Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Organisasi Islam di Indonesia
(Dialihkan dari Tarbiyah-Perti)

Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Jawi: ڤرستوان تربيه اسلاميه; bahasa Arab: اتحاد التربية الإسلاميةIttiḥād at-Tarbiyah al-Islāmīyah), juga dikenal sebagai PERTI, Tarbiyah, atau Tarbiyah-Perti, adalah organisasi massa Islam di Indonesia yang berhaluan Syafii-Asy'ari. Cikal bakal organisasi ini berawal dari Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang didirikan oleh Syekh Sulaiman Ar-Rasuli pada 5 Mei 1928 di Canduang, Sumatra Barat dan dalam perkembangannya sempat menjadi partai politik bernama Partai Islam PERTI. Dalam pemilihan umum 1955, PERTI mendapatkan empat kursi DPR-RI dan tujuh kursi Konstituante.

Persatuan Tarbiyah Islamiyah
Tarbiyah-Perti.png
Lambang Persatuan Tarbiyah Islamiyah setelah Muktamar Islah pada 2016
SingkatanPERTI (1935-1973; kubu PPP 1973-2016), Tarbiyah (kubu Golkar 1973-2016), Tarbiyah-Perti (sejak 2016)
PendahuluIttihad Ulama Sumatera
Tanggal pendirian5 Mei 1928
PendiriSyekh Sulaiman ar-Rasuli
Didirikan diCanduang, Agam
TipeOrganisasi massa Islam
TujuanPendidikan, dakwah, dan sosial
Ketua Umum
Buya Drs. K.H. Basri Bermanda, M.B.A
Sekretaris Jenderal
Buya Drs. H. Pasni Rusli
Situs webtarbiyahislamiyah.id

SejarahSunting

Masa awalSunting

 
Syekh Sulaiman ar-Rasuli, pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Cikal bakal Persatuan Tarbiyah Islamiyah berawal dari berdirinya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Candung, Agam, Sumatra Barat pada 5 Mei 1928. MTI Canduang didirikan oleh Syekh Sulaiman ar-Rasuli gelar Inyiak Canduang. Pada hari yang sama didirikan juga MTI Jaho oleh Syekh Muhammad Jamil Jaho al-Djamili gelar Inyiak Jaho. Pendirian MTI ini dimaksudkan sebagai upaya modernisasi lembaga pendidikan Kaum Tua (tradisionalis). Upaya tersebut sebelumnya telah dimulai oleh Syekh Abbas al-Qadhi dengan mendirikan Arabiyah School di Ladang Lawas pada 1918 dan Islamiyah School di Aur Tajungkang, Bukittinggi pada 1924 untuk menandingi gencarnya gerakan pengembangan lembaga pendidikan milik Kaum Muda (modernis) di Sumatra Barat. Pendirian MTI Candung dan MTI Jaho mendorong pendirian MTI-MTI di tempat lainnya, seperti MTI Tabek Gadang oleh Syekh Abdul Wahid ash-Shalihi, MTI Batu Hampar milik Syekh Muhammad Arifin al-Arsyadi, dll.[1]

Setelah kemunculan MTI-MTI di Sumatra Barat, pada tahun 1928 Inyiak Canduang mendirikan Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah untuk menghubungkan MTI-MTI tersebut. Sebelumnya, ulama-ulama Kaum Tua di Sumatra Tengah pernah berhimpun di dalam organisasi bernama Ittihad Ulama Sumatera yang didirikan oleh Syekh Muhammad Saad Mungka pada 1921.[2] Pada 19–20 Mei 1930, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli mengumpulkan ulama Kaum Tua untuk membicarakan masa depan MTI pada muktamar di Surau Tangah, Canduang. Di antara yang hadir dalam muktamar itu termasuk Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Arifin Batuhampar, Syekh Abdul Majid Koto Nan Gadang, Syekh Abdul Wahid as-Shalihi Tabek Gadang, Syekh Jalaluddin Sicincin, Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak, Tuanku Alwi Koto Nan Ampek, dan Syekh Muhammad Said Bonjol.[3]

