Buka menu utama

Bebegig merupakan representasi penjaga lingkungan alam sekitar.[1]Bebegig berkaitan erat dengan wilayah sebelah Utara Desa Sukamantri,yang disebut Tawang Gantungan, sebuah bukit dengan hutan larangan yangmasih dianggap keramat dan angker. Wilayah ini oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai bekas kerajaan. Orang yang berkuasa di wilayah Tawang Gantungan pada waktu itu adalah Prabu Sampulur, yang dikenal sakti dan juga cerdik. Untuk menjaga dari gangguan orang yang punya niat jahat, dibuatlah topeng-topeng dari kulit kayu yang sedemikian rupa menyerupai wajah yang menyeramkan. Konon, karena kesaktian Prabu Sampulur bila ada orang yang berniat jahat melihat topeng tersebut seolah-olah melihat makhluk tinggi besar menyeramkan dan membuat takut orang itu. Terdapat versi lain tentang kesejarahan bebegig. Konon bebegig ini berawal pada masa Kerajaan Sunda yang hendak menikahkan Putri Dyah Pitaloka dengan Raja Hayam Wuruk saat di Lapangan Bubat. Namun disaat menunggu kedatangan rombongan Kerajaan Majapahit, rombongan Kerajaan Sunda diserang oleh prajurit bertopeng yang keluar dari hutan. Sehingga terjadilah Perang Bubat. Tata cara seni pertunjukan bebegig: sebelum bebegig dibuat, para pemain berdoa terlebih dahulu, kemudian berangkat ke Gunung Karang Gantungan untuk mengambil bahan-bahan untuk pembuatan bebegig, antara lain: ijuk, bubuay, daun waregu. Pertunjukan Bebegig Sukamantri dibagi menjadi empat

bagian, yaitu (1) perkakas yang digunakan untuk membuat bebegig; (2) Grup seni pertunjukan bebegig Sukamantri “Baladdewa”; (3) pelaksanaan acara helaran bebegig Sukamantri; (4) Lagu-lagu yang dibawakan dalam bebegig Sukamantri adalah Papalayon, Wawaledan, Banjaran, Palangsiang, Kembang Beureum, Deungkleung Déngdék, Kembang Tanjung, dan Rayak-rayak. Fungsi sosial bebebig adalah mempererat persatuan dan kesatuan dalam menjaga, melestarikan, mengembangkan potensi daerah, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap jatidiri kepribadian budaya lokal. Bebegig Sukamantri memiliki bentuk seperti buta (raksasa) dengan makna simbolik sebagai ikon latar belakang wilayah setempat. Bebegig Sukamantri ini sebagian bahannya menggunakan pohon kawung (Aren). Bagi masyarakat empunya budaya, pohon Kawung dimaknai digunakan karena semua bagian dari pohon tersebut bisa bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Bebegig


Warisan Budaya Tak Benda Propinsi Jawa Barat
Kriteria Rincian
Domain Budaya: Seni Pertunjukan
Lokasi Persebaran: Desa Campaka, Kecamatan

Sukamantri, Kabupaten Ciamis

Maestro: Cucu Panji Suherman (Dusun

Campaka, Kecamatan Sukamantri, Ciamis);

Tarmedi (Dusun Dangdeur, Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Ciamis);

Upung Purwata (Dusun Sukamantri 2, Kecamatan Sukamantri, Ciamis)

Kondisi Budaya: Sedang Berkembang


Referensi:Sunting

  1. ^ Palusen dkk., Dais Dharmawan (2018). Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018. Jakarta, Indonesia: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebuudayaan. hlm. 135.  line feed character di |publisher= pada posisi 40 (bantuan)