Buka menu utama

Tampubolon adalah salah satu marga Batak yang berasal dari sub-suku Toba. Tampubolon adalah marga yang dipakai oleh keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) hingga saat ini. Marga Tampubolon berasal dari daerah Balige, Kabupaten Toba Samosir.

Marga Tampubolon
Tugu Tuan Sihubil & Sapala Tua Tampuk Nabolon 02.jpg
Tugu Tuan Sihubil & Sapala Tua Tampuk Nabolon di Sibolahotang, Balige, Toba Samosir
Aksara Batakᯖᯔ᯲ᯇᯮᯅᯬᯞᯬᯉ᯲
(Surat Batak Toba)
Nama MargaTampubolon
Nama/
Pengejaan
Alternatif
TPBL
Tampu Bolon
Tp. Bolon
Artitampuk + (na) + bolon
Tangkai daun atau buah (yang) besar
Silsilah
Jarak
generasi
dengan
Siraja Batak
1Siraja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadibanua
(Nai Suanon)
5Sibagot Ni Pohan
6Tuan Sihubil
7Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon
(Tampubolon)
Nama Lengkap
Tokoh
Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon
(Tampubolon)
Nama Istribr. Sitorus
Nama Anak1. Raja Mataniari
2. Raja Niapul
3. Raja Siboro
Kekerabatan
Induk MargaTuan Sihubil
Persatuan
Marga
Tuan Sihubil
Kerabat
Marga
(Dongan Tubu)
Silalahi (adik angkat)
Sub-Marga/
Cabang Marga
Baringbing
Silaen
TurunanSibolahotang
Sitampulak
Ulubalang Hobol
Sitanduk
Sibulele
Lumban Atas
Mata ni Ari
Binsar
Sitorus
PadanSitompul
Asal
SukuToba
Sub-SukuToba Holbung
Kampung
Asal
Kec. Balige
Kawasan
Marga
Kec. Balige
Kec. Silaen
Kec. Sipahutar


EtimologiSunting

Nama Tampubolon dalam Bahasa Batak Toba secara harfiah merujuk kepada kata tampuk dan bolon yang memiliki arti tangkai daun atau buah (yang) besar. Hal tersebut mengacu kepada:

  • Kata tampuk dalam bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai tangkai daun atau buah,
  • Kata Bolon dalam bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai besar maupun agung.

TaromboSunting

Berikut merupakan tarombo (silsilah) keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon):

Tuan Sihubil
Raja Sapala Tua Tampuk NabolonRaja Bungabunga /
Raja Parmahan (Silalahi)
(Anak angkat)
Raja MataniariRaja NiapulRaja Siboro
Ompu Rudang NabolonOmpu Sidomdom
(Baringbing)
Simangan Didalan
(Baringbing)
Ginjang Niporhas
(Baringbing)
Sondiraja
(Silaen)
Badiaraja
(Sitompul)
Alang Pardosi
(Pohan di Barus)
Raja Unduk
(Karokaro Barus)
Tuan SumandarRaja SitandukRaja Martakhuluk
(Sibulele)
Sariburaja
(Lumban Atas)
Raja SihajutUlubalang Hobol
Raja Marburak
(Sibolahotang)
Raja Pangahut
(Sitampulak)


Menurut silsilah garis keturunan Suku Batak (tarombo), Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) adalah generasi ketujuh dari Siraja Batak dan anak pertama dari Tuan Sihubil.

Dalam perkembangannya, Keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) mengklasifikasikan diri ke dalam dua marga dan enam kelompok:

Salah satu cucu dari Tampubolon yaitu Badiaraja merantau ke arah selatan tepatnya di kawasan Silindung dan mengasuh keturunan Raja Toga Sitompul, kelak di mana seluruh keturunan Badiaraja juga menggunakan marga Sitompul.

Dua cucu dari Tampubolon (Alang Pardosi dan Raja Unduk) juga merantau ke wilayah Barus, Tapanuli Tengah dan menggunakan marga kakek buyutnya yaitu Pohan. Keturunan Raja Unduk juga dipercayai sebagai pengguna marga Karokaro Barus hingga saat ini.

Raja MataniariSunting

Raja Mataniari memperoleh delapan putra melalui pernikahan dengan tiga istrinya. Ketiga istri tersebut adalah: br. Hinalang, br. Sitorus, dan br. Borbor.

