Buka menu utama

Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu adalah seorang ulama besar Aceh yang menulis karya sastra perang yang terkenal yaitu Hikayat Prang Sabi. Dia dilahirkan pada tahun 1251 H (1836 M) di desa Pante Kulu, Titeue, Pidie, dalam suatu keluarga ulama yang ada hubungan kerabat dengan kelompok ulama Tiro.[1]

Riwayat HidupSunting

 
Hikayat Prang Sabi, karya sastra perang yang mendorong perlawanan rakyat Aceh melawan Belanda

Setelah belajar al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam dalam bahasa Jawi (Melayu), dia melanjutkan pelajarannya pada Dayah Tiro yang dipimpin oleh Teungku Haji Chik Muhammad Amin Dayah Cut, seorang tokoh ulama Tiro yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji di Mekah, dan sangat besar pengaruhnya di Aceh. Setelah belajar beberapa tahun sehingga mahir bahasa Arab dan menamatkan beberapa macam kitab ilmu pengetahuan ia mendapat gelar Teungku di Rangkang (asisten dosen). Kemudian dengan izin gurunya Teungku Haji Chik Muhammad Amin, ia melanjutkan studinya ke Mekah sambil menunaikan ibadah haji. Di Mekah ia memperdalam ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu lainnya, seperti sejarah, logika, falsafah, sastra dan sebagainya. Di samping belajar, ia juga mengadakan hubungan dengan pemimpin-pemimpin Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Kebangkitan Dunia Islam yang dikumandangkan oleh gerakan Wahabi di bawah pimpinan ulama besar Muhammad bin Abdul Wahhab dan gerakan pembaharuan yang dicanangkan oleh Jamaluddin al-Afghani, telah meninggalkan pengaruh yang sangat mendalam dalam jiwanya. Ia sangat gemar membaca buku-buku syair Arab, terutama karya penyair perang di zaman rasul, seperti Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Malik dan Ka'ab bin Zubair.

Di samping membaca kitab syair (diwaanusy-syi'r), ia juga mempelajari sejarah pahlawan-pahlawan Islam yang kenamaan, seperti Khalid bin Walid, Umar bin Khaththab, Hamzah, Usamah bin Zaid bin Haritsah, Tariq bin Ziyad dan lain-lainnya. Setelah empat tahun bermukim di Mekah, ia telah menjadi ulama besar yang berhak memakai gelaran Syaikh di pangkal namanya, sehingga menjadi Teungku Chik (Guru Besar).[2]

Perang AcehSunting

 
Kedahsyatan pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam Perang Aceh sangat terlihat dalam aksi penyerangan rakyat Aceh baik perorangan maupun kelompok terhadap Belanda. Dalam gambar tampak serdadu Belanda yang tewas dalam penyerangan ke Batee Iliek pada tahun 1907.

Pada waktu pecah perang Aceh sebagai akibat agresi Belanda, Teungku Chik Muhammad Pante Kulu telah berada di Mekah. Sebagai seorang patriot yang ditempa oleh sejarah hidup pahlawan-pahlawan Islam kenamaan, maka dia telah bertekad untuk pulang ke Aceh ikut berperang bersama-sama ulama-ulama dan pemimpin-pemimpin serta rakyat Aceh. Azamnya tidak bisa ditahan-tahan lagi, setelah mendengar salah seorang sahabatnya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman telah diserahi tugas oleh kerajaan untuk memimpin perang semesta melawan serdadu-serdadu kolonial Belanda. Kira-kira akhir tahun 1881 M Teungku Chik Muhammad Pante Kulu meninggalkan Mekah menuju Tanah Aceh yang bergelar Serambi Mekkah.

Dalam perjalanan pulang, di atas kapal antara Jeddah dengan Penang, dia berhasil mengarang sebuah karya sastera yang sangat besar nilainya, yaitu Hikayat Prang Sabi, sebagai sumbangsihnya untuk membangkitkan semangat jihad melawan Belanda. Yang mendorong dia untuk mengarang sajak-riwayat Hikayat Prang Sabi, yaitu kesadaran dia tentang betapa besar pengaruhnya syair-syair penyair Hassan bin Tsabit dalam mengobarkan semangat jihad kepada kaum Muslimin di zaman rasul.

 
Teungku Chik di Tiro pemimpin Perang Aceh (1881-1891) di mana pada masa dialah Hikayat Prang Sabi karya Tgk. Chik Pante Kulu diciptakan

Hikayat Prang Sabi yang dikarang Teungku Chik Pante Kulu ini, adalah dalam bentuk puisi yang terdiri dari empat cerita (kissah), yang sekalipun fiktif tetapi berdasarkan sejarah. Keempat kisah tersebut, yaitu Kisah Ainul Mardliyah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Sa'id Salmy dan Kisah Muhammad Amin (Budak Mati Hidup Kembali)

Karya sastra yang amat berharga ini sesampainya di Aceh dipersembahkan kepada Teungku Chik di Tiro oleh pengarangnya Teungku Tjhik Pante Kulu, dalam suatu upacara khidmat di Kuta Aneuk Galong. Menurut Abdullah Arif, selain dari Hikayat Prang Sabi, masih ada lagi karya Teungku Chik Pante Kulu, baik dalam bentuk prosa ataupun puisi, baik dalam bahasa Melayu Jawi ataupun dalam bahasa Aceh sendiri, tetapi tidak begitu luas tersiarnya.

Teungku Chik Muhammad Pante Kulu mempunyai dua orang isteri, yang pertama berasal dari kampung Titeue, Kecamatan Kemalawati, Kabupaten Pidie, sementara isteri yang kedua Tgk. Nyak Aisyah berasal dari Kampung Grot, Indra Puri, Aceh Besar. Dari isteri yang pertama, dia memperoleh seorang putera yang kemudian ikut serta bertempur sebagai mujahid di Aceh Besar. Setelah menyertai Teungku Chik di Tiro dalam berbagai medan perang dengan senjata Hikayat Prang Sabi-nya, maka Teungku Chik Muhammad Pante Kulu berpulang ke rahmatullah di Lam Leu'ot, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar dan dimakamkan di sana.[2]

SumberSunting