry's Japan Expedition (1853–1854)" (PDF). Smithsonian Contributions to Anthropology (37): 111. Diakses tanggal 5 September 2014. 
  38. ^ Keene, Donald (1970). 20 Plays of the Nō Theatre. Columbia University Press. hlm. 238–252. ISBN 0-231-03455-5. 
  39. ^ "Big Buddhist Bell Back Home". LIFE. Time Inc: 87. 12 September 1955. ISSN 0024-3019. 
  40. ^ Crawford, Francine. "The Story of the Japanese Temple Bell in the Back Bay Fens". BackBay Patch. Diakses tanggal 17 Mei 2013. 
  41. ^ "Japanese Peace Bell". UN Tour. United Nations. Diakses tanggal 16 May 2013. 
  42. ^ Weinberg, Alvin M. (December 1993). "Chapters from the Life of a Technological Fixer". Minerva. 31 (4): 447–448. doi:10.1007/bf01096449. JSTOR 41820913. 
  43. ^ Weinberg, Alvin M. (December 1999). "Scientific Millenarianism". Proceedings of the American Philosophical Society. 143 (4): 534. JSTOR 3181986. 
  44. ^ Kiernan, Denise (11 March 2014). The Girls of Atomic City: The Untold Story of the Women Who Helped Win World War II. Simon and Schuster. hlm. 308. ISBN 978-1-4516-1753-5. 

Bacaan tambahanSunting

  • 安倍李昌『雅楽がわかる本』
  • 浦井祥子『江戸の時刻と時の鐘』岩田書院、2002年2月、ISBN 4-87294-243-4
  • 姜健栄『梵鐘をたずねて 新羅・高麗・李朝の鐘』アジアニュースセンター、1999年3月
  • 姜健栄『李朝の美 仏画と梵鐘』明石書店、2001年2月、ISBN 4-7503-1373-4
  • 川端定三郎(編)『岡山の梵鐘』日本文教出版、1984年9月、ISBN 4-8212-5112-4
  • 小泉功、青木一好(共著)『大江戸・小江戸川越時の鐘ものがたり』子どもと教育社、2001年8月、ISBN 4-901313-04-5
  • 坂内誠一『江戸最初の時の鐘物語』流通経済大学出版会、1999年2月、ISBN 4-947553-12-X
  • 笹本正治『中世の音・近世の音 鐘の音の結ぶ世界』名著出版、1990年11月、ISBN 4-626-01391-0 / 2003年3月、ISBN 4-626-01669-3
  • 坪井良平『梵鐘と考古学』ビジネス教育出版社、1989年10月、ISBN 4-8283-0804-0
  • 坪井良平『梵鐘の研究』ビジネス教育出版社、1991年7月、ISBN 4-8283-0805-9
  • 坪井良平『永遠に生き続ける文化遺産 歴史考古学の研究』ビジネス教育出版社、1984年10月、ISBN 4-8283-8409-X
  • 坪井良平『忘れられた文化財を探る 梵鐘の研究』ビジネス教育出版社、ISBN 4-8283-0805-9
  • 奈良国立文化財研究所編『梵鐘研究資料の集大成 梵鐘実測図集成』(全二巻)、ビジネス教育出版社、ISBN 4-8283-0867-9
  • 長谷進『寒雉 鋳物師宮崎三代』能登中居鋳物館、2000年9月、ISBN 4-8330-1119-0
  • 眞鍋孝志・花房健次郎(共著)、日本古鐘研究会編『梵鐘遍歴 霊場の古鐘をたずねて』ビジネス教育出版社、2001年10月、ISBN 4-8283-0821-0 / 第二刷: 2002年4月、ISBN 4-8283-0823-7
  • 吉村弘『大江戸時の鐘音歩記』春秋社、2002年12月、ISBN 4-393-93474-1

Pranala luarSunting