Pernikahan dengan br. HinalangSunting

Pernikahan Raja Mataniari pertama dengan br. Hinalang memperoleh empat putra yaitu:

  • Ompu Rudang Nabolon
  • Ompu Sidomdom
  • Simangan Dalan
  • Ginjang Niporhas

Dari keempat putra tersebut hanya tiga yang menghasilkan keturunan, di mana dewasa ini semua keturunan tersebut cenderung menggunakan marga Baringbing.

Ompu Rudang NabolonSunting

Ompu Rudang Nabolon dipercayai sebagai seorang yang sakti di kala masih hidup. Ompu Rudang Nabolon tidak menikah sehingga tidak memiliki keturunan.

Ompu Sidomdom, Simangan Dalan, & Ginjang Niporhas (Baringbing)Sunting

Dewasa ini, keturunan dari tiga anak Raja Mataniari (Ompu Sidomdom, Simangan Dalan, dan Ginjang Niporhas) cenderung menggunakan marga Baringbing pada nama mereka. Hal tersebut bermula dari tradisi menggunakan balung/jengger ayam jantan (dalam Bahasa Batak Toba: baringbing) di tengah tanduk kerbau sebagai penghias di bagian depan atas rumah. Penggunaan marga Baringbing masih belum lazim dipraktekkan sebelum paruh kedua abad ke 20, kala itu hanya sebagian kalangan yang menggunakan marga tersebut, maupun menyematkan kedua marga seperti Tampubolon Baringbing. Namun memasuki paruh paruh kedua abad ke 20 hingga dewasa ini penggunaan marga Baringbing kian semarak dilakukan oleh ketiga keturunan anak Raja Mataniari tersebut.

Pernikahan dengan br. SitorusSunting

Pernikahan Raja Mataniari kedua dengan br. Sitorus memperoleh dua putra yaitu:

  • Sondiraja
  • Badiaraja
Sondiraja (Silaen)Sunting

Keturunan Sondiraja dewasa ini menggunakan marga Silaen.

BadiarajaSunting

Badiaraja merantau ke kawasan Silindung dan di sana dia mengasuh keturunan Raja Toga Sitompul, kelak seluruh keturunan Badiaraja juga menggunakan marga Sitompul.

Pernikahan dengan br. BorborSunting

Di masa tua Raja Mataniari pergi ke daerah Barus dan menikah dengan br. Borbor. Melalui pernikahan ketiga tersebut, Raja Mataniari memperoleh dua putra yaitu:

  • Alang Pardosi
  • Raja Unduk
Alang PardosiSunting

Keturunan Alang Pardosi menggunakan marga persatuan keturunan kakek buyutnya yaitu Pohan, bersama dengan keturunan Sibagot Ni Pohan lainnya yang telah terlebih dulu bermukim di Barus. Dengan demikian marga Pohan yang ada di Barus tidak seluruhnya merupakan keturunan langsung dari Alang Pardosi.

Alang Pardosi juga diyakini sebagai raja yang memerintah di Kerajaan Barus.

Raja UndukSunting

Keturunan Raja Unduk dipercaya berkelana dari Barus menuju Tanah Karo dan membuka kampung di Barusjahe. Keturunannya juga dipercayai sebagai Suku Karo yang menggunaka marga Karokaro Barus dewasa ini.

Raja NiapulSunting

Raja Niapul memperoleh dua putra melalui pernikahan dengan istrinya br. Sitorus Pane, yaitu:

  • Tuan Sumandar
  • Raja Sitanduk

Tuan SumandarSunting

Tuan Sumandar memperoleh dua putra melalui pernikahan dengan istrinya br. Sitorus Pane, yaitu:

  • Raja Sihajut
  • Ulubalang Hobol
Raja SihajutSunting

Tuan Sumandar memperoleh dua putra, yaitu:

  • Raja Marburak (keturunannya disebut sebagai Tampubolon Sibolahotang)
  • Raja Pangahut (keturunannya disebut sebagai Tampubolon Sitampulak)

Raja SiboroSunting

Raja Siboro memperoleh dua putra melalui pernikahan dengan dua istrinya br. Sitorus dan br. Nainggolan, yaitu:

  • Raja Martakhuluk (keturunannya disebut sebagai Tampubolon Sibulele)
  • Sariburaja (keturunannya disebut sebagai Tampubolon Lumban Atas)

KekerabatanSunting

Seluruh keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) memiliki hubungan erat dengan satu sama lain; mereka memegang teguh ikatan persaudaraan untuk tidak menikah antar satu dengan yang lain.

Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) menikah dengan br. Sitorus, oleh sebab itu Hulahula (mataniari binsar) dari seluruh marga Tampubolon adalah marga Sitorus.

Kekerabatan dengan marga SilalahiSunting

Marga Tampubolon memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan marga Silalahi dikarenakan Raja Bungabunga / Raja Parmahan Silalahi yang merupakan cucu dari Raja Silahisabungan telah diangkat oleh Tuan Sihubil sebagai anak angkat dan menjadikannya sebagai adik dari Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon). Oleh sebab itu keturunan dari Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) dan Raja Bungabunga / Raja Parmahan Silalahi memegang teguh persaudaraan tersebut hingga saat ini.

Kekerabatan dengan marga SitompulSunting

Marga Tampubolon juga memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Sitompul. Hubungan tersebut menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) bermula ketika Badiaraja (cucu Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon/Anak Raja Mataniari) memiliki konflik dengan saudaranya Sondiraja sehingga menyebabkan Badiaraja pergi meninggalkan kampung asalnya Balige ke arah selatan tepatnya di kawasan Silindung. Di sana Badiaraja dengan menggunakan nama Raja Somundur berhasil membunuh Babi Hutan yang telah menewaskan Ompu Hobolbatu, yakni cicit tunggal Raja Sitompul. Badiaraja kemudian direstui oleh ibu Ompu Hobolbatu sebagai pewaris harta peninggalan oleh Ompu Hobolbatu beserta kedua istri Ompu Hobolbatu yang tengah mengandung. Badiaraja juga berikrar akan menganggap dirinya sebagai pengganti Ompu Hobolbatu dan keturunannyapun akan menggunakan marga Sitompul. Kedua istri Ompu Hobolbatu yang telah menjadi Istri Badiaraja kemudian melahirkan masing-masing satu anak yang dibuahi oleh Ompu Hobolbatu, dan setelah menikah dengan Badiaraja kembali mengandung dan juga melahirkan masing-masing satu anak bagi Badiaraja. Keempat anak tersebut adalah:

  1. Raja Imbang Suhunu (Sitompul Lumbantoruan) - anak Ompu Hobolbatu
  2. Raja Martanggabatu (Sitompul Lumbandolok) - anak Ompu Hobolbatu
  3. Sabuk Nabegu (Sitompul Siringkiron) - anak Badiaraja
  4. Raja Tandang Lintong (Sitmpul Sibangebange) - anak Badiaraja

Namun sesuai dengan ikrar Badiaraja yang berjanji akan menjadi pengganti Ompu Hobolbatu, keempat anak tersebut beserta seluruh keturunannya menggunakan marga Sitompul. Semasa hidupnya juga Badiaraja berpesan kepada keempat anaknya Badia Raja agar menjunjung tinggi marga Sitompul, dan tidak membedabedakan yang mana sebenarnya berdarah Sitompul dan yang mana berdarah Tampubolon.

Di masa tuanya, Badiaraja berdamai dengan Sondiraja dan mereka mengadakan tanda persaudaraan dengan makan dan menggigit bersama perut (boltok) daging babi. Sejak saat itu hingga sekarang ini hubungan kekerabatan antara marga Tampubolon dan Marga Sitompul dipegang teguh oleh keturunan kedua marga, dan juga disebut hubungan kedua marga tersebut sebagai marsaboltok atau satu perut Bahasa Batak Toba.

Tokoh Marga TampubolonSunting

Beberapa tokoh bermarga Tampubolon:

Beberapa tokoh marga Tampubolon yang menggunakan marga Baringbing dan Silaen:

SumberSunting

  • Hutagalung, W.M. (1991), Pustaha Batak Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak, hlm. 223–225 
  • Siahaan, Amanihut N.; Pardede, H. (1957), Sejarah perkembangan Marga - Marga Batak 
  • Radjagukguk, Bostang (2014), Sitompul, hlm. 9–11 

Pranala luarSunting