Buka menu utama

Tumbuhan dan hewan terdomestikasi di Austronesia

Peta kronologi penyebaran orang-orang Austronesia ke wilayah Indo-Pasifik[1]

Salah satu dari migrasi manusia awal paling utama adalah pendudukan maritim pulau-pulau di wilayah Indo-Pasifik oleh orang-orang Austronesia, yang diyakini bermula sekitar setidaknya 5.500 hingga 4.000 tahun yang lalu (3500 to 2000 SM). Bersamaan dengan migrasi ini, tumbuhan dan hewan yang sudah terdomestikasi, separuh terdomestikasi, atau yang digunakan untuk bahan pangan ikut diangkut di atas perahu-perahu bercadik and katamaran. Hal ini memungkinkan masyarakat Austronesia mula-mula untuk berkembang dengan pesat di Asia Tenggara Maritim, Oseania Dekat (Melanesia), Oseania Jauh (Mikronesia dan Polinesia), Madagascar, serta Kepulauan Komoro.[2][3]

Spesies-spesies yang dibawa mencakup tanaman dan hewan yang diyakini berasal dari kebudayaan Hemudu dan Majiabang yang merupakan kampung halaman hipotetis bangsa Austronesia purba di Tiongkok daratan,[4] serta tanaman dan hewan lainnya yang diperkirakan didomestikasikan untuk pertama kali di Taiwan, Asia Tenggara Maritim, dan Papua.[5][6] Beberapa di antara tanaman ini juga dikenal sebagai "tanaman-tanaman kano", terutama dalam konteks migrasi Polinesia.[7][8]

TanamanSunting

Aleurites moluccanus (kemiri)Sunting

 
Dedaunan, bunga, dan buah kemiri (Aleurites moluccanus) dari Maui

Kemiri (Aleurites moluccanus) pertama kali didomestikasikan di Asia Tenggara Maritim. Peninggalan arkeologi berupa kemiri yang sudah dipanen telah ditemukan dari situs-situs di Timor dan Morotai di timur Indonesia, yang masing-masingnya diperkirakan berasal dari 13.000 dan 11.000 tahun yang lalu. [9] Bukti arkeologis dari penanaman kemiri juga ditemukan di situs-situs Neolitikum kebudayaan Toala di Sulawesi yang berasal dari kisaran 3.700 hingga 2.300 tahun yang lalu.[10][11] Kemiri disebarluaskan ke Kepulauan Pasifik oleh penjelajah-penjelajah awal Austronesia dan menjadi spesies ternaturalisasi di pulau-pulau bergunung api.[12][13][14]

 
Para wanita menyiapkan obor kemiri dalam festival Baha Liurai di Babulo, Timor Leste

Kata untuk kemiri direkonstruksi ke dalam bahasa Proto-Melayu Polinesia sebagai *kamiri, dengan keturunan modern yang mencakup kata kamiri dalam bahasa Hanunó'o, Iban, and Sunda; kemiri dalam bahasa Jawa dan Melayu; serta kamii dalam bahasa Tetun. Akan tetapi, kosakata Oseania untuk kemiri diyakini berasal dari kata rekonstruksi bahasa Proto-Austronesia *CuSuR yang lalu menjadi *tuhuR dalam bahasa Proto-Melayu-Polinesia, dengan makna asli "terangkai bersama, serupa manik-manik", yang merujuk pada perakitan obor kemiri. Kata ini menjadi *tuRi dalam bahasa Proto-Melayu-Polinesia Tengah-Timur dan Proto-Oseanik sebelum kemudian direduplikasi. Keturunan modernnya mencakup tui-tui dalam bahasa Fiji, Tonga, Rarotonga, dan Niue, serta kui-kui atau kukui dalam bahasa Hawaii.[15]

