Televisi digital terestrial

Televisi Digital Terestrial (DTTV atau DTT) adalah siaran yang menggunakan frekuensi VHF/UHF seperti halnya penyiaran analog, tetapi dengan konten yang digital. Sistem ini menyediakan transmisi digital satu arah melalui jaringan transmisi berbasis darat (land-based transmitter) yang bisa diterima antena TV UHF konvensional. Teknologi yang digunakan adalah ATSC di Amerika Utara dan Korea Selatan, ISDB-T di Jepang dan Brazil, DVB-T di Eropa, Australia, Selandia Baru, Kolombia, Uruguay dan sejumlah negara Afrika, dan DMB-T/H di Cina (termasuk Hong Kong).

Sistem penyiaran DTT menurut negara.

DeskripsiSunting

Siaran televisi digital terestrial berisikan siaran stasiun-stasiun televisi yang beroperasi secara free-to-air, sehingga masyarakat tidak dipungut bayaran untuk menonton. Siaran televisi digital ini dapat diterima di televisi analog dengan memanfaatkan perangkat Digital Set Top Box (STB)/Digital Receiver/DVB-T Receiver yang mengubungkan antena dengan televisi analog. Dengan kata lain Digital STB adalah sebuah dekoder untuk mengubah sigyal digital menjadi gambar dan suara dan menampilkannya pada pesawat televisi analog.

Siaran televisi digital sendiri memiliki beberapa standar yang berbeda di berbagai negara. Setidaknya terdapat tiga standar utama yaitu sistem DVB di Eropa, ATSC di Amerika Serikat, dan sistem Jepang menggunakan ISDB. Hal ini merupakan kelanjutan dari tiga standar TV analog, yaitu PAL (Eropa), NTSC (Amerika) dan SECAM (Jepang) . Standar DVB Eropa adalah standar yang paling banyak dianut oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Sementara standar siaran untuk televisi digital terestrial sendiri sering kali disebut dengan istilah DVB-T (Digital Video Broadcasting-Terrestrial).

KeunggulanSunting

Kualitas gambar dan suaraSunting

Siaran televisi digital terestrial menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang mampu mengatasi efek lintas jamak (multipath). Pada sistem analog, efek lintasan jamak menimbulkan echo atau gaung yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan).

Penyiaran televisi digital menawarkan kualitas gambar yang sama dengan kualitas DVD, bahkan stasiun-stasiun televisi dapat memancarkan programnya dalam format 16:9 (layar lebar) dengan standar Standard Definition (SD) maupun High Definition (HD). Kualitas suara pun mampu mencapai kualitas CD Stereo, bahkan stasiun televisi dapat memancarkan suara dengan Surround Sound (Dolby Digital).

Tahan perubahan lingkunganSunting

Siaran televisi digital terestrial memiliki ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile TV), misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.

Tahan terhadap efek interferensiSunting

Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman atau transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu.

Efisiensi spektrum/kanalSunting

Teknologi siaran televisi digital lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum dibanding siaran televisi analog. Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk siaran televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1: 6, artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital untuk lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya.

Dalam bahasa yang sederhana, ini berarti dalam satu frekuensi dapat digunakan untuk enam siaran yang berbeda. Ini jauh lebih efisien dibanding dengan siaran analog dimana satu frekuensi hanya untuk satu siaran saja. Dengan keunggulan ini, keterbatasan jumlah kanal dalam spektrum frekuensi siaran yang menjadi penghambat perkembangan industri pertelevisian pada era analog dapat diatasi dan memungkinkan munculnya stasiun-stasiun televisi baru yang lebih banyak dengan program siaran yang lebih bervariasi.

Standar SiaranSunting

Terdapat tiga standar utama yang digunakan di dunia internasional mengenai siaran televisi digital yaitu DVB di Eropa, ATSC di Amerika Serikat, dan sistem Jepang menggunakan ISDB. Perbedaan standar yang digunakan oleh masing-masing negara ini lebih disebabkan oleh masalah preferensi teknologi, kemudahan adaptasi, bahkan hingga masalah nasionalisme. Meskipun demikian, standar-standar ini sedang dalam proses penyatuan format sehingga akan lebih mudah dan murah proses adopsinya ke seluruh dunia.

