Altruisme kompetitif

Altruisme kompetitif ialah mekanisme yang memungkinkan perilaku kerja sama, terutama tanpa syarat. Dalam teori altruisme berbalas, perilaku donor yang kemudian mendapatkan keuntungan mungkin terjadi. Namun, jika ganjaran tidak ada, pembalasan tidak dapat menjadi sebab perilaku altruistik.

KarakteristikSunting

Dalam menerangkan altruisme kompetitif, Roberts memberi contoh jilat-menjilat dalam kelompok burung. Burung tertentu tidak dapat menangkap parasit di setiap sudut tubuh, terutama leher, maka mereka saling membersihkan. Setiap burung hidup bersama seluruh kelompok yang kemudian dapat menjadi pembersih dirinya, berkompetisi agar dapat membentuk hubungan yang membawa keuntungan. Si curang, burung yang dibersihkan tetapi tidak mau membersihkan, tidak turut bersaing dan terasingkan dari hubungan ini. Kebertahanan mereka dalam seleksi alam menurun karena isolasi dari kelompok.

McNamara et al. menganalisis teori ini secara kuantitatif. Seperti Robert Axelrod, mereka membuat program komputer yang menyimulasikan interaksi berulang di antara individu. Program menggunakan pemain dengan ciri tertentu secara genetis, "sifat kooperatif" dan ‘sifat pemilih.’ Hasil simulasi berikut ini.

Kombinasi sifat ‘paradoks’ trait menghasilkan nilai yang rendah: individu dengan sifat pemilih yang rendah tetapi berusaha keras cenderung dieksploitasi oleh rekan; individu dengan sifat pemilih yang tinggi tetapi kurang berusaha menghabiskan waktu mencari rekan yang lebih baik dan cenderung tidak menerima tawaran. Korelasi positif antara sifat pemilih dan kooperatif menghasilkan assortment positif antara tipe yang kooperatif – fitur penting semua mekanisme pendukung kerja sama.

Pengembangan kerja sama ini membutuhkan beragam derajat kooperasi dan sifat pemilih, yang disangkutkan dengan variasi dan mutasi genetis. McNamara et al. juga berargumen bahwa periode pencarian dibutuhkan agar pemain yang ‘saling dapat diterima’ bertemu satu sama lain menyebabkan altruisme kompetitif cenderung muncul pada hewan dengan waktu hidup yang panjang.

Dilema TahananSunting

Dalam hubungannya dengan dilema tahanan, individu diuntungkan paling besar pada interaksi sekali dengan individu lain menggunakan pengrusakan (yaitu memperoleh keuntungan tanpa menghabiskan sumber daya sendiri). Namun, dalam dilema tahanan teriterasi, yang mana mereka berinteraksi lebih dari sekali, jika tindak pengrusakan mengurangi kesempatan individu menarik kawan yang cocok di masa depan, perilaku kooperatiflah yang dipilih.

Pemilihan kooperasi ini lebih kuat jika tindakan individu dalam interaksi diamati oleh individu pihak ketiga, mengingat kemungkinan terbentuknya reputasi. Amotz Zahavi, terkenal atas karyanya yang menyangkut <i>Argya squamiceps</i>, berpendapat bahwa tingkat "gengsi sosial" memengaruhi individu mana yang akan saling berinteraksi dan bagaimana mereka berperilaku.

Altruisme kompetitif tampak berulang kali dalam penelitian dengan manusia. Misalnya, individu menjadi lebih dermawan ketika perilaku mereka dilihat oleh yang lain dan individu altruistik memiliki status sosial yang lebih dan secara selektif dipilih sebagai rekan kolaborasi dan pemimpin kelompok... Dengan penambahan pandangan teori seleksi sosial, penelitian menunjukkan bahwa laki-laki berperilaku lebih altruistik di depan perempuan (yang menarik) dan laki-laki altruistik lebih dipililh sebagai rekan seksual jangka panjang.

Prinsip CacatSunting

Teori altruisme kompetitif juga menghubungkan perilaku semacam itu dengan prinsip cacat. Dalam altruisme kompetitif, kooperasi adalah karakter yang memungkinkan manfaat sinyal dan karenanya adalah subjek seleksi seksual. Seperti ekor merak, kooperasi berlangsung dan diperbesar walau merugikan individu. Kooperasi secara signifikan merugikan individu hingga hanya segelintir populasi dapat mengambil bagian.

Roberts berpendapat altruisme adalah manfaat sinyal dengan "teori hadiah gratis". Karena penerima mendapatkan sejumlah keuntungan dari interaksi dengan donor, terdapat insentif untuk memerhatikan sinyal. Misalnya, beberapa burung jantan mempersembahkan makanan untuk calon pasangan. Perilaku tersebut, <i>courtship feeding</i>, tidak hanya menguntungkan betina, yang mendapatkan makanan tanpa mengeluarkan energi, tetapi juga menggambarkan kemampuan jantan dalam memperoleh makanan. Oleh karena itu, sinyal dijaga sebenar-benarnya (yaitu tetap menggambarkan secara benar kemampuan pasangan).

Namun, hubungan antara altruisme kompetitif dan sinyal tidak bebas dari kritik. Wright mengangkat bahwa perilaku sinyal altruistik seperti pemberian hadiah menyebabkan "aliran kebugaran dari individu berkualitas tinggi ke yang rendah" dan mengurangi kebenaran sinyal. Sebagai dukungan, Wright berstipulat bahwa perilaku altruistik harus diberikan kepada pasangan atau kawan. Agar teori benar, keuntungan sinyal harus ditampilkan sehingga meningkatkan kecocokan individu melebihi keuntungan dari "investasi" di pasangan.

Lihat jugaSunting

  • Conspicuous conservation
  • Coopetition
  • Nice guy
  • Noblesse oblige
  • Potlach

ReferensiSunting