Alocasia macrorrhizos (bira)Sunting

 
Perkebunan bira (Alocasia macrorrhizos) di Tongatapu, Tonga

Bira (Alocasia macrorrhizos) pertama kali didomestikasikan di Filipina, tetapi spesimen liar juga sudah ditemui oleh masyarakat Austronesia mula-mula di Taiwan. Dari Filipina, tumbuhan ini menyebar keluar hingga ke seluruh Asia Tenggara Maritim dan ke timur hingga Oseania dan menjadi salah satu tanaman pokok bagi penduduk Kepulauan Pasifik.[16][17] Bira adalah satu dari empat spesies utama araceae (talas-talasan) yang dikultivasi oleh orang-orang Austronesia sebagai sumber pati. Tiga spesies lainnya ialah Amorphophallus paeoniifolius, Colocasia esculenta, dan Cyrtosperma merkusii, yang masing-masingnya terbagi lagi menjadi beragam kultivar. Dedaunan dan batang tanaman-tanaman ini juga dapat dikonsumsi jika dimasak dengan seksama, meskipun hal ini jarang dilakukan pada bira karena tanaman ini mengandung lebih banyak rafid yang dapat membuat gatal-gatal.[18][19]

Kata yang direkonstruksi untuk bira dalam bahasa Proto-Austronesia adalah *biRaq, yang kemudian menjadi *piRaq dalam bahasa Proto-Oseanik. Keturunan modernnya di Asia Tenggara Maritim dan Mikronesia mencakup vi'a atau bi'a dalam bahasa Rukai; bila dalam bahasa Ifugao; biga dalam bahasa Iloko, Cebu, Bikol, dan Mongondow; bira dalam bahasa Tiruray; biha dalam bahasa Ngaju; via dalam bahasa Malagasi; birah dalam bahasa Melayu dan Aceh; bísə dalam bahasa Palau; piga dalam bahasa Chamorro; wia dalam bahasa Bima; fia dalam bahasa Roti dan Tetun; hila dalam bahasa Asilulu; serta fira dalam bahasa Kowiai. Di wilayah Oseania, kerabat kata ini mencakup kata pia dalam bahasa Wuvulu dan Aua; hira dalam bahasa Motu dan 'Are'are; via dalam bahasa Kilivila dan Fiji; serta pia dalam bahasa Hawaii. Perlu dicatat bahwa dalam beberapa kasus, kata-kata ini mengalami pergesaran semantik dan merujuk pada jenis talas-talasan yang lain.[15][16]

