Aneka Tambang

perusahaan asal Indonesia
(Dialihkan dari Antam)

PT Aneka Tambang Tbk atau biasa disingkat menjadi Antam, adalah bagian dari MIND ID yang terutama bergerak di bidang pertambangan nikel, bauksit, dan emas. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2021, perusahaan ini juga memiliki 15 butik emas yang terletak di 11 kota di Indonesia.[2][3]

PT Aneka Tambang Tbk
ANTAM
Perusahaan publik
Kode emitenIDX: ANTM
ASXATM
IndustriPertambangan
Didirikan5 Juli 1968; 55 tahun lalu (1968-07-05)
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia
Wilayah operasi
Indonesia
Tokoh
kunci
Nicolas Kanter[1]
(Direktur Utama)
F.X. Sutijastoto[1]
(Komisaris Utama)
Produk
PendapatanRp 38,446 triliun (2021)[2]
Rp 2,200 triliun (2021)[2]
Total asetRp 32,916 triliun (2021)[2]
Total ekuitasRp 20,837 triliun (2021)[2]
PemilikMineral Industri Indonesia (65%)
Publik (35%)
Karyawan
2.902 (2021)[2]
DivisiUBPP Logam Mulia
Anak
usaha
Asia Pacific Nickel Pty., Ltd.
PT Indonesia Coal Resources
PT Antam Resourcindo
PT Emas Antam Indonesia
PT Cibaliung Sumberdaya
PT Indonesia Chemical Alumina
Situs webwww.antam.com

Sejarah Sunting

 
Tambang emas di Cikotok pada tahun 1949

Perusahaan ini memulai sejarahnya pada tahun 1968 sebagai sebuah perusahaan negara (PN) dengan nama PN Aneka Tambang yang didirikan oleh pemerintah Indonesia sebagai hasil penggabungan dari PN Tambang Bauksit Indonesia,[4] PN Tambang Emas Tjikotok,[5] PN Logam Mulia,[6] PT Nikel Indonesia, Proyek Tambang Intan Kalimantan Selatan, dan proyek-proyek eks-Bappetamb.[7] Pada tahun 1974, status perusahaan ini diubah menjadi persero.[8] Pada tahun 1976, perusahaan ini mulai mengoperasikan Pabrik FeNi I di Pomalaa secara komersial, dan tiga tahun kemudian, perusahaan ini juga mulai mengoperasikan tambang nikel di Pulau Gebe. Pada tahun 1994, perusahaan ini mulai mengoperasikan tambang emas di Pongkor, dan setahun kemudian, perusahaan ini juga mulai mengoperasikan Pabrik FeNi II di Pomalaa secara komersial. Pada tanggal 27 November 1997, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Setahun kemudian, perusahaan ini juga mulai mengoperasikan tambang nikel di Pulau Gee.

Pada tahun 1999, perusahaan ini mencatatkan sahamnya dalam bentuk CHESS Depositary Interest (CDI) di Australian Securities Exchange, dan pada tahun 2002, perusahaan ini meningkatkan status pencatatannya di ASX menjadi pencatatan penuh. Pada tahun 2001, perusahaan ini mulai mengoperasikan tambang nikel di Tanjung Buli. Pada tahun 2007, perusahaan ini mulai mengoperasikan Pabrik FeNi III di Pomalaa secara komersial. Pada tahun 2009, perusahaan ini mengakuisisi tambang emas di Cibaliung. Pada tahun 2010, perusahaan ini meneken kontrak EPC untuk pembangunan pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan, serta mulai mengoperasikan tambang emas di Cibaliung dan tambang nikel di Tapunopaka. Pada tahun 2011, perusahaan ini mengakuisisi tambang batu bara di Sarolangun dan membuka tambang nikel di Pulau Pakal.

Pada tahun 2012, perusahaan ini meletakkan batu pertama pembangunan PLTU dan Lini 4 di Pabrik Feronikel Pomalaa. Pada tahun 2013, perusahaan ini mulai mengoperasikan pabrik CGA Tayan. Pada tahun 2014, perusahaan ini mulai mengoperasikan fasilitas dermaga, konveyor, dan Pemurnian-3 di Pabrik Feronikel Pomalaa. Pada tahun 2015, perusahaan ini meluncurkan emas batangan bermotif batik dan mulai mengoperasikan Lini 4 di Pabrik Feronikel Pomalaa. Pada tahun 2016, perusahaan ini meluncurkan layanan penyimpanan emas BRANKAS, produk perhiasan, dan produk Green Fine Aggregate (GFA). Perusahaan ini kemudian juga menjalin aliansi strategis dengan Newcrest dalam hal eksplorasi emas.

Pada tahun 2017, untuk pertama kalinya, perusahaan ini mengekspor produk emas ke Jepang. Perusahaan ini kemudian juga mendapat izin untuk mengekspor bijih nikel kadar rendah dan bijih bauksit tercuci. Pada tahun 2017 juga, perusahaan ini mulai membangun pabrik feronikel di Halmahera Timur. Pada tahun yang sama, pemerintah resmi menyerahkan mayoritas saham perusahaan ini ke Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai bagian dari upaya untuk membentuk holding BUMN yang bergerak di bidang industri pertambangan.[9] Pada tahun 2018, perusahaan ini meluncurkan emas batangan bermotif tematik dan bermotif batik seri II. Pada tahun 2018 juga, perusahaan ini resmi memegang seluruh saham PT Indonesia Chemical Alumina. Pada tahun 2019, perusahaan ini meluncurkan emas batangan seri hadiah dan bezel emas seri II.[2][3]

Pada bulan Desember 2022, agar Inalum dapat fokus berbisnis di bidang produksi aluminium, pemerintah mengalihkan mayoritas saham perusahaan ini ke Mineral Industri Indonesia (MIND ID) yang sengaja didirikan sebagai induk holding BUMN industri pertambangan.[10][11]

Referensi Sunting

  1. ^ a b "Komisaris & Direksi". PT Aneka Tambang Tbk. Diakses tanggal 28 Februari 2023. 
  2. ^ a b c d e f g "Laporan Tahunan 2021" (PDF). PT Aneka Tambang Tbk. Diakses tanggal 28 Februari 2023. 
  3. ^ a b "Sejarah Perusahaan". PT Aneka Tambang Tbk. Diakses tanggal 28 Februari 2023. 
  4. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 89 tahun 1961" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 28 Februari 2023. 
  5. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 91 tahun 1961" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 28 Februari 2023. 
  6. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 218 tahun 1961" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 1 Maret 2023. 
  7. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 1968" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 28 Februari 2023. 
  8. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 1974" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 28 Februari 2023. 
  9. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 47 tahun 2017" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 27 Februari 2023. 
  10. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 2022" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 24 Maret 2023. 
  11. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 46 tahun 2022" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 24 Maret 2023. 

Pranala luar Sunting