Penentuan standar ini menjadi penting karena apabila salah menentukan pilihan bisa jadi teknologi yang diadopsi ternyata tidak cocok digunakan di dalam negeri dan mengakibatkan kerugian terhadap investasi publik. Hal ini pernah terjadi di Indonesia ketika pemilihan teknologi Betamax untuk siaran analog. Sebagai catatan, pada saat Indonesia memilih teknologi Betamax ternyata negara lain menggunakan teknologi VHS. Teknologi Betamax lambat laun jauh tertinggal dan akhirnya tidak bisa digunakan. Ini menyebabkan masyarakat yang telah membeli teknologi Betamax mengalami kerugian material karena teknologi tersebut tidak bisa digunakan. Maka, perlu dipilih standar yang benar-benar layak agar rancangan yang akan dijalankan dapat digunakan sebagai senjata pamungkas untuk mengatasi masalah yang selama ini ada dalam dunia penyiaran di Indonesia.

Untuk keperluan penetapan standar televisi digital terestrial ini, pemerintah Indonesia membentuk Tim Nasional Migrasi Sistem Penyiaran dari Analog ke Digital yang bertugas melakukan kajian dan uji coba terhadap beberapa standar penyiaran televisi digital terestrial yang ada . Dari hasil kajian tim tersebut, diputuskan bahwa di Indonesia digunakan standar DVB-T (Digital Video Broadcasting–Terrestrial) untuk perangkat televisi tidak bergerak.

Proses MigrasiSunting

Pelaksanaan migrasi dari siaran analog ke sistem digital pada umumnya dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap transisi dan cut-off. Pada tahap transisi, siaran analog dan digital siaran dilakukan secara bersamaan, sebelum mengganti seluruh perangkat ke sistem digital. Pada tahap ini agar TV analog dapat menerima sinyal digital dengan kualitas yang baik dengan perangkat tambahan berupa set top box. Sedangkan pada tahap cut off, nantinya semua siaran televisi analog benar-benar dihentikan sehingga tidak dapat diterima lagi oleh masyarakat.

Tabel berikut memperlihatkan peluncuran DTT dan penutupan televisi analog di beberapa negara.

  • Peluncuran resmi: Tanggal peluncuran resmi televisi terrestrial digital di negara itu, bukan awal siaran percobaan.
  • Awal penutupan: Tanggal penutupan besar pertama pemancar analog.
  • Akhir penutupan: Tanggal ketika televisi analog dihapus secara resmi.
  • Sistem: Sistem transmisi, contohnya DVB-T, ATSC atau ISDB-T.
  • Interaktif: Sistem yang digunakan untuk layanan interaktif, seperti MHP dan MHEG-5.
  • Kompresi: Standar kompresi video yang digunakan. Kebanyakan sistem menggunakan MPEG-2, tetapi H.264/MPEG-4 AVC yang lebih efisien semakin populer di antara jaringan yang meluncurkannya. Beberap negara menggunakan MPEG-2 dan H.264, contohnya Prancis yang menggunakan MPEG-2 untuk siaran bebas definisi standar tetapi MPEG-4 untuk siaran HD dan televisi berlangganan.
Negara
Peluncuran resmi
Awal
penutupan
Akhir
penutupan
Sistem
Interaktif
Kompresi
Catatan
Albania 2004-07-15 2012 DVB-T MPEG-2 [1]
Andorra 2007-09-25 DVB-T MHP [2]
Australia 2001-01-01 Pemerintahan baru telah membentuk sebuah Digital Switchover Taskforce [3] 2013-12-31 DVB-T (7 MHz saluran 6~12 VHF
              dan 29~69 UHF)
MHP MPEG-2 [4][butuh rujukan]
Austria 2006-10-26 2007-03-05[5] DVB-T MHP [butuh rujukan]
Belgia 2002/2003 2008-11-03 (Komunitas Flandria) 2011 (Komunitas Prancis) DVB-T None MPEG-2 [6]
Brazil 2007-12-03 2016-06-29 ISDB-T H.264/MPEG-4 AVC [butuh rujukan]
Kanada 2011-08-31 ATSC MPEG-2 [7]
Cina 2007-2008 DMB-T/H [butuh rujukan]
Kolombia 2008-08-28 2019-12-31 DVB-T ( 6 MHz ) MHP H.264/MPEG-4 AVC [8]
Croatia 2002-05-13 2008-09-01 2011-01-01 DVB-T [butuh rujukan]
Republik Ceko 2004 2007-08 2010-10 DVB-T MHP MPEG-2 [butuh rujukan]
Denmark 2006-03-31 2009-11-01 DVB-T MHP MPEG-2, H.264 [3]
Estonia 2006-12-15 2008-03-30 (Pulau Ruhnu) 2012-02 (direncanakan) DVB-T MPEG-4 H.264 [9][10]
Kepulauan Faroe 2002-12 2002-12 DVB-T [butuh rujukan]
Finlandia 2001-08-27 2007-09-01[11] 2007-09-01 DVB-T MHP (dibatalkan) MPEG-2 [12]
Prancis 2005-03-31 2008-03 2011-11-30 DVB-T MPEG-2, H.264 [butuh rujukan]
Jerman 2002-11 2003-08 2008-11-25 DVB-T MPEG-2 [butuh rujukan]
Yunani 2006 DVB-T
Hong Kong 2007-12-31 2012 DMB-T/H MHEG-5 (TVB) MPEG-2, H.264 [13][14]
Hungaria 2008-12-01 2013-07-31 2013-10-31 DVB-T H.264/MPEG-4 AVC [15][16]
Irlandia 1999-2002   usaha dibatalkan;
2006-2008   Percobaan Teknis;
09-2009 peluncuran publik direncanakan dengan peluncuran
                FTA dan DTT
                mencakup 75% negara
2012-09-30 [4] 2013-TBD DVB-T RCT dibatalkan, MHEG5, H.264/MPEG-4 AVC [17][18][19]

[20][21][22]

[23]

Italia 2004-01-01 2010-01-01 DVB-T MHP MPEG-2 [butuh rujukan]
Jepang 2003-12-01 2011-07-24 (direncanakan) ISDB-T BML MPEG-2 [24][25]
Lithuania 2006 DVB-T MPEG-4
Luksemburg 2006-04-04 2006-04-04 2006-09-01 DVB-T None MPEG-2 [26]
Malaysia 2006-09 (percobaan) 2015 DVB-T MHEG-5 H.264 [butuh rujukan]
Meksiko 2004-07-05[27] 2022-01-01 ATSC [28]
Maroko 2007-06-01 DVB-T [butuh rujukan]
Belanda 2003 2006-12-11 DVB-T [butuh rujukan]
Selandia Baru April 2008 75% pemberlakuan digital atau 2012, yang pertama berlaku. 1 tahun setelah dimulai DVB-T MHEG-5 H.264/MPEG-4 AVC [29]
Norwegia 2007-09[30] 2008-03 2009-12 DVB-T H.264/MPEG-4 AVC [butuh rujukan]
Filipina 2006-10 (percobaan)/
2007-08 (siaran ujicoba
            ABS-CBN menggunakan DVB-T)
2015-12-31 (pelarangan nasional:
                Diumumkan oleh NTC)
2015-12-31 (pelarangan nasional:
                Diumumkan oleh NTC)
DVB-T (percobaan)
(telah digunakan tahun 2006,
re-adopsi tidak diumumkan);
ISDB-T (testing)
MPEG-2 [butuh rujukan]
Polandia 2004 (percobaan)
2009-01-01
2012-12-12 DVB-T H.264/MPEG-4 AVC
Portugal 2009-04 2011 2012 (direncanakan PT) DVB-T H.264/MPEG-4 AVC
Rumania 2005-12-01 2012-12-31 (direncanakan) DVB-T MPEG-4 [butuh rujukan]
Rusia 2010 2015 DVB-T MPEG-4 [butuh rujukan]
Slovenia 2007 2010 2011 DVB-T H.264/MPEG-4 AVC [31]
Afrika Selatan 2006-03 2008-11-01 2011-11-01 DVB-T H.264/MPEG-4 AVC [butuh rujukan]
Korea Selatan 2001 2012-12-31 ATSC [butuh rujukan]
Spanyol 2000-2005 2009 2010-04-03 DVB-T MHP MPEG-2 [butuh rujukan]
Swedia 1999-04-01[32] 2005-09-19 2007-10-15 DVB-T MHP MPEG-2/H.264[33] [butuh rujukan]
Swiss 2001 2002-03 2009-10 DVB-T [butuh rujukan]
Taiwan 2006-07 2008 2010 DVB-T [butuh rujukan]
Turki 2006-02 (percobaan) DVB-T [butuh rujukan]
Britania Raya 1998-11-15 2007 (Whitehaven) 2012 DVB-T MHEG-5 MPEG-2, H.264 [34]
Amerika Serikat 1998-10-29 2007 2009-02-17 ATSC MPEG-2,H.264(ATSC 2.0) [35]

[36]

Vietnam 2001 (tests)
2015
2020 2026 DVB-T2 MHEG-5 H.264

PotensiSunting

Masa transisi migrasiSunting

Untuk stasiun televisi yang sudah mapan di ranah siaran analog, masa transisi atau migrasi dapat dimanfaatkan untuk membangun citra yang baru. Ini dikarenakan berbagai sumber daya yang telah dimiliki dapat dipergunakan kembali dalam siaran digital sehingga tidak diperlukan dana yang besar untuk pembangunan infrastruktur. Dengan demikian, stasiun televisi dapat memusatkan perhatianya untuk meraih jumlah pemirsa yang diinginkan dengan brand baru yang dibuat sesuai dengan siaran digital yang dilakukannya. Hal semacam ini telah dilakukan stasiun-stasiun televisi di negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Efisiensi kanal dan pertumbuhan industri pertelevisianSunting

Efisiensi kanal pada siaran digital yang berbanding 1:6 dengan analog memungkinkan pertumbuhan siaran-siaran televisi baru yang selama ini terkendala keterbatasan frekuensi yang bisa digunakan. Sistem siaran digital memungkinkan setiap spektrum frekuensi radio dapat digunakan utuk menyiarkan enam kanal transmisi/program siaran. Jadi, jika sebelumnya di siaran analog satu spektrum frekuensi siaran hanya dipakai oleh satu stasiun televisi maka dengan siaran digital spektrum tersebut dapat digunakan oleh enam stasiun televisi secara bersamaan dengan program yang bervariasi tentunya.

Diprediksi tren yang akan berkembang nanti adalah satu penyelenggara televisi digital akan meminta spektrum dalam jumlah yang cukup besar, artinya tidak cukup hanya 1 (satu) kanal pembawa melainkan lebih. Ini dikarenakan dalam praktiknya nanti penyelenggara, yang berbentuk konsorsium yang terdiri dari enam stasiun televisi seperti KTDI, hanya akan berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan yang mentransfer program dari stasiun-stasiun televisi lain yang ada di dunia menjadi satu paket layanan sebagaimana penyelenggaraan televisi kabel berlangganan yang ada saat ini. Walaupun demikian untuk membuka kesempatan bagi pendatang baru di dunia TV siaran digital ini, dapat ditempuh pola Kerja Sama Operasi antar penyelenggara TV yang telah mapam dengan calon penyelenggara TV digital baru. Sehingga di kemudian hari penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi "network provider" dan "program/content provider".

Konvergensi dan InteraktivitasSunting

Frekuensi yang digunakan dalam siaran televisi digital melalui kanal VHF dan UHF (170-230 MHz dan 470-890 MHz) sebenarnya tidak sekadar diperuntukkan untuk siaran televisi saja melainkan juga bisa digunakan untuk internet, komunikasi data, bahkan telepon, mengingat kemampuan komunikasi duplex (dua arah) yang dapat dilakukan pada teknologi televisi digital ini. Interaktivitas sendiri diartikan fungsi kritis yang mengubah keseluruhan konsep dari televisi yang menempatkan pemirsa sebagai pemegang kontrol . Dengan melihat fungsi lama televisi dan kemampuannya utuk terhubung dengan internet, televisi menjadi kanal komunikasi yang sangat kuat dan mampu menjangkau seluruh sektor masyarakat.

Televisi interaktif dapat terikat kepada individu secara personal yang memungkinkan seperangkat layanan dihantarkan ke rumah. Pemirsa juga bisa menggunakan televisi interaktif untuk mengirim e-mail, home shopping, dan memainkan game favoritnya. Namun, pemirsa tetap akan menggunakan televisi secara pasif, sebagaimana fungsi aslinya, tetapi kemudian akan terbiasa untuk menggunakan fungsi yang lebih maju seperti fitur-fitur interaktif. Fitur-fitur itu antara lain: layanan data dengan menu Bahasa Indonesia, informasi ramalan cuaca, keadaan lalu lintas, keuangan, peringatan dini bencana alam, berita, dan dapat dilengkapi dengan sarana pengukuran rating TV.

Mendukung berkembangnya industri elektronikaSunting

Di Indonesia, dalam rangka merancang langkah-langkah strategis dalam migrasi siaran analog ke digital, dibentuk tiga kelompok kerja yang salah satunya adalah Kelompok Kerja Teknologi Peralatan Penyiaran Digital yang bertugas menyiapkan standardisasi perangkat penyiaran digital terestrial. Setelah standar itu nantinya ditetapkan, langkah penting yang harus diambil oleh Pemerintah adalah menunjukkan keberpihakannya terhadap industri dalam negeri yang memiliki kapasitas untuk membuat set top box (STB) sesuai standar yang telah ditentukan. Jika muncul keraguan terhadap produk dalam negeri ini, bisa ditekan dengan memberikan rekomendasi Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga bisa memberikan perlindungan pada konsumen.

Keberpihakan pemerintah terhadap industri akan berbuah pada munculnya produk STB produksi dalam negeri yang berkualitas baik dan dengan harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat dibanding produk serupa dari luar negeri. Selain itu, penggunaan standar SNI juga akan mencegah pasar dibanjiri oleh STB dari luar negeri dengan harga yang lebih murah namun kualitasnya dpertanyakan. Lebih lanjut, bisa pula dilakukan kerjasama dengan pihak operator siaran agar hanya STB buatan dalam negeri yag bisa menangkap siaran mereka. Intinya, masa transisi dan migrasi dari siaran analog ke digital juga membawa potensi pertumbuhan industri elektronika di dalam negeri jika terjadi koordinasi yang baik di antara pihak terkait.

Lihat pulaSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ (Albania)The Strategy of the Republic of Albania for the Transiton from Analogue to Digital Transmissions (Project). KKRT (PDF), 2008-12-05 [pranala nonaktif permanen]
  2. ^ Salinan arsip, diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-02-14, diakses tanggal 2008-12-24 
  3. ^ Complete digital TV switch over by 2013, Sydney Morning Herald, 2007-12-18, diakses tanggal 2007-12-21  Teks " Communications Minister Stephen Conroy says he has taken the first firm steps to ensure the switch over to digital TV is completed by the end of 2013. " akan diabaikan (bantuan)
  4. ^ Salinan arsip, diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-07-19, diakses tanggal 2008-12-24 
  5. ^ DVB-T: Zeitplan, DVB-T.at, diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-06-30, diakses tanggal 2007-07-03 
  6. ^ Weg met sneeuw op je tv! (Away with snow on your TV!), diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-09-19, diakses tanggal 2008-12-24 
  7. ^ Broadcasting Public Notice CRTC 2007-53 - Determinations regarding certain aspects of the regulatory framework for over-the-air television, Canadian Radio and Television Commission, May 17, 2007, diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-04-05, diakses tanggal 2008-12-24 
  8. ^ "Acuerdo de la CNTV en la cual se adopta el formato DVB-T para la TDT" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2010-12-26. Diakses tanggal 2011-01-01. 
  9. ^ Launch of DTT services in Estonia, DigiTAG Web Letter, December 15, 2006, diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-29, diakses tanggal 2008-12-24 
  10. ^ Salinan arsip, diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-06-02, diakses tanggal 2008-12-24 
  11. ^ "Digi-tv esillä ympäri maata". Finnish Ministry of Communications. Diakses tanggal 2007-08-15. 
  12. ^ Finland will switch over to all-digital television, Finnish Ministry of Transport and Communications, 2007-08-31, diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-09-27, diakses tanggal 2008-12-24 
  13. ^ OFTA(2007-06-04), Hong Kong Technical Standard for Digital Terrestrial Television Broadcasting Diarsipkan 2007-09-27 di Wayback Machine., Hong Kong
  14. ^ (Chinese) 望月 (2007-06-09). "獨家專訪TVB 折解數碼廣播七大疑團 (Exclusive interview with TVB on digital broadcasting)". e-zone AVzone. hlm. 4–5. 
  15. ^ "Hungary starts residential phase of digital switchover". Diakses tanggal 2013-03-13. 
  16. ^ "Hungary set for digital switchover". Diakses tanggal 2013-03-20. 
  17. ^ What is Digital Television?, Department of Communications, Energy & Natural Resources, 2008-03-04, diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-10-07, diakses tanggal 2008-12-24 
  18. ^ BCI DTT Licensing Policy 2008 (Revised Edition (PDF), Broadcasting Commission of Ireland (soon Broadcasting Authority of Ireland (in 2009), 2008-02-09, diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-06-07, diakses tanggal 2008-12-24 
  19. ^ BCI ISSUES DECISION ON DTT MULTIPLEX CONTRACTS(, Broadcasting Commission of Ireland (soon Broadcasting Authority of Ireland (in 2009), 2008-07-21, diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-10-14, diakses tanggal 2008-12-24 
  20. ^ BCI DTT Licensing (DTT Multiplex Contracts:Applications received (, Broadcasting Commission of Ireland (soon Broadcasting Authority of Ireland (in 2009), 2008-05-15, diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-02-10, diakses tanggal 2008-12-24 
  21. ^ Minimum Receiver Requirements for DTT in Ireland V1.0) (, 2008-02-06  [pranala nonaktif permanen]
  22. ^ Coordination issue likely to delay DTT roll-out (, The (Sunday Business) Post.ie-Thomas Crosbie Holdings Limited Archives, 2008-07-27, diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-02-26, diakses tanggal 2008-12-24 
  23. ^ Minister Ryan announces end of Digital Terrestrial Television trial (, Department of Communications, Energy & Natural Resources,Ireland, 2008-07-24, diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-06-09, diakses tanggal 2008-12-24 
  24. ^ Digital Broadcasting Experts Group (DiBEG) promote ISDB-T
  25. ^ ISDB-T, Application, Present and Future Diarsipkan 2008-09-11 di Wayback Machine., PDF File
  26. ^ Broadcasting Center Europe : DVB-T / TNT, diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-10-20, diakses tanggal 2008-12-24 
  27. ^ "Documento sin título". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-29. Diakses tanggal 2008-12-24. 
  28. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-29. Diakses tanggal 2008-12-24. 
  29. ^ [1] Diarsipkan 2007-11-05 di Wayback Machine.[2]
  30. ^ RiksTV - Når kommer det?, RiksTV.no, diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-04-30, diakses tanggal 2007-07-04 
  31. ^ "Info about closedown of analogue TV". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-12-23. Diakses tanggal 2008-12-24. 
  32. ^ Nya tillstånd för digitala TV-sändningar, Swedish Radio and TV Authority, January 20, 2001, diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-08, diakses tanggal 2008-12-24 
  33. ^ As of June 2007, H.264 is only used for HDTV in the Mälaren Valley region.
  34. ^ "What is Digital Switchover?". DAS TV. 2007-07-01. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-10. Diakses tanggal 2007-08-13. 
  35. ^ "Commerce Department Issues Final Rule To Launch Digital-to-Analog Converter Box Coupon Program".
    National Telecommunications & Information Administration. 2007-03-12.
     
  36. ^ "TV Comverter box Programme website". National Telecommunications & Information Administration. 2007-03-12. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-11-04. Diakses tanggal 2008-12-24. 

ReferensiSunting

  • Himawan, Helmi. 2007. Artikel “Mengenal Televisi Digital” dimuat dalam Harian Pikiran Rakyat edisi Kamis, 8 Maret 2007.
  • Krueger, Lennard G. 2008. Digital Television: An Overview. Laporan Congressional Research Service untuk Congress Amerika Serikat
  • Office of the e-Envoy. 2003. Digital Television A Policy Framework For Accessing E-Government Services.
  • Mirabito, M.A.M., & Morgenstern, B.L (2004). New Communication Technology: Applications, Policy, and Impact, Fifth Edition, UK: Focal Press.
  • Peraturan Menkominfo No. 07/P/M.KOMINFO/3/2007 tentang Standar Penyiaran Digital Terestrial Untuk Televisi Tidak Bergerak Di Indonesia.
  • Peraturan Menkominfo No. 27 /P/M.KOMINFO/8/2008 tentang Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital.
  • Tjahyono, Bambang Heru, 2007. Artikel “Televisi Digital, Keberpihakan Pada Industri Elektronika Nasional”. Harian Kompas Edisi Jumat, 12 September 2008.

Pranala luarSunting