RujukanSunting

  1. ^ Chambers, Geoff (2013). "Genetics and the Origins of the Polynesians". eLS. John Wiley & Sons, Inc. doi:10.1002/9780470015902.a0020808.pub2. ISBN 978-0470016176. 
  2. ^ Bellwood, Peter (2004). "The origins and dispersals of agricultural communities in Southeast Asia" (PDF). Dalam Glover; Bellwood, Peter. Southeast Asia: From Prehistory to History. RoutledgeCurzon. hlm. 21–40. ISBN 9780415297776. 
  3. ^ Reilly, Kevin (2012). Volume I: Prehistory to 1450. The Human Journey: A Concise Introduction to World History. 1. Rowman & Littlefield Publishers, Inc. hlm. 207–209. ISBN 9781442213869. 
  4. ^ Liu, Li; Chen, Xingcan (2012). "Emergence of social inequality – The middle Neolithic (5000–3000 BC)". The Archaeology of China: From the Late Paleolithic to the Early Bronze Age. Cambridge World Archaeology. Cambridge University Press. hlm. 204. doi:10.1017/CBO9781139015301.007. ISBN 9780521644327. 
  5. ^ Bourke, Richard Michael (2009). "History of agriculture in Papua New Guinea" (PDF). Dalam Bourke; Harwood, Tracy. Food and Agriculture in Papua New Guinea. ANU E Press. hlm. 10–26. doi:10.22459/FAPNG.08.2009. ISBN 9781921536618. 
  6. ^ Denham, Tim (October 2011). "Early Agriculture and Plant Domestication in New Guinea and Island Southeast Asia". Current Anthropology. 52 (S4): S379–S395. doi:10.1086/658682. 
  7. ^ Kitalong, Ann Hillmann; Ballick, MichaelJ.; Rehuher, Faustina; Besebes, Meked; Hanser, Sholeh; Soaladaob, Kiblas; Ngirchobong, Gemma; Wasisang, Flora; Law, Wayne (2011). "Plants, people and culture in the villages of Oikull and Ibobang, Republic of Palau". Dalam Liston; Clark, Geoffrey; Alexander, Dwight. Pacific Island Heritage: Archaeology, Identity & Community. Terra Australis. 35. ANU E Press. hlm. 63–84. ISBN 9781921862489. 
  8. ^ Theroux, Paul (December 2002). "The Hawaiians". National Geographic. 202 (6): 2–41. 
  9. ^ Blench, Roger (2004). "Fruits and arboriculture in the Indo-Pacific region". Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association. 24 (The Taipei Papers (Volume 2)): 31–50. 
  10. ^ Simanjuntak, Truman (2006). "Advancement of Research on the Austronesian in Sulawesi". Dalam Simanjuntak; Hisyam, M.; Prasetyo, Bagyo; Nastiti, Titi Surti. Archaeology: Indonesian Perspective : R.P. Soejono's Festschrift. Indonesian Institute of Sciences (LIPI). hlm. 223–231. ISBN 9789792624991. 
  11. ^ Hasanuddin (2018). "Prehistoric sites in Kabupaten Enrekang, South Sulawesi". Dalam O'Connor; Bulbeck, David; Meyer, Juliet. The Archaeology of Sulawesi: Current Research on the Pleistocene to the Historic Period. terra australis. 48. ANU Press. hlm. 171–189. doi:10.22459/TA48.11.2018.11. ISBN 9781760462574. 
  12. ^ Larrue, Sébastien; Meyer, Jean-Yves; Chiron, Thomas (2010). "Anthropogenic Vegetation Contributions to Polynesia's Social Heritage: The Legacy of Candlenut Tree (Aleurites moluccana) Forests and Bamboo (Schizostachyum glaucifolium) Groves on the Island of Tahiti". Economic Botany. 64 (4): 329–339. doi:10.1007/s12231-010-9130-3. 
  13. ^ Weisler, Marshall I.; Mendes, Walter P.; Hua, Quan (2015). "A prehistoric quarry/habitation site on Moloka'i and a discussion of an anomalous early date on the Polynesian introduced candlenut (kukui, Aleurites moluccana)". Journal of Pacific Archaeology. 6 (1): 37–57. 
  14. ^ Kirch, Patrick V. (1989). "Second Millennium B.C. Arboriculture in Melanesia: Archaeological Evidence from the Mussau Islands". Economic Botany. 43 (2): 225–240. doi:10.1007/BF02859865. 
  15. ^ a b Blust, Robert; Trussel, Stephen (2013). "The Austronesian Comparative Dictionary: A Work in Progress". Oceanic Linguistics. 52 (2): 493–523. doi:10.1353/ol.2013.0016. 
  16. ^ a b Osmond, Meredith (1998). "Horticultural practices" (PDF). Dalam Ross; Pawley, Andrew; Osmond, Meredith. The lexicon of Proto Oceanic : The culture and environment of ancestral Oceanic society. Vol. 1: Material Culture. Pacific Linguistics. hlm. 115–142. doi:10.15144/PL-C152.115. 
  17. ^ Nauheimer, Lars; Boyce, Peter C.; Renner, Susanne S. (April 2012). "Giant taro and its relatives: A phylogeny of the large genus Alocasia (Araceae) sheds light on Miocene floristic exchange in the Malesian region". Molecular Phylogenetics and Evolution. 63 (1): 43–51. doi:10.1016/j.ympev.2011.12.011. PMID 22209857. 
  18. ^ Manner, Harley I. (2006). "Farm and Forestry Production Marketing Profile for Giant Tao (Alocasia macrorrhiza)" (PDF). Dalam Elevitch. Specialty Crops for Pacific Island Agroforestry. Permanent Agricultural Resource (PAR). 
  19. ^ Matthews, Peter J. (1995). "Aroids and the Austronesians". Tropics. 4 (2/3): 105–126. doi:10.3759/tropics.4.105.