Media massa yang pernah diterbitkan oleh Persatuan Tarbiyah Islamiyah
Nama Tempat Tahun
Majalah al-Mizan Bukittinggi 1930
Majalah Soearti Bukittinggi 1938
Majalah Inshaaf Suliki 1939
Majalah Super Jakarta 1951
Majalah Dewan Puteri Bengkawas 1952
Majalah al-Imam Jakarta 1955
Surat Kabar Nyiur Melambai Rengat 1955
Surat Kabar Harian Fajar Jakarta 1959
Surat Kabar Harian Jihad Jakarta/Palembang 1966
Majalah Sinar Tarbiyah Jakarta (PB Tarbiyah) 1970
Majalah Risalah Tarbiyah Jakarta (DPP Perti) 1970
Majalah B.O. Tarbiyah Jakarta (PB Tarbiyah) 1985
Sumber: Koto 2012[4]

Hasil muktamar di Bukittinggi menyepakati untuk mengubah Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah menjadi organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang dapat disebut dengan PTI sekaligus menetapkan tanggal 5 Mei 1928 sebagai hari lahirnya Persatuan Tarbiyah Islamiyah[5]. Dalam struktur pengurus, Sulthani Abdullah sebagai ketua pertama dan Ghazali P. Tanjung sebagai sekretaris. PTI saat itu berkantor pusat di Bukittinggi. Pada 1931, dalam rapat di Batuhampar, dilakukan pengalihan jabatan ketua dari Sulthani kepada Syekh Abdul Madjid Koto Nan Gadang dan jabatan sekretaris dari Ghazali kepada Syahruddin Marajo Dunia. Pada tahun berikutnya, berlangsung kongres di Koto Nan Ampek yang melahirkan keputusan untuk merubah nama organisasi menjadi Persatuan Pendidikan Islam Indonesia (PPII). Perubahan nama ini ditolak oleh ulama-ulama tua Persatuan Tarbiyah Islamiyah sehingga sempat menimbulkan fiksi di tubuh organisasi ditambah lagi karena memakai nama Indonesia, PPII dicurigai oleh pemerintah Hindia Belanda mengusung visi kemerdekaan Indonesia, sehingga beberapa pengurusnya dibuang ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonial Belanda.[6] Dinamika ini menyebabkan stagnasi organisasi hingga tahun 1934.[7]

Peristiwa di atas menyebabkan para pendiri, sesepuh dan aktivis muda Tarbiyah Islamiyah sepakat mengembalikan identitas dan nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah serta mengangkat Buya H. Hasan Basri sebagai Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Bersamaan dengan itu, Buya Rusli Abdul Wahid mengusulkan akronim PERTI sebagai sebutan dan singkatan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Upaya pengaktifan kembali Persatuan Tarbiyah Islamiyah ini sedikit tersendat dikarenakan Buya Hasan Basri akibat masalah kesehatan mengembalikan mandatnya sebagai ketua umum PERTI kepada kongres.

Setelahnya, kongres di Bukittinggi pada 11–16 Februari 1935 menetapkan Buya Sirajuddin Abbas sebagai Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Bersamaan dengan itu dirumuskan juga anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Persatuan Tarbiyah Islamiyah sekaligus mengesahkan akronim PERTI sebagai singkatan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Selanjutnya juga, PERTI menerbitkan majalah Soearti (Soeara Tarbijah Islamijah) sebagai kelanjutan dari majalah Al-Mizan.[8]

Perkembangan sebagai partai politikSunting

 
Lambang Partai Islam PERTI pada Pemilu 1955

Persatuan Tarbiyah Islamiyah awalnya ikut berjuang di kancah politik dengan bergabung dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI) menggunakan identitas Persatuan Pendidikan Islam Indonesia dan turut memberikan konsepsi kenegaraan kepada Komisi Visman pada tahun 1939. Memasuki tahun 1944, para pemimpin Persatuan Tarbiyah Islamiyah melakukan gebrakan dengan bergabung ke Majelis Islam Tinggi (MIT) di Bukittinggi, suatu organisasi Islam untuk seluruh Sumatra yang diketuai oleh Syekh Muhammad Djamil Djambek, seorang ulama modernis yang pada masa lalu sempat bersitegang dengan ulama tua Persatuan Tarbiyah Islamiyah. MIT merupakan tempat untuk merujuk persoalan-persoalan agama, tetapi selama Perang Pasifik, organisasi ini kurang dapat berfungsi dengan baik.[a]

