Aloysius Suwardi (lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 21 Juni 1951; umur 69 tahun) adalah musikus berkebangsaan Indonesia. Bidang yang digeluti dia adalah etnomusikologi, utamanya karawitan. Aloysius Suwardi telah banyak menciptakan musik-musik tradisi. Karya-karya nya banyak ditampilkan di dalam maupun luar negeri.[1]

Aloysius Suwardi
Lahir (1951-06-21)21 Juni 1951
Bendera Indonesia Sukoharjo, Jawa Tengah
Pekerjaan Musikus
Tahun aktif 1974 - sekarang

Kehidupan pribadiSunting

Tahun 1969 Aloysius Suwardi mulai belajar seni karawitan Jawa dan Bali di Konservatori Karawitan Surakarta. Tahun 1973 selama hampir 10 tahun ia melanjutkan studinya ke Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta. Di Akademi Seni Karawitan Surakarta inilah Suwardi bertemu dengan berbagai macam guru, mentor, seniman dan mahasiswa generasi baru yang membentuk citranya di kemudian hari. Ia giat menjadi aktivis gerakan seni gamelan baru. Pertemuannya dengan seniman Sardono W. Kusumo pada tahun 1974, yang mengajaknya bermain dalam pertunjukan keliling seni kontemporer sampai Paris menjadi awal titik pandang baru Suwardi di bidang penciptaan karya-karya seni kontemporer yang bersumber dari tradisi. Sejak saat itu dia tak pernah jedah mengikuti festival seni kontemporer internasional di berbagai negara.[2]

Selama dua tahun, 1985 sampai 1987, Aloysius Suwardi memperoleh grant dari Fulbright Foundation untuk menjadi dosen tamu seni karawitan Jawa di Oberlin College, Michigan University dan Wisconsin University of Madison, Amerika Serikat. Dengan beasiswa dari Ford Foundation dan Asian Cultural Council, tahun 1997 Suwardi memperoleh gelar Master dalam bidang etnomusikologi dari Westleyan University, Connecticut, Amerika Serikat. Pada tahun 1999 dia diundang sebagai dosen tamu oleh Monash University, Melbourne, Australia. Kemudian dengan grant dari Monash Silver Jubilee Postgraduate Scholarship ia melanjutkan lagi studi etnomusikologi di universitas yang sama untuk program doktor.[3]

Karya-karyaSunting

Karya-karya Aloysius Suwardi dimainkan di berbagai forum festival internasional, antara lain di Pekan Komponis-Dewan Kesenian Jakarta (1982-1988), Island to Island Festival London (1990), KIAS di Amerika Serikat dan Kanada (1991), Music Festival of Samarkand di Uzbekistan (1997), Asean Composer Forum di Thailand (1999), Art Summit Indonesia 2001 di Jakarta. Di samping banyak bekerja sama dengan seniman-seniman kenamaan sezamannya di tanah air, Suwardi juga berkolaborasi dengan komponis terkenal Jepang, Toshi Tsuchitori (1992, 1998) dan Yuji Takehashi (2001). Karya-karya terpenting Aloysius Suwardi antara lain Onde-onde, Ngalor-Ngidul (bersama Rustopo dan T.S. Suparno), Debah, Jagongan, Gender dan Sebuah Proses, Sak-sake, Planet Harmonics, Nunggak-Semi, Nyugata, In Nem, Sindhen Kewek, Swara Gentha, Tumbuk dan tiga penataan musik untuk iringan tari Gotong-royaong, Bismo Gugur, Bedaya Ge-Hing. Karya-karya lainnya adalah In Nem (2010), SLEPENDA: A Concerto for Slompret, Nyugata (2009), Planet Harmonics, Sindhen Kewek, Nunggak Semi (2008), The Ringing of Gentha (2007), Spice Roots (2005), dan Bedaya Ge-Hing (2005).[4]

Suwardi tak hanya dikenal sebagai komponis dan pengrawit yang andal utamanya untuk alat musik gender, gambang, rebab, dan suling tetapi juga dikenal sebagai penala gamelan piawai. Dalam konteks musik kontemporer yang bersumber dari musik tradisi nusantara, Suwardi juga dikenal lihai sebagai reparator dan modifikator alat-alat musik gamelan lama maupun baru. Ia membuat alat musik gambang dan gender macro dan berbagai alat musik baru yang dibuat dari benda-benda keseharian seperti bambu, kayu, air, metal, dan barang-barang bekas. Sebagai seniman dan pendidik berpengalaman, saat ini Aloysius Suwardi mengajar mata kuliah komposisi, organologi, studio musik, dan etnomusikologi di almamaternya, Institut Seni Indonesia Surakarta.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Website resmi Yayasan Kelola, diakses 26 Februari 2015
  2. ^ The Jakarta Post, diakses 26 Februari 2015
  3. ^ Portland Mercury, diakses 26 Februari 2015
  4. ^ Beritane: Aloysius Suwardi, diakses 26 Februari 2015