Buka menu utama

Wikipedia β

Wakil Rakyat (film)

Wakil Rakyat merupakan film Indonesia yang dirilis pada tahun 2009 yang disutradarai oleh Monty Tiwa. Film ini dibintangi antara lain oleh Tora Sudiro, Revalina S Temat, Vincent Rompies, Jaja Mihardja, Gading Marten, Dwi Sasono, Tarzan, Wiwid Gunawan, Francine Roosenda dan Joe Project P. Serta Mat Solar, Nunung Srimulat, Marwoto, Francine Roosenda, Debby Sahertian, Yati Pesek dan Tessy. Ini adalah film pertama bertemakan politik di Indonesia yang dibuat oleh Starvision Plus yang timbul melalui ide cerita Eric Tiwa.

Wakil Rakyat
Wakil Rakyat.jpg
Sutradara Monty Tiwa
Produser Chand Parwez Servia
Penulis Eric Tiwa
Pemeran Tora Sudiro
Revalina S Temat
Vincent Rompies
Jaja Mihardja
Gading Marten
Dwi Sasono
Tarzan
Wiwid Gunawan
Joe Project P
Mat Solar
Nunung
Marwoto
Francine Roosenda
Debby Sahertian
Tessy
Miea Kusuma
Musik Bongky Marcel
Penyunting Benjamin W. Tubalawony
Distributor Kharisma Starvision Plus
Durasi
90 menit
Negara Indonesia

SinopsisSunting

Karena melakukan kesalahan fatal pada acara rakernas sebuah partai besar, Bagyo Tora Sudiro harus kehilangan pekerjaannya. Musibah itu membuat rencana pernikahannya dengan Ani Revalina S Temat batal. Apalagi Abdul Jaja Mihardja, ayah Ani memang tidak menyukainya. Di tengah kesulitan itu musibah lain datang, uang untuk ongkos orang tuanya datang melamar ke Jakarta dicuri oleh sekawanan penjahat. Karena tidak tahan tekanan yang bertubi-tubi Bagyo jadi gelap mata. Ia mencari orang-orang yang membawa kabur uangnya untuk menuntut balas.

Kebetulan para penjahat itu sedang merampok seorang artis bernama Atika Wiwid Gunawan. Aksi itu gagal karena Bagyo tiba-tiba muncul dan langsung menghajar mereka hingga babak belur. Bagyo disanjung sebagai pahlawan. Kisah keberanian Bagyo menjadi berita di berbagai media nasional maupun daerah.

Ketenaran Bagyo lalu dimanfaatkan oleh sebuah partai politik papan atas untuk menggaet dukungan massa dalam pemilihan legislatif. Bagyo ditemani Jereng Vincent Rompies berangkat untuk berkampanye di Wadasrejo, sebuah daerah terpencil yang rakyatnya hidup serba kekurangan. Ternyata masyarakatnya tidak mengenal sosok Bagyo sama sekali. Di sana Bagyo menemukan kenyataan lain yang lebih penting daripada nama besar dan popularitas. Masyarakat desa lebih menghargai kejujuran dan ketulusan daripada kata-kata muluk yang diobral dalam sebuah kampanye politik.


Pranala luarSunting