Pada konferensi PERTI pada 22 November 1945, diputuskan Persatuan Tarbiyah Islamiyah akan memasuki area politik. Organisasi itu bertransformasi menjadi Partai Islam PERTI, persatuan dalam akronim PERTI juga berubah menjadi pergerakan. Perubahan ini dikukuhkan kembali pada kongres atau muktamar IV di Bukittinggi tanggal 24-26 Desember 1945. Sekaligus mengukuhkan Buya Sirajuddin Abbas yang sebelumnya merupakan ketua umum pengurus besar menjadi Ketua Dewan Partai Tertinggi (DPT) dan Buya Rusli Abdul Wahid menjadi Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP). Sementara itu, Maulana Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli ditetapkan sebagai Ketua Majelis Penasihat Pusat (MPP).[9] Pada 1950, Partai Islam PERTI mengklaim memiliki lebih dari satu juta anggota.[10][11]

Dalam Pemilihan Umum 1955, Partai Islam PERTI berhasil meraih 483.014 suara sehingga mendapatkan empat kursi DPR-RI dan tujuh kursi Konstituante. Setelah Konstituante dan DPR hasil Pemilu dibubarkan oleh Presiden Soekarno, Persatuan Tarbiyah Islamiyah mendapatkan dua kursi di DPR-GR. Dua tokoh pemimpin PERTI juga pernah dipercaya menjabat menteri negara pada masa pemerintahan Soekarno. Kedua ulama tersebut adalah Sirajuddin Abbas sebagai Menteri Keselamatan Negara RI dan Rusli Abdul Wahid sebagai Menteri Negara Urusan Umum dan Irian Barat.[9]

Pada 1 Mei 1965, Rusli Abdul Wahid mengambil secara penuh kepemimpinan Partai Islam PERTI serta mendapuk dirinya sebagai ketua umum (tanfidziyyah) sekaligus mengubah kembali kata pergerakan dalam akronim PERTI menjadi persatuan. Ia mengangkat dirinya sebagai Rais 'Aam Majelis Syura P.I. PERTI dan Buya Rusli Halil sebagai Ketua DPP P.I. PERTI. Transisi kepemimpinan ini menimbulkan sengketa di dalam Partai Islam PERTI antara kubu Rusli Abdul Wahid dengan kubu Siradjuddin Abbas. Perseteruan ini menyebabkan Syekh Sulaiman ar-Rasuli pada 1 Maret 1969 mengeluarkan seruan agar kembali ke Khittah 1928, yakni Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai organisasi pendidikan dan dakwah Islam yang nonpolitik. Walaupun seruan tersebut sudah disampaikan, namun perpecahan tetap tak terelakkan pada zaman Orde Baru.

Sirajuddin Abbas dan Baharuddin ar-Rasuli bersama pendukungnya membentuk kepengurusan sendiri dengan sebutan Tarbiyah yang kemudian berpolitik melalui Golkar. Baharuddin ar-Rasuli terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Tarbiyah. Di sisi lain, Partai Islam PERTI yang digawangi Rusli Abdul Wahid tetap ikut dalam Pemilihan Umum 1971 dan berhasil meraih 381.309 suara. Kubu yang tetap menggunakan akronim PERTI ini bersama beberapa partai Islam lainnya pada tahun 1973 berfusi menjadi PPP. Pada 26 Juni 1988, Ketua Umum DPP PERTI saat itu, Buya H. Nurulhuda, dengan restu rais 'aam Buya Rusli Abdul Wahid memutuskan untuk memisahkan PERTI dari dunia politik dan mengembalikannya menjadi organisasi keagamaan. [8]

Keadaan terkiniSunting

Islah antara kubu PERTI dengan kubu Tarbiyah baru tercapai melalui muktamar dan musyawarah nasional bersama di Jakarta pada 21-23 Oktober 2016.[12] Berdasarkan hasil muktamar, Buya Basri Bermanda selaku Ketua Umum PB Tarbiyah terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah, sedangkan Teungku Mohammad Faisal Amin selaku Ketua Umum DPP PERTI menjadi Wakil Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Selain itu, singkatan Persatuan Tarbiyah Islamiyah juga mengalami perubahan menjadi Tarbiyah-Perti.[8] Islah tingkat nasional ini merupakan lanjutan dari upaya islah yang telah dilakukan di Provinsi Sumatra Barat pada 14 Mei 2016 oleh Buya Boy Lestari dari PD Tarbiyah dan Buya Duski Samad dari DPD PERTI.[13] Lebih awal lagi, islah juga terlebih dahulu dilakukan di Kabupaten Aceh Barat Daya pada tahun 2003 oleh Syekh Teungku Muhammad Syam Marfaly dari PERTI dan Teungku Teuku Burhanuddin Sampe dari Tarbiyah.[14]

