Tenggarong, Kutai Kartanegara

ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, Indonesia
(Dialihkan dari Tenggarong)


Tenggarong (disingkat: TGR[2]) merupakan sebuah kecamatan sekaligus ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Indonesia.

Tenggarong
Kantor kecamatan Tenggarong
Kantor kecamatan Tenggarong
Peta lokasi kecamatan Tenggarong
Peta lokasi Kecamatan Tenggarong
Tenggarong di Kaltim
Tenggarong
Tenggarong
Peta lokasi Kecamatan Tenggarong
Tenggarong di Indonesia
Tenggarong
Tenggarong
Tenggarong (Indonesia)
Koordinat: 0°26′01″S 116°59′19″E / 0.433689°S 116.988739°E / -0.433689; 116.988739Koordinat: 0°26′01″S 116°59′19″E / 0.433689°S 116.988739°E / -0.433689; 116.988739
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Timur
KabupatenKutai Kartanegara
Pemerintahan
 • CamatArfan Boma Pratama, AP.
Populasi
 • Total108.539 jiwa
 • Kepadatan402/km2 (1,040/sq mi)
Kode pos
75511 - 7515
Kode Kemendagri64.02.06 Edit nilai pada Wikidata
Kode BPS6403090 Edit nilai pada Wikidata
Luas270,00 km²
Desa/kelurahan2 desa
12 kelurahan

Wilayah Tenggarong yang terbagi dalam 12 kelurahan dan 2 desa ini memiliki luas wilayah mencapai 270,00 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 108.539 jiwa (2021).[1] Adapun jumlah penduduk Kabupaten Kutai Kartanegara sampai dengan tahun 2020 sebanyak 734.485 jiwa. Jika dilihat dari sebaran penduduk, maka cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan dengan tingkat distribusi terbesar pada kecamatan Tenggarong sebesar 14,78 persen, Loa Janan 9,51 persen dan Tenggarong Seberang 9,39 persen.[3]

Sejarah sunting

Tenggarong adalah ibu kota Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martapura. Kota ini didirikan pada tanggal 28 September 1782 oleh Raja Kutai Kartanegara ke-15, Aji Muhammad Muslihuddin, yang dikenal pula dengan nama Aji Imbut.

Semula kota ini bernama Tepian Pandan ketika Aji Imbut memindahkan ibu kota kerajaan dari Pemarangan. Oleh Sultan Kutai, nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti rumah raja. Namun pada perkembangannya, Tangga Arung lebih populer dengan sebutan "Tenggarong" hingga saat ini.

Menurut legenda Orang Dayak Benuaq dari kelompok Ningkah Olo, nama/kata Tenggarong menurut bahasa Dayak Benuaq adalah "Tengkarukng" berasal dari kata tengkaq dan bengkarukng, tengkaq berarti naik atau menjejakkan kaki ke tempat yang lebih tinggi (seperti meniti anak tangga), bengkarukng adalah sejenis tanaman akar-akaran.

Menurut orang Benuaq, ketika sekolompok orang Benuaq (mungkin keturunan Ningkah Olo) menyusuri Sungai Mahakam menuju pedalaman mereka singgah di suatu tempat dipinggir tepian Mahakam, dengan menaiki tebing sungai Mahakam melalui akar bengkarukng, itulah sebabnya disebut Tengkarukng oleh aksen Melayu kadang "keseleo" disebut Tengkarong, lama-kelamaan penyebutan tersebut berubah menjadi Tenggarong. Perubahan tersebut disebabkan Bahasa Benuaq banyak memiliki konsonan yang sulit diucapkan oleh penutur yang biasa berbahasa Melayu/Indonesia.

Geografi sunting

Kota Tenggarong terletak pada 116°47' - 117°04' Bujur Timur dan 0°21' - 0°34' Lintang Selatan. Titik pusat tertinggi kota Tenggarong dari permukaan laut ± 500 m. Tenggarong dilewati oleh aliran sungai Mahakam yang merupakan salah satu sungai terbesar di Kalimantan Timur. Kondisi lahan di Tenggarong cenderung lahan rawa di daerah dataran dekat tepian sungai dan berbukit. Suhu udara rata-rata di kota Tenggarong adalah 30 °C, dengan curah hujan tahunan rata-rata 1500–2000 mm per-tahun

Demografi sunting

Etnis sunting

Penduduk asli yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara adalah suku Kutai, atau disebut juga dengan Dayak Kutai, atau Urang Kutai yang juga merupakan suku asli yang mendiami wilayah provinsi Kalimantan Timur, dan banyak yang hidup di tepi sungai.[4] Suku lain yang ada di Tenggarong ialah suku Bugis, Banjar, Jawa, Benuaq, Bahau, Long Dusun, Kenyah, Tunjung, Punan, Bentian, Penihing, Ohong, Bukat, Basap dan suku lainnya.[4]

Bahasa sunting

Orang Kutai menggunakan bahasa Melayu yang terbagi atas beberapa dialek. Di antaranya, bahasa Kutai Tenggarong yang mendiami wilayah Tenggarong. Selain itu, ada dialek Kutai Muara Ancalong yang berdiam di daerah-daerah Muara Ancalong, Kelinjau, Sebintulung, Kutai yang berdiam di daerah Muara Pahu bagian hulu sungai.[4]

Agama sunting

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2020, jumlah penduduk kecamatan Tenggarong sebantak 108.539 jiwa, dengan kepadatan 420 jiwa/km².[1] Mayoritas orang Kutai memeluk agama Islam. Jumlah penduduk kecamatan Tenggarong menurut agama yang dianut yakni Islam 92,58%, kemudian Kristen 7,14% dimana Protestan 5,87% dan Katolik 1,27%. Selebihnya beragama Hindu 0,14%, Buddha 0,11%, kepercayaan 0,02% dan Konghucu 0,01%.[1]

Objek wisata sunting

  • Museum Mulawarman. Museum Mulawarman adalah museum yang berisi koleksi barang kerajaan kutai kartanegara dari masa lalu dan juga barang-barang kesenian.
  • Museum Kayu Tuah Himba. Museum yang mengoleksi ragam alam kabupaten kutai
  • Pulau Kumala. Pulau yang terletak di tengah aliran sungai Mahakam, dibangun dengan menawarkan beragam rekresai keluarga.
  • Jembatan Repo-Repo. Jembatan yang dibangun pada 2014 sebagai penghubung antara Pulau Kumala dan daratan Tenggaromg
  • Planetarium Jagat Raya. Tempat pengenalan astronomi.
  • Waduk Panji Sukarame
  • Ladang Budaya (Ladaya)
  • Puncak Bukit Biru Tenggarong
  • Makam Raja-Raja Kutai
  • Taman BJ (Bawah Jembatan) Kutai Kartanegara
  • Cagar Alam Muara Kaman
  • Kedaton Kutai Kartanegara

Pusat kegiatan olahraga sunting

Terdapat dua gelanggang olahraga di Tenggarong, yang pertama di kecamatan Tenggarong sendiri, kemudian dibangun komplek yang baru di kecamatan Tenggarong Seberang yang dinamakan GOR Aji Imbut.

Galeri sunting

Referensi sunting

  1. ^ a b c d "Visualisasi Data Kependuduakan - Kementerian Dalam Negeri 2020" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 22 Juli 2021. 
  2. ^ "Singkatan Nama Kota Indonesia" (PDF). Diakses tanggal ‘2023-08-31’ 31 Agustus 2023. 
  3. ^ "Kutai Kartanegara - www.kukarkab.go.id". kukarkab.go.id. Diakses tanggal 2023-12-19. 
  4. ^ a b c "Mengenal Suku Kutai, Penduduk Asli di Kalimantan Timur". www.indozone.id. 27 Agustus 2019. Diakses tanggal 22 Juli 2021.