Buka menu utama

Wat Sema Mueang adalah kuil tertua di Provinsi Nakhon Si Thammarat dan merupakan situs bersejarah di Tambon Nai Sema, sekitar 37 km dari kota Nakhon Si Thammarat[1].

Wat Sema Mueang
Kuil
Koordinat: 8°25′30″N 99°57′50″E / 8.42500°N 99.96389°E / 8.42500; 99.96389
NegaraThailand
Pemerintah ProvinsiNakhon Si Thammarat
Zona waktuBangkok (UTC+7)

Wat Sema Mueang merupakan sebuah komplek tempat peribadatan agama budha. Di bagian tengah komplek terdapat aula dengan diding yang separuh bagian terbuat dari beton dengan tinggi satu setengah meter. Bagian atas diding berupa teralis kawat sebagai ventilasi udara. Teralis ini dibuat agar orang dapat melihat ke dalam ruangan dan sebaliknya. Tempat ini digunakan para biksu sebagai tempat sarapan dan berdiskusi[2] setelah berkeliling kota untuk menerima sedekah dari masyarakat.

Di bagian tengah komplek, terdapat bagunan seluas kamar, berpintu kaca. Di dalam kamar, dijajarkan arca Budha dan patung para biksu yang berjasa bagi kuil ini[2].

Di depan kamar diletakkan replika piagam batu (prasasti) Wat Sema Mueang. Piagam batu ini berada di dalam kaca persegi. Piagam terbuat dari batu pasir dengan tinggi 104 sentimeter, lebar 50 sentimeter, tebal 9 sentimeter. Kedua sisi batu dipahat dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Tepat di sebelah prasasti ada plat logam bertulisan keterangan dalam bahasa Thai[2]. Prasasti asli disimpan di Museum Nasional Bangkok dengan nama Wat Sema Mueang, kode NS9[3].

PrasastiSunting

Prasasti ini bertarikh tahun 775. Pada sisi muka (sisi A) piagam terdapat 29 baris tulisan dan pada sisi belakang (sisi B) terdapat empat baris.

Sisi A berisi puji-pujian terhadap keagungan raja Sriwijaya. Raja tersebut memberi titah kepada biksu Jayanta agar mendirikan trisamaya-caitya (tiga bagunan suci) untuk pemujaan Sakyamuni (Budha), Bodhisattwa Padmapani, dan Bodhisattwa Wajrapani. Ketika biksu Jayanta wafat, biksu Adhimukti mendirikan dua caitya (stupa) lainnya[3].

Sisi B berisi tentang Maharaja Sailendra yang dijuluki Sesasavvarimadavimathana atau "pembunuh musuh-musuh sombong tidak bersisa" dan disamakan dengan Wisnu[2]. Julukan ini identik dengan julukan viravairimathana pada prasasti Nalanda[3] antara 810 - 850 dan julukan viravairivaraviravimardana pada prasasti Kelurak (782) yang disandang oleh Dharanindra di Jawa Tengah. Ketiga julukan tersebut mengacu kepada Rakai Panamkaran, raja Sailendra di Jawa.

Penulisan sisi B atas perintah cucu Panamkaran, maharaja Sriwijaya, Balaputradewa. Pengerjaannya tidak berselisih lama dengan prasasti Nalanda pada awal abad ke-9.[2]

ReferensiSunting

Pranala luarSunting