Basis massaSunting

Paham keagamaanSunting

Persatuan Tarbiyah Islamiyah dibentuk oleh alim ulama Kaum Tua yang secara ajaran masih satu haluan dengan organisasi Islam tradisionalis seperti Nahdlatul Ulama di Jawa. Tarbiyah-Perti dalam amaliah berpedoman kepada fikih Syafii, akidah Asy'ari, dan tasawuf Sunni dengan mengikuti tarekat-tarekat muktabar.[15][16] Sebagian besar anggota dan pendukung Tarbiyah-Perti mengikuti Naqsyabandiyah-Khalidiyah[17][18] dan selebihnya adalah pengikut tarekat lain seperti Syattariyah di Padang dan Pariaman, Sumatra Barat serta di Kuta Krueng dan Seulimeum, Aceh.[19][20]

PendidikanSunting

Penyangga utama Tarbiyah-Perti sebagai lembaga pendidikan Islam berada pada keberadaan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang berkembang sejak berdirinya MTI Canduang. Kurikulum MTI sebenarnya setaraf dengan kurikulum pesantren pada umumnya sehingga beberapa MTI kemudian mengganti sebutannya menjadi Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) atau Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah (PPTI) agar tidak dianggap sebagai sekadar madrasah dalam pengertian Kementerian Agama.[21] Pada 1939, tidak kurang dari 400 MTI didirikan di seluruh Hindia Belanda dengan jangkauan terjauh sampai ke Lamakera, Nusa Tenggara Timur. Dalam perkembangannya, beberapa MTI juga didirikan di luar negeri diantaranya MTI Sungai Burung, Balik Pulau, Pulau Pinang, Malaysia dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Diniyyah Al Irsyadiyah, Kampong Acheh, Yan, Kedah, Malaysia. Pada masa reformasi, MTI masih menerima banyak murid walau jumlah MTI di seluruh Indonesia mengalami penurunan.[22] Kurikulum MTI pada masa awal adalah murni kajian kitab kuning sebelum akhirnya ditambah dengan pelajaran umum pada sekitar 1950-1960.[23]

Pada 26 Januari 1969, Persatuan Tarbiyah Islamiyah mendirikan Universitas Ahlussunnah (UNAS) di Bukittinggi dengan rektor pertamanya adalah Buya Ma'ana Hasnutiy, Lc, MA. Saat itu UNAS hanya mempunyai satu fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah. Kini kelanjutan perguruan tinggi tersebut dikenal sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Ahlussunnah Bukittinggi. Pada 10 April 1997, didirikan juga Sekolah Tinggi Agama Islam Yayasan Tarbiyah Islamiyah (STAI YASTIS) Padang.[24]

Daerah persebaranSunting

Persatuan Tarbiyah Islamiyah terbentuk di Sumatra Barat, kemudian tersebar ke beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Riau, Jambi, dan Bengkulu.

Jaringan Tarbiyah-Perti di Sumatra Barat terdiri dari sejumlah MTI, PPTI, atau pondok pesantren yang sealiran. Beberapa MTI yang masih menerima santri dalam jumlah besar antara lain MTI Candung, MTI Batang Kabung, dan MTI Pasir. Selain MTI dan PPTI, ada beberapa pondok pesantren yang tak menyandang sebutan Tarbiyah Islamiyah tetapi masih memiliki kaitan keilmuan dengan alim ulama Tarbiyah-Perti, seperti Pondok Pesantren Nurul Yaqin yang didirikan oleh Syekh Ali Imran Hasan (lulusan PPTI Malalo) pada 1960 di Ringan-Ringan[25] dan Pondok Pesantren Ashhabul Yamin yang didirikan oleh Buya Zamzami Yunus (lulusan MTI Canduang) pada 1992 di Lasi Tuo.[26]

Di Aceh, perkembangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah tidak terlepas dari peran Syekh Muhammad Waly gelar Abuya Muda Waly, ulama terkenal Aceh yang membuka cabang pertama di Labuhan Haji pada 15 Mei 1942. Pada tahun yang sama Abuya Muda Wali mendirikan Dayah Darussalam Labuhan Haji yang kemudian mencetak beberapa ulama ternama Aceh dengan jaringan lulusannya mencakup sebagian besar dayah di Aceh.[27][28]

Persatuan Tarbiyah Islamiyah masuk ke Riau melalui Kampar atas dorongan Syekh Abdul Gani, ulama Naqsyabandiyah terkemuka di XIII Koto Kampar. Buya Aidarus Gani, putra Syekh Abdul Gani dan murid Abuya Muda Waly, mendirikan MTI Batu Bersurat (kini Pondok Pesantren Darussalam Saran Kabun) pada 1956 yang beberapa lulusannya menjadi pendiri pesantren di Riau.[29]

OrganisasiSunting

 
Kantor Sekretariat Pimpinan Daerah Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sumatra Barat

Struktur organisasiSunting

Struktur organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah menurut anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang disempurnakan pada muktamar 2016 ialah sebagai berikut.[30]

  • Pimpinan Pusat (PP) untuk tingkat nasional.
  • Pimpinan Daerah (PD) untuk tingkat provinsi.
  • Pimpinan Cabang (PC) untuk tingkat kabupaten atau kota.
  • Pengurus Anak Cabang (PAC) untuk tingkat kecamatan.
  • Pengurus Ranting (PR) untuk tingkat desa, kelurahan, nagari, mukim, atau sebagainya.

Tiap kepengurusan diganti setiap lima tahun melalui muktamar atau musyawarah. Setiap tingkatan selain PR terdiri dari komposisi berikut.[30]

  • Majelis Pembina
  • Majelis Mustasyar
  • Majelis Ifta'
  • Majelis Pakar
  • Pengurus Harian

PP Tarbiyah-Perti memiliki 17 (tujuh belas) departemen dengan bidang-bidang berikut.[31]

  • Departemen Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan
  • Departemen Tasawuf dan Tarekat
  • Departemen Dakwah dan Penerangan
  • Departemen Hukum dan HAM
  • Departemen Informasi, Komunikasi, dan Penerbitan
  • Departemen Kerja Sama Luar Negeri
  • Departemen Pendidikan dan Pengembangan SDM
  • Departemen Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan
  • Departemen Wanita dan Kesejahteraan Keluarga
  • Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat
  • Departemen Ekonomi dan Koperasi
  • Departemen Seni dan Budaya
  • Departemen Lingkungan Hidup dan Perkebunan
  • Departemen Pertanian dan Kelautan
  • Departemen Tanggap Darurat
  • Departemen Kesehatan
  • Departemen Sumber Daya Manusia

Organisasi serumpunSunting

Setelah Muktamar Islah pada 2016, beberapa onderbouw Tarbiyah-Perti yang masih terpisah menurut afiliasi lamanya mulai digabungkan melalui beberapa rapat kerja nasional.[32] Sampai 2021, organisasi-organisasi serumpun Tarbiyah-Perti mencakup:[33]

  • Perwati-Wanita Perti (Persatuan Wanita Tarbiyah Islamiyah)
  • IPTI-PI (Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah & Pemuda Islam/Pemuda Perti)
  • IMTI-KMI (Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah & Kesatuan Mahasiswa Islam)
  • OSTI-OPI (Organisasi Siswa Tarbiyah Islamiyah & Organisasi Pelajar Islam)

Pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia, Persatuan Tarbiyah Islamiyah memiliki beberapa onderbouw lain seperti Lasykar Muslimin Indonesia (Lasymi), Lasykar Muslimat, Gerakan Buruh Muslimin Indonesia (Gerbumi), Gerakan Tani Muslimin Indonesia (Gertami), Lembaga Kebudayaan dan Seni Islam (LEKSI), dan Kepanduan al-Anshar. Selain itu, Persatuan Tarbiyah Islamiyah juga pernah membentuk Persatuan Murid Tarbiyah Islamiyah (PMTI), Ikatan Sarjana Tarbiyah Islamiyah (ISTI), Lembaga Bantuan Hukum Persatuan Tarbiyah Islamiyah (LBH PERTI), Lembaga Zakat, Infaq, Sadaqah, dan Wakaf Persatuan Tarbiyah Islamiyah (LAZISWAFTI) serta Organisasi Serba Guna Persatuan Tarbiyah Islamiyah (SERGAP).[34][8][35]

TokohSunting

Berikut beberapa tokoh Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

 
Buya H. Abdul Somad, Wakil Ketua Majelis Ifta' Daerah Tarbiyah-Perti Riau (2017-sekarang)

Sumatra Barat

Aceh

Riau

Bengkulu

Jambi

Sulawesi Selatan

Lihat pulaSunting

Catatan kakiSunting

Keterangan

  1. ^ Pada bulan Desember 1945, MIT bertransformasi menjadi Masyumi cabang Sumatra sehubungan dengan edaran pemerintah sebelumnya agar rakyat mendirikan partai politik sebagai cermin pelaksanaan demokrasi.

Rujukan

  1. ^ Koto 2012, hlm. 29-31.
  2. ^ Koto 2012, hlm. 30.
  3. ^ Koto 2012, hlm. 32.
  4. ^ Koto 2012, hlm. 108-109.
  5. ^ Nawafil, Rozal (28 April 2021). "5 Mei, Hari Pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyah)". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 11 Mei 2022. 
  6. ^ el-Badri, Muhammad Yusuf (10 November 2020). "Narasi Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 11 Mei 2022. 
  7. ^ Koto 2012, hlm. 33-34.
  8. ^ a b c d Nawafil, Rozal (24 Februari 2021). "Pasang-Surut PERTI di Pusaran Situasi Sosial-Politik". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 24 Maret 2022. 
  9. ^ a b "Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti)". wawasansejarah.com. Diakses tanggal 24 Desember 2016. 
  10. ^ Kementerian Penerangan RI 1951, hlm. 72-73.
  11. ^ Cribb & Kahin 2004, hlm. 340.
  12. ^ "Tarbiyah Perti Menyelesaikan Munas dan Muktamar Islah". SINDONews. 24 Oktober 2016. Diakses tanggal 25 Oktober 2021. 
  13. ^ "Warga Tarbiah Islamiah Sumbar, Desak Perti dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah Islah Secara Nasional". GoRiau. 14 Mei 2016. Diakses tanggal 10 November 2021. 
  14. ^ "Sejarah Tarbiyah-Perti". PC Tarbiyah-Perti Abdya. (31 Juli 2021). Diakses tanggal 10 Mei 2022. 
  15. ^ Persatuan Tarbiyah Islamiyah 2016, hlm. 28.
  16. ^ Koto 2012, hlm. 27-28.
  17. ^ van Bruinessen 1990, hlm. 174-176.
  18. ^ Putra, Apria (14 Oktober 2019). "Tarekat Naqsyabandiyah dan Konferensi di Bukittinggi Tahun 1954". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 4 Mei 2022. 
  19. ^ Fathurrahman 2008, hlm. 116-118.
  20. ^ Samad 2020, hlm. 16-20.
  21. ^ "Profil PPTI Malalo". Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Malalo. 23 Januari 2015. Diakses tanggal 4 Mei 2022. 
  22. ^ Kosim 2013, hlm. 22-23.
  23. ^ Masrial, Nasir & Nurdin 2010, hlm. 36-37.
  24. ^ Koto 2012, hlm. 9.
  25. ^ "Sejarah Singkat Pondok Pesantren". Pondok Pesantren Nurul Yaqin. Diakses tanggal 4 Mei 2022. 
  26. ^ "Buya Zamzami, Ulama dari Nagari Lasi". Dunia Santri. 28 November 2020. Diakses tanggal 4 Mei 2022. 
  27. ^ "Ponpes Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan (1): Mencetak Segudang Ulama". Serambi News. 24 Agustus 2011. Diakses tanggal 4 Mei 2022. 
  28. ^ el-Sakandary, Nurkhalis M. (1 Juni 2020). "Syekh Muda Waly: Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Kontemporer". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 4 Mei 2022. 
  29. ^ Arifin, Johar (24 Oktober 2020). "Kaum Santri dari Kampar: "Sempena Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2020"". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 4 Mei 2022. 
  30. ^ a b Persatuan Tarbiyah Islamiyah 2016, hlm. 6-7.
  31. ^ Persatuan Tarbiyah Islamiyah 2016, hlm. 13.
  32. ^ Hidayatullah, Muhammad (22 Juni 2021). "Rakernas II Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-Perti) dan Deklarasi Penggabungan/Penyatuan IMTI dan KMI, IPTI dan PI". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 26 Oktober 2021. 
  33. ^ "Bersatu Majukan Ummat, Tarbiyah-Perti Gelar Rakernas ke II". Nukilan.id. 20 Juni 2021. Diakses tanggal 26 Oktober 2021. 
  34. ^ "Anggaran Dasar Perti". Persatuan Tarbiyah Islamiyah ( Perti ). 1 Maret 2022. Diakses tanggal 10 Mei 2022. 
  35. ^ Trinanda, Desip (18 Juni 2015). "Strategi Kaum Tuo dan Gejolak Kaum Mudo". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 24 Maret 2022. 

Daftar pustaka

Pranala luarSunting