Buka menu utama

Abdoel Moethalib Sangadji

(Dialihkan dari A.M. Sangadji)

Abdoel Moethalib Sangadji (lahir di Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku - meninggal di Yogyakarta, Indonesia, tahun 1947) lebih dikenal dengan nama A. M. Sangadji dan dijuluki Jago Tua adalah pahlawan perintis kemerdekaan Indonesia.

Latar Belakang dan PendididikanSunting

Abdoel Moethalib lahir di Pulau Haruku tepatnya di Negeri Rohomoni yang masyarakatnya dikenal menjunjung tinggi adat dan agama, berasal dari keluarga Sangadji Hatuhaha. Sangadji sendiri merupakan gelar untuk wakil Kesultanan Ternate pada masanya di Pulau Haruku(Nusa Hatuhaha).

Memulai mengenyam pendidikan dasar pada Sekolah Belanda HIS dan dilanjutkan dengan pendidikan menengah MULO. Abdoel Moethalib yang tidak sempat melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi kemudian memilih terjun dalam dunia politik.

Karier Politik dan PerjuanganSunting

Bersama Oemar Said Tjokroaminoto dan beberapa pejuang sejamannya seperti H. Agoes Salim turut andil dalam mendirikan organisasi Sarekat Islam yang sebelumnya dikenal Serikat Dagang Islam Pada tahun 1912, Abdoel Moethalib juga pernah berpartisipasi sebagai peserta dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di jakarta. Dikenal piawai dalam berpidato Abdoel Moethalib memiliki mobilitas tidak hanya di Maluku tempat asalnya, tapi juga pernah berkiprah di Borneo, terlebih lagi di Jawa. Pada tahun 1920-an, di Samarinda Kalimantan Timur, Abdoel Moethalib mendirikan Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rakjat (BPPR) serta mengelola Neutrale School untuk menampung anak-anak sekolah dari kalangan bumiputera. Setelah mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Abdoel Moethalib melakukan perjalanan dari Samarinda ke Banjarmasin untuk bertemu dengan pemimpin BPRI, menyebarkan berita kemerdekaan bangsa Indonesia di daerah yang dilalui, dan megibarkan bendera Sang Saka Merah Putih.

Oleh para pejuang kemerdekaan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Abdoel Moethalib disebut sebagai pemimpin tua dan dijuluki Jago Tua, seperti diwartakan dalam beberapa surat kabar di ibu kota Republik, Hindeburg Kalimantan, serta Merdeka Solo. Pihak Kolonial Belanda dan Jepang pun tahu tentang kedudukan dia sebagai pemimpin tua itu. Pada bulan April 1946 polisi Belanda berhasil menangkap Abdoel Moethalib dan memenjarakannya di penjara Banjarmasin. Selepas keluar penjara Banjarmasin, Abdoel Moethalib menyeberang ke pulau Jawa. Ia kemudian memimpin Laskar Hisbullah yang berpusat di Yogyakarta dan pernah menugaskan R. Soedirman untuk membentuk Laskar untuk daerah Martapura dan Pelaihari, serta Tamtomo sebagai penghubung Markas Besar Hisbullah Yogya untuk Kalimantan. Akan tetapi, ia kemudian tewas ditembak militer ketika Agresi Militer Belanda I di Yogyakarta